Sikap Nirempati pada Sistem Kesehatan Kapitalis


Oleh Heli Setiyawati

Unggahan di Threads dari Yurizal pasien BPJS kesehatan yang mengeluhkan belum mendapat ruang rawat inap, meskipun telah menunggu selama 8 jam viral di media sosial. Beragam komentar termasuk sejumlah akun yang diduga milik dokter dan nakes dinilai tidak menunjukkan sikap empati atau merundung pasien.

Adanya oknum tenaga kesehatan yang menunjukkan sikap kerja tidak profesional karena mencibir pasien BPJS dari dokter dan nakes dengan sikap nirempati merupakan cacat kepribadian dalam syakhsiyah Islam. Oknum nakes tersebut sangat memalukan dan mencoreng nama baik citra profesi yang mulia, yang seharusnya menunjukkan sikap empati terhadap pasien sebagai nilai-nilai dari etik profesi yang dijunjung tinggi.

Pasien BPJS menunggu terlalu lama untuk mendapatkan ruang perawatan adalah bukti sistem kesehatan yang rusak dan deskriminatif, membeda-bedakan pasien dari strata sosial dan penjaminan umum asuransi atau BPJS. Sikap nirempati ini melanggar sumpah profesi yang diucapkan nakes untuk melayani pasien dengan sepenuh hati. 

Jaminan kesehatan yang seharusnya ditanggung oleh pemerintah secara merata diseluruh negeri, pada sistem kapitalisme justru dibebankan kepada pasien. Fasilitas dan kecepatan pelayanan kesehatan tergantung pada objek bisnis yaitu kemampuan pasien dalam membayar jasa kesehatan yang diterimanya. Hal ini tidak luput dari sistem kapitalis yang hanya mencari keuntungan semata bukan sekedar menjalankan tugas dan fungsinya sebagai tenaga kesehatan profesional dalam sesuai bidang keahliannya untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat yang membutuhkan.

Kepribadian yang cacat menunjukkan sikap nirempati lahir dari pola pikir dan pola sikap yang tidak islami. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan hari ini gagal menciptakan generasi dengan karakter kepribadian islami. Walaupun pendidikan tinggi akan tetapi oknum tenaga kesehatan tidak mampu menunjukkan sikap yang empati caring terhadap pasien.

Kapitalisme pada sistem kesehatan sekuler jelas merugikan rakyat kecil, melahirkan pelayanan di fasilitas kesehatan dengan sikap nirempati karena itu penting untuk merubah paradigma sistem jaminan kesehatan yang islami.

Pada sistem kesehatan Islam, merupakan hak dasar dari setiap rakyat yang harus dipenuhi oleh negara, pembiayaan dan jaminan kesehatan untuk rakyat ditanggung oleh negara, dana kesehatan akan dikeluarkan melalui baitul mal yang dananya bersumber dari pengelolaan kepemilikan umum. Peran negara sangat dominan sebagai pengurus rakyat, tidak membiarkan rakyatnya menderita tidak memperoleh layanan kesehatan yang baik secara profesional dari tenaga kesehatan di seluruh fasilitas kesehatan.

Pelayanan kesehatan dan pengabdian tenaga kesehatan pada masa khilafah berpusat pada lembaga Bimaristan yaitu rumah sakit umum dan tempat perawatan medis modern pertama dalam sejarah peradaban islam. Obat-obatan disediakan, dan dokter diberikan pendidikan kedokteran secara gratis. Negara memegang tanggung jawab penuh atas pembiayaan fasilitas alat medis, gaji tenaga kesehatan serta pengembangan riset dan farmasi demi kesejahteraan seluruh rakyat tanpa memandang status sosial dan tidak membeda-bedakan pasien, memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif dengan sikap etik profesi yang baik.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak