Ada Apa Dengan Pendistribusian BBM?



Oleh : Maulli Azzura 

Massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pustara demo di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026) malam. Aksi tersebut terkait protes atas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax. Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, aksi tersebut dimulai sekitar pukul 20.30 WIB. (kompas.com 10/06/2026)

Sedang di bulan Juli, Seluruh badan usaha penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi pada 1 Juli 2026 lalu. Penyesuaian harga dilakukan oleh Pertamina, Shell Indonesia, BP-AKR, Vivo Energy Indonesia, hingga Mobil Indostation.
Sebagai contoh, di SPBU Pertamina di Jabodetabek misalnya, harga BBM jenis Pertamax Turbo turun Rp 1.450 per liter dari sebelumnya Rp 20.750 per liter menjadi Rp 19.300 per liter.

Berikutnya, Pertamax Dex turun Rp 3.650 per liter dari yang sebelumnya dibanderol Rp 24.800 per liter menjadi Rp 21.150 per liter. Lalu ada Dexlite turun Rp 3.300 per liter dari yang sebelumnya Rp 23.000 per liter menjadi Rp19.700 per liter. (CNBC Indonesia.com 27/07/2026)

Berlimpahnya harta kekayaan alam negeri ini, belum seutuhnya ‎dirasakan oleh rakyat. Kemiskinan, kelaparan, pengangguran, dan berbagai persoalan hidup menjadi pemandangan biasa di negara ‎yang dikenal dunia sebagai zamrud khatulistiwa.

 Mengapa ini ‎bisa terjadi? Mungkinkah ada sistem distribusi negara ini yang kerap dirusak oleh oknum-oknum pejabat negara? Adakah kondisi sekarang ini memang telah mengikuti sistem distribusi yang ditetapkan oleh negara?.
‎Pertanyaan-pertanyaan inilah yang hendak dijawab sekaligus memberikan solusi Islam yang ditawarkan oleh ahli ekonomi Islam abad 20, yakni Syekh Taqîyudin  al-Nabhânî dalam buku ekonomi yaitu Nizhȃm al-iqtishȃdîy fîy al-Islȃm  khususnya konsep kepemilikan dan distribusi harta dalam perspektif Islam.‎ Konsep kepemilikan harta, di mana membagi kepada tiga jenis kepemilikan yaitu individu, umum dan negara. Inilah yang disebut sebagai distribusi pra-produksi. 
‎Kepemilikan harus beriringan dengan pemanfaatannya karena pemanfaatan inilah yang kan mendistribusikan harta kepada pihak selanjutnya. Oleh karena itu d‎isimpulkan bahwa kacaunya distribusi harta kekayaan adalah akibat dari tidak jelasnya konsep kepemilikan itu sendiri. 

S‎ementara itu, perbedaannya hanya pada persoalan wewenang pengelolahan harta negara dan harta milik umum, serta hak-hak kepemilikannya. Sedangkan terkait dengan konteks hari ini, secara u‎mum konsep dapat diterapkan terutama dalam hal kepemilikan r‎anah pertanian dan sumber daya alam.

Ha‎ri ini kita bisa melihat bagaimana distribusi BBM bersubsidi kacau balau. Hampir dibeberapa SPBU terlihat antrian menggular sampai dijalan raya yang memicu kemacetan panjang. Hanya rela mengantri berjam-jam untuk mendapatkan BBM tersebut. Ini adalah bukti fakta betapa rakyat menginginkan BBM tersebut didapat dengan harga yang terjangkau. 

‎Namun karena buruknya sistem distribusi, pengelolaan kepemilikan umum tersebut, mengakibatkan efek domino yang sangat luar biasa, karena merupakan objek vital yang harus dikelola dengan benar oleh negara. Negara justru sebaliknya, membuat kebijakan yang salah dan bermain bisnis dengan rakyatnya. Padahal objek vital tersebut jelas tidak boleh diperjual belikan kepada rakyatnya.
‎Dalam konteks ekonomi kapitalis leberal, sudah hal yang lumrah. Karena sumber daya alam adalah objek yang menggiyurkan untuk dijadikan ladang bisnis bagi para pelaku kapital. Selain eksploitasi secara besar-besaran, sumber daya alam tersebut di privatisasi. Artinya bbm atau sejenisnya dibolehkan dikuasai oleh pihak swasta, kelompok maupun individu. Sehingga ada  unsur monopoli harga yang menguntungkan mereka.
‎Konsep ekonomi Islam berbeda dengan kapitalis. Konsep distribusinya meliputi terlibatnya tauhid ( keimanan & ketaatan pada syara'), akhlaq, keseimbangan, maslahah serta keadilan. Sehingga baik dalam pengelolaannya, pendistribusiannya senantiasa bertumpu pada syariat Islam.

Ekonomi Syariah dibangun atas dasar agama Islam, karenanya ia merupakan bagian tak terpisahkan dari agama Islam. Ekonomi Islam akan mengikuti agama Islam dalam berbagai aspeknya. Islam yaitu sistem kehidupan atau bisa juga dikatakan way of life, di mana Islam telah menyediakan berbagai perangkat aturan yang lengkap baik kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ekonomi. Beberapa aturan ini bersifat pasti dan berlaku permanen, sementara beberapa yang lain bersifat kontekstual sesuai dengan situasi dan kondisi.

Apa yang terjadi dengan pedistribusian BBM di negeri ini adalah potret betapa buruknya sistem kapitalis sekuler. Meniadakan peran agama dalam kehidupan. Sehingga membuat objek vital seperti BBM hanya sebagai ladang bisnis bukan pemanfaatan bagi kesejehteraan rakyat. Andai kita mau kembali kepada suatu aturan yang benar yakni sistem islam, maka masalah distribusi BBM yang terjadi saat ini akan teratasi dengan benar. 
‎Wallahu A'lam Bishowab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak