Yus. Pasien BPJS. Ia tidak meninggal karena penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan. Ia meninggal karena sistem kita yang membunuhnya pelan-pelan.
Faktanya: Yus dirawat di ruang rapat. Bukan di kamar. Lantai jadi alas. Kursi jadi sandaran infus. Ia menahan sakit sambil menunggu kamar yang tak kunjung ada. Saat ia bersuara di media sosial, apa yang ia dapat? Bukan pertolongan. Bukan empati. Ia malah dibully tenaga kesehatan. "Banyak nuntut". "Kalau mau cepat bayar umum". Kalimat itu lebih sakit dari jarum infus.
Dan akhirnya Yus gagal tertolong. Nama BPJS ada di kartunya. Tapi rasa manusiawi tidak ada di pelayanan yang ia terima.
Ini bukan kasus tunggal. Ini borok. Di banyak rumah sakit, pasien BPJS sudah dianggap "kelas dua" sejak di pintu pendaftaran. Disuruh antri paling belakang. Ditidurkan di lorong. Dibiarkan berjam-jam. Ditatap sinis.
Mengapa? Karena sistemnya nirempati. Tidak punya empati. Yang dihitung cuma klaim, anggaran, dan target. Manusia hanya jadi nomor antrian. Miskin dianggap beban. BPJS dianggap merepotkan.
Padahal ini negeri Muslim. Negeri yang katanya menjunjung kemanusiaan. Nabi mengobati tanpa tanya dompet. Islam memerintahkan kita memuliakan orang sakit. Tapi hari ini, orang sakit justru direndahkan karena kartu yang ia pegang.
Cukup! Jangan tunggu ada Yus berikutnya.
Negara harus hadir. Audit rumah sakit. Cabut izin yang memperlakukan pasien BPJS seperti sampah. Pecat tenaga kesehatan yang berani membully orang sakit. Bayar klaim BPJS tepat waktu agar rumah sakit tidak berlindung di balik alasan "dana belum cair". Sediakan kamar, bukan ruang rapat. Sediakan pelayanan, bukan penghinaan.
Ingat! Kesehatan bukan hadiah untuk orang kaya. Kesehatan adalah hak setiap warga negara. Titik.
Jika hari ini kita diam, maka darah Yus ada di tangan kita semua. Di tangan pemerintah. Di tangan sistem. Di tangan kita yang pura-pura tidak lihat.
Hentikan perundungan. Muliakan pasien. Atau bersiaplah menerima murka rakyat dan murka Allah.
@ Kamila Azzahra
Tags
Opini