Oleh : Nurfillah Rahayu
(Forum Literasi Muslimah Bogor)
Trump mengumumkan pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lain di Gaza sebagai langkah monumental menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng.
Setelah pelucutan selesai, tentara zionis Israel diminta mundur dari Gaza dan pasukan Stabilitas Internasional akan bekerja sama dengan polisi Palestina yang baru untuk mengambil alih tanggung jawab atas Gaza.
Namun faktanya serangan zionis Israel tetap berlanjut sekalipun Hamas menyatakan kesediaan untuk berunding soal pelucutan senjata. (detik.com, 31-07-2026)
Judulnya sudah jelas. Pelucutan senjata adalah tiket. Dan tujuannya hanya satu, pembantaian yang berkelanjutan.
Ketika sebuah bangsa dipaksa menyerahkan senjatanya di tengah penjajahan, maka saat itu juga ia menyerahkan nyawanya. Pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata di Gaza bukan tawaran damai. Ini adalah skenario melumpuhkan. Ini adalah siasat AS dan zionis Israel melalui BOP untuk membuka jalan masuk penjajahan tahap akhir.
Narasi yang dijual sangat indah. "Demi perdamaian", "demi penyelamatan penduduk Gaza". Tapi sejarah tidak pernah bohong. Setiap kali perlawanan dilucuti, yang datang setelahnya adalah pembantaian. Sabra Shatila, Jenin, dan ratusan titik lain di Palestina adalah buktinya.
Hari ini pemikiran untuk menolak BOP mulai hilang dari wacana umat. Padahal bergabung dengan BOP sama saja menyerahkan Gaza ke mulut harimau. Zionis Israel dan AS yang memegang kendali, sementara senjata perlawanan dilucuti habis. Setelah tidak ada lagi yang melawan, maka perampasan tanah, penggusuran, dan genosida akan berjalan lebih cepat dan lebih senyap.
Kehadiran pasukan stabilitas internasional juga bukan solusi. Tugasnya bukan membebaskan Palestina dari penjajahan zionis Israel. Tugasnya hanya mengamankan skenario politik AS. Menjaga agar Gaza tetap steril dari perlawanan, tetap terbuka untuk proyek "New Gaza", dan tetap di bawah pengawasan BOP. Pembangunan New Gaza justru terus berjalan dengan menggunakan aktor lokal agar mudah diterima.
Ini bukti nyata. Penjajah tidak akan pernah memberi kemerdekaan dengan suka rela. Setiap tawaran "damai" selalu diikuti dengan syarat melucuti kekuatan umat. Setelah dilucuti, maka pembantaian akan jauh lebih mudah. Melucuti senjata di saat musuh masih menjajah adalah bentuk kemaksiatan dan pengkhianatan terhadap perintah Allah.
Maka umat harus sadar akan bahaya siasat ini. Umat juga harus terus melakukan kritik dan koreksi atas para pemimpin negeri-negeri muslim yang bersekutu dengan AS dan BOP nya. Karena merekalah yang membuka jalan bagi masuknya skenario penjajah ke tubuh umat.
Solusinya bukan perundingan. Solusinya bukan pelucutan. Solusinya bukan pasukan internasional.
Solusinya hanya satu. Umat Islam harus bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah Islam. Hanya dengan persatuan dan komando tunggal, kekuatan umat bisa dikonsolidasikan untuk membebaskan Palestina.
*Fakta sejarah membuktikan.* Ketika Islam tegak dalam institusi Khilafah, Palestina dijaga selama 1400 tahun. Al-Quds tidak pernah jatuh ke tangan penjajah kecuali saat umat jauh dari agamanya.
Di bawah Khilafah, tidak ada istilah "wilayah sengketa". Tidak ada "gencatan senjata" yang menghinakan. Yang ada adalah kewibawaan negara yang membuat musuh gentar. Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Baitul Maqdis dengan perjanjian damai yang menjaga hak seluruh pemeluk agama. Shalahuddin Al-Ayyubi mengembalikan Al-Aqsha setelah 88 tahun dijajah Pasukan Salib. Sultan Abdul Hamid II menolak mentah-mentah tawaran emas dan tanah dari Theodor Herzl untuk menjual Palestina.
Di bawah Khilafah, adzan berkumandang bebas di setiap penjuru. Masjid Al Aqsha menjadi pusat ilmu dan peradaban. Umat Islam dari Maroko sampai Indonesia bersatu dalam satu komando, satu kiblat, dan satu pembelaan. Tidak ada tentara asing yang berani menginjakkan kaki di tanah Palestina.
Itulah fakta, bukan ilusi. Yang membuktikan bahwa kemuliaan hanya datang ketika Islam diterapkan secara kaffah.
Wallahu a'lam bishshawab