Kasus HIV Meningkat, Bagaimana Upaya Selamat

Oleh Annida K. Ummah (Tangerang)

Dinas Kesehatan Pemkab Sidoarjo mencatat sebanyak 7.230 orang hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 522 orang merupakan pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA. (Kumparan.com, 24/7/26)

Berdasarkan data situasi HIV di Kabupaten Sidoarjo, sejak 2001 hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 1.183 kasus HIV secara kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun. Kenaikan jumlah kasus yang ditemukan setiap tahun berjalan seiring dengan meluasnya layanan tes HIV di berbagai fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga layanan berbasis komunitas. (Detik.com, 26/7/26)

Meningkatnya kasus HIV pada usia produktif menunjukkan ada yang salah dengan sistem sosial bermasyarakat hari ini. Kehidupan saat ini yang cenderung sekuler, membuat remaja dan masyarakat usia produktif kelewat batas dalam berinteraksi. Perilaku hidup bebas misalnya, mewarnai perjalanan hari-hari masyarakat. Meski sudah banyak menuai kerusakan, seperti meningkatnya angka HIV juga maraknya pelecehan seksual di tempat umum, tetap tidak membuat masayarakat dan negara berpikir bahwa tatanan bermasyarakat yang sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) salah dan merusak.

Meningkatnya angka HIV, selain tidak dilihat dari akar masalahnya yaitu kehidupan sosial yang sekuler, juga hanya diatasi dengan solusi yang tidak fundamental. Sejauh ini, langkah yang diambil pemerintah atau dinas kesehatan sebatas melakukan berbagai pencegahan seperti sex education, safe sex, pencegahan penyakit menular, atau pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan).

Kasus HIV 2026 bukan pertama kali ada di Indonesia. Penyebaran HIV di Indonesia terjadi karena hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik bergantian pada pengguna narkotika, serta penularan dari ibu kepada anak.

Kasus infeksi HIV dan AIDS pertama kali dicatat secara resmi di Indonesia pada tahun 1987, yang menimpa seorang wisatawan asing asal Belanda di Bali.

Tingginya kasus HIV mencerminkan rusaknya sistem sosial akibat penerapan sistem sekuler di kehidupan ini. Meminggirkan agama dari kehidupan. Menganggap agama hanya dipakai untuk ibadah saja tidak untuk kehidupan bermasyarakat. Perilaku kehidupan bebas menghasilkan berbagai kerusakan.

Cara pandang terhadap masalah HIV lekat dengan paradigma sekuler liberal. Tidak menyentuh akar persoalan dan hanya bersifat kuratif. Meningkatnya temuan kasus HIV  tidak dimaknai dengan meningkatnya kasus penularan. Melainkan dianggap sebagai meningkatnya efektivitas deteksi dini kasus yang dilakukan oleh pemerintah/ mitra. Hal ini menjadi bentuk gagal paham terhadap masalah yang ada.

Salah dalam membaca masalah dan gagal dalam mendefinisikan akar masalah, solusi yang ditawarkan pun tidak benar-benar solutif. Pencegahan yang ditawarkan seperti sex education, safe sex, tidak menuntaskan masalah HIV. Hanya sekedar pencegahan penyakit menular atau mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. 

Untuk mencegah HIV, Islam membangun sistem pergaulan sosial yang preventif melalui sistem pergaulan dalam Islam. Melalui aturan menjaga pandangan, larangan mendekati zina, memakai pakaian syar'i, mengatur pernikahan dan sanksi/uqubat bagi pelaku pelanggaran hukum syara'. 

Penerapan sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dengan ilmu fiqih pergaulan dan akhlak, sehingga pelajar memahami bahwa menjaga kesehatan organ reproduksi adalah bagian dari ibadah dan amanah ilahi. Serta menyadari bahwa setiap perbuatannya akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Perlu untuk adanya sinergi 3 pilar dari keluarga, masyarakat, dan negara dalam mewujudkan generasi yang selamat dari ancaman HIV/ pergaulan bebas.[]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak