Oleh : Epi Lisnawati, SP, MPd
Ada rasa sesak yang menyeruak, saat Kementerian Kesehatan merilis data tentang kasus HIV pada remaja. Dinas Kesehatan Pemkab Sidoarjo mencatat sebanyak 7.230 orang hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 522 orang merupakan pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA.
(kumparannews.com, 24 Juli 2026)
Fenomena ini tentu bukan cuma milik Sidoarjo, ia adalah cermin retak yang memantulkan kondisi remaja di berbagai sudut daerah di tanah air. Namun, yang sering kali membingungkan adalah bagaimana cara kita menyikapi lonjakan angka tersebut.
Saat data memperlihatkan kenyataan yang mengiris hati, tanggapan pejabat publik justru terkesan normatif dan cenderung memperhalus keadaan. Pernyataan bahwa peningkatan kasus terjadi karena semakin efektifnya upaya deteksi dini dan luasnya cakupan tes memang ini merupakan logika yang keliru.
Logika keliru ini menjadikan kita terjebak dalam bentuk gagal paham yang berbahaya. Menghibur diri dengan pencapaian "deteksi dini" tidak menghapuskan fakta pahit bahwa penularan itu nyata, masif, dan tengah menggerogoti generasi muda kita.
Ketika problem ini kian menyeruak, tawaran solusi yang digulirkan para tokoh dan pejabat daerah pun terkesan berulang dan berputar di tempat. Pendidikan seksual sejak dini kerap dielu-elukan sebagai "obat mujarab" untuk membentengi remaja dari perilaku berisiko.
Solusi pragmatis ala kapitalis dengan edukasi seksual yang selama ini diterapkan terbukti tumpul dan tak menyelesaikan masalah. Edukasi tersebut umumnya hanya fokus pada dampak kesehatan medis semata, seperti himbauan safe sex, pengenalan alat kontrasepsi, atau sekadar pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan. Solusi seperti ini malah membuka celah bagi normalisasi pergaulan bebas.
Mengobati gejala tanpa mencabut akarnya sama saja dengan menyiram air ke daun yang mengering akibat akarnya digerogoti hama. Lantas, di manakah akar masalah yang sebenarnya?
Jika ditelisik secara mendalam lonjakan kasus HIV pada remaja adalah buah dari rusaknya sistem kehidupan akibat diterapkannya sistem sekuler-kapitalistik di tengah-tengah masyarakat.
Sistem sekuler ini pelan tapi pasti menjauhkan agama dari dinamika kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan para remaja kehilangan pegangan hidup, dan akibatnya terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
Atas nama kebebasan individu, batas-batas agama dikikis. Media, hiburan, hingga lingkungan pergaulan membombardir benak remaja kita dengan narasi kebebasan tanpa batas.
Ketika benteng keimanan diruntuhkan dan aturan agama dianggap asing, perilaku hidup bebas menjadi hal yang lazim. Dari sinilah pintu menuju berbagai kerusakan dan ancaman kesehatan fisik, termasuk penularan HIV terbuka lebar.
Jika kita sungguh-sungguh ingin menyelamatkan anak-anak kita, kita membutuhkan paradigma baru yang solutif, fundamental, dan sistemik. Islam menyodorkan tawaran solusi preventif yang menyeluruh.
Dalam sistem pergaulan Islam (Nizam Al-Ijtima'i ) tidak menunggu sampai seseorang terinfeksi baru sibuk mengobati, melainkan membangun benteng pencegahan sejak awal dengan keimanan. Kemudian saat anak-anak menjelang baligh atau fase mumayyiz diberikan pemahaman tentang aturan pergaulan dalam Islam.
Aturan pergaulan dalam Islam yaitu menjaga pandangan (gadhul bashar), larangan mendekati zina, kewajiban menutup aurat dengan pakaian syar’i, larangan berkhalwat, menjaga kesucian diri, dan pengaturan pernikahan. Ditambah lagi dengan penerapan sanksi hukum yang tegas bagi pelanggar, sistem ini bekerja efektif meminimalkan celah terjadinya pelanggaran terhadap hukum syara.
Di sektor pendidikan, ada integrasi yang utuh antara pemahaman kesehatan reproduksi dengan ilmu fiqih pergaulan. Remaja tidak boleh hanya diajari fungsi organ biologisnya secara mekanis, tetapi juga dibimbing untuk memahami bahwa menjaga kesehatan tubuh dan kehormatan diri adalah bagian dari amanah Ilahi dan bentuk ibadah.
Dengan begitu, muncul kesadaran dalam diri anak bahwa setiap tindakannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Amal baik akan dibalas dengan kebaikan dan amal buruk akan dibalas dengan keburukan. Maka anak-anak akan berhati-hati dalam bertindak dan berucap.
Untuk mewujudkan generasi yang selamat dari ancaman pergaulan bebas dan HIV ini diperlukan sinergi tiga pilar yaitu, pertama, keluarga sebagai madrasah pertama yang menyemaikan ketakwaan, kasih sayang, dan pengawasan berlandaskan Islam.
Kedua, masyarakat dan sekolah sebagai lingkungan terdekat yang menghidupkan budaya saling menasihati (amar ma'ruf nahi munkar) dan menolak pergaulan yang merusak.
Ketiga, negara sebagai perisai yang menerapkan kebijakan sistemik, mengontrol tayangan media yang merusak generasi, serta memfasilitasi sistem pendidikan dan hukum yang melindungi rakyatnya.
Maka sudah saatnya kita berhenti dari solusi pragmatis setengah hati yang merusak generasi, kemudian beralih kepada solusi yang menyentuh akar masalah, yaitu menerapkan sistem Islam dalam kehidupan secara kaffah. Alhasil dalam sistem Islam sajalah masalah HIV dapat diberantas secara tuntas dan generasi terjaga dari segala kemaksiatan yang menghantarkan pada kehancuran.
Wallahualam Bishawwab
Tags
Opini