Satu Juta Sarjana Nganggur, Siapa yang Salah?

Oleh : Dahlia

Miris, satu juta lebih sarjana nganggur. 
Data BPS 2025-2026 menunjukan pengangguran lulusan D4/S1 masih tinggi.  
Lapangan kerja yang ada tidak sesuai jurusan, gajinya UMR, atau butuh "orang dalam".  
Di sisi lain, perusahaan teriak "kurang SDM berkualitas". Bagaimana ini? 
Faktanya: banyak lulusan, tapi sedikit lapangan pekerjaan yang layak.

Kenapa bisa begini?  
Karena sistem kita hari ini adalah kapitalisme. Pendidikan dijadikan komoditas. Kampus kejar target mahasiswa, bukan kejar target umat butuh apa.  
Lulusannya dicetak untuk jadi "karyawan", bukan "pemecah masalah umat".  
Lapangan kerja juga ditentukan investor. Kalau investor pergi, PHK. Kalau ekonomi lesu, rekrutmen tutup.  
Hasilnya? Kita disuruh "kreativitas" dan "entrepreneur" sendirian, tanpa sistem yang membantu. 
Jadi yang tanggung jawab? Sistemnya. Bukan anaknya yang kurang usaha.

Islam punya konsep berbeda.
Dalam Islam, negara itu raa'in (pengurus urusan rakyat). Bukan penonton.  
Khalifah Umar bin Khattab dulu memastikan tidak ada satu orang pun menganggur di Madinah.

Solusinya adalah:
1. Pendidikan berbasis kebutuhan umat. Jurusan teknik, pertanian, kedokteran, syariah dibuka sesuai kebutuhan negara. Bukan asal buka karena "laku di pasar".
2. Negara buka lapangan kerja produktif. BUMN, infrastruktur, riset, industri halal digerakin negara. Bukan nunggu investor asing. Jadi 1 juta sarjana ini langsung diserap buat bangun peradaban.
3. Ekonomi tanpa riba dan monopoli. Biar UMKM naik kelas, modal gampang, tidak dijajah utang bank. Sarjana bisa buka usaha nyata, bukan hanya jualan online sambil berharap.
4. Tujuan hidup jelas : Kerja bukan hanya cari gaji, tapi buat ibadah dan mengurus umat. Agar tak terjadi mental health issue pas nganggur.

Intinya: Masalah pengangguran itu masalah sistem.
Kalau sistemnya Islam, insyaAllah tidak ada istilah "sarjana nganggur". Yang ada "sarjana yang disiapin buat jadi pemimpin".

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak