Aneksasi Zionis di Tepi Barat Terus Membara, New Gaza Jadi Ajang Bisnis Amerika

Oleh : Isna

Kekerasan dan perampasan tanah oleh entitas Zionis Israel di Tepi Barat bukanlah insiden kebetulan, melainkan bagian dari proyek ideologis jangka panjang menuju terwujudnya "Israel Raya". Di saat yang sama, penderitaan rakyat Palestina di Gaza justru dimanfaatkan melalui skema ekonomi-politik Board of Peace (BoP) yang menjadikan rekonsiliasi dan rekonstruksi "New Gaza" sekadar ajang bisnis dan cengkeraman geopolitik Amerika Serikat. Menghadapi konspirasi ini, ilusi "Solusi Dua Negara" dan diplomasi formal terbukti gagal total, sehingga pembebasan Palestina membutuhkan persatuan militer dan politik seluruh negeri-negeri Muslim melalui institusi Khilafah Islamiyyah.

Aksi aneksasi wilayah Tepi Barat oleh entitas Zionis Israel saat ini terus meluas dan intensif tanpa mengindahkan hukum internasional maupun desakan global. Kekerasan pemukim ilegal Zionis di Tepi Barat mengalami peningkatan tajam yang dikoordinasikan secara langsung oleh otoritas entitas Israel (kompas.tv, 13/08/26). Bahkan, serangan terhadap tempat ibadah mencapai rekor tertinggi dengan penghancuran dan perusakan puluhan masjid (republika.co.id, 13/08/26), diiringi rencana pembangunan 2.300 unit permukiman ilegal baru di Yerusalem Timur (cnnindonesia.com, 13/08/26). Pada saat yang sama, di tengah kehancuran infrastruktur, muncul dorongan proyek rekonstruksi bertajuk "New Gaza" yang diusung melalui skema kesepakatan Board of Peace (BoP) yang melibatkan kepentingan Amerika Serikat.

Rangkaian fakta ini mengonfirmasi bahwa pengabaian terhadap kecaman PBB dan penolakan dunia membuktikan entitas Zionis tidak pernah berniat menghentikan pendudukan; semua langkah tersebut adalah skenario sistematis mewujudkan cita-cita Eretz Yisrael (Israel Raya). Realitas ini sekaligus mempertegas kematian "Solusi Dua Negara" (Two State Solution), sebab kemerdekaan Palestina tidak akan pernah diserahkan secara sukarela oleh penjajah. Mengharapkan perundingan damai adalah sebuah halusinasi politik ketika garis perbatasan terus digeser secara paksa. Sementara itu, proyek rekonstruksi "New Gaza" melalui strategi BoP tidak lebih dari perpanjangan tangan imperialisme kapitalistik Amerika Serikat. Atas nama perdamaian dan pembangunan kembali, Amerika Serikat menjadikannya ladang bisnis, investasi, dan alat hegemoni politik baru untuk mengontrol masa depan Gaza serta menjamin keamanan entitas Zionis.

Melihat fakta dan perspektif tersebut, sejarah dan syariat telah membuktikan bahwa entitas Zionis Israel tidak akan pernah memahami bahasa diplomasi maupun retorika kecaman. Perdamaian dengan entitas penjajah adalah hal yang mustahil. Kata kunci utama untuk membebaskan tanah Palestina dari pendudukan Zionis hanyalah pengerahan pasukan jihad dan mobilisasi militer negeri-negeri Muslim secara bersatu. Dalam konteks ini, topeng skema BoP harus dibongkar di hadapan umat agar mereka tidak tertipu oleh istilah manis bantuan rekonstruksi Barat. Keterlibatan para penguasa negeri Muslim dalam skema tersebut merupakan bentuk pengkhianatan nyata terhadap darah para syuhada Palestina.

Perjuangan membebaskan Palestina tidak bisa disandarkan pada batas sekat nasionalisme atau lembaga internasional bentukan Barat, melainkan melalui persatuan seluruh negeri Muslim di bawah naungan kepemimpinan politik tunggal Khilafah Islamiyyah yang harus semakin masif diperjuangkan melalui dakwah politik. Hanya dengan inilah izzah umat Islam dapat dikembalikan dan bumi Palestina dibebaskan secara total. Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Al-Qur'an:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ
"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu..." (QS. Al-Baqarah: 191).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak