Oleh : Umi Zadit Zareen
(Pemerhati Publik)
Sering denger kalimat ini: “Rupiah melemah ke dolar? Ya biarin aja, rakyat desa kan nggak transaksi pake dolar.” orang desa Jarang Pegang Dolar, Tapi Banyak Pakai Barang Impor. Orang desa memang gajinya rupiah, belanjanya rupiah. Tapi coba cek barang yang dipakai sehari-hari:
Pupuk dan obat pertanian: 60-70% bahan bakunya masih impor. Pas dolar naik, importir beli bahan baku jadi lebih mahal. Otomatis harga jual pupuk ikut naik. Misalnya petani, beban paling kerasa ada di pupuk dan pakan. Pupuk urea 50kg tahun 2024 harganya sekitar Rp115.000. Masuk September 2025 naik jadi Rp135.000 sampai Rp145.000. Penyebabnya jelas, bahan baku pupuk banyak yang impor, jadi pas dolar naik harga ikut naik.
Obat hama botol kecil juga naik dari Rp45.000 jadi Rp52.000 sampai Rp58.000 karena bahan aktifnya masih impor. Pakan ayam 50kg naik paling gede, dari Rp320.000 jadi Rp355.000 sampai Rp375.000. Naiknya karena jagung dan bungkil kedelai paka dolar. Dolar naik 10%, harga pakan naik 8-12% karena buat pakan juga banyak yang impor.
Ketika Indonesia masih impor minyak mentah. Dolar naik = biaya impor naik. Pemerintah bisa nahan harga lewat subsidi, tapi ongkos angkut tetap naik karena sopir kena harga sparepart dan ban yang juga impor. Jadi meskipun dompetnya nggak ada dolar, harga barangnya udah “kena dolar” duluan.
ZQDampaknya Nggak Langsung, Tapi Nyampe Lewat 3 Jalur
Jalur 1: Biaya Produksi Naik
Petani, peternak, pedagang kecil di desa ngerasain modal naik. Sementara harga jual hasil panen sering ditahan tengkulak. Hasilnya: untung makin tipis.
Jalur 2: Harga Sembako Ikut Naik
Minyak goreng, gula, tepung, bahan pokok lain banyak yang tergantung impor atau harga pasar internasional. Dolar naik = harga internasional kalau dirupiahkan jadi naik.
Contoh: Minyak goreng dari Rp15rb jadi Rp17-18rb per liter.
Jalur 3: Ongkos Hidup Ikut Naik
HP, motor, sparepart, bahkan obat-obatan. Hampir semua barang elektronik dan otomotif komponennya impor. Pas dolar naik, barangnya naik 2-3 bulan kemudian.
Kenapa Banyak yang Bilang “Nggak Ngaruh”?
Karena dampaknya nggak langsung kayak di kota. Orang kota kena duluan pas beli iPhone, liburan, atau bayar Netflix.
Orang desa kena 2-3 bulan kemudian pas beli pupuk, bensin, dan sembako.
Jadi kesannya “aman”. Padahal efeknya cuma telat datang. Ketidakpekaan imi justru hadir dalam tubuh pemerintah terhadap realitas kondisi masyarakat, berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi.
Masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut, justru kebijakan yang dibuat semakin memperburuk keadaan.
Baginilah kondisi sistem yang menganut kapitalisme, namun sangat berbeda jauh dengan sistem ekonomi di bawah naungan Islamiah. Senjata ampuh melawan resesi adalah subsidi.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah menjelaskan di dalam kitab Nizhamu al-Iqtishadiyi fii al-Islam bahwa di dalam Islam berjalannya roda ekonomi berbasis distribusi harta. Setiap warga negara harus terpenuhi kebutuhan pokoknya secara individu per individu (fardan fardan). Ini adalah wujud pelaksanaan sabda Rasulullah saw., “Imam/khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Dalam sistem ekonomi Islam akan menerapkan sistem uang yang lebih stabil, yakni dengan emas dan perak. mata uang emas dan perak (dinar dan dirham) yang berlaku di dalamnya tidak diragukan kestabilannya. Ini karena didukung oleh jenis logam yang digunakan, yakni logam mulia sehingga tidak sulit bagi negara untuk mengedukasi rakyatnya menghargai mata uang tersebut. Ini wajar sebab mata uang dinar dan dirham kebal resesi sehingga anti anjlok. Jelas, ini menunjukkan ketangguhan sistem moneter Islam.
Bahkan megara akan menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan syariat, seperti banyak spot subsidi kepada rakyat, salah satunya bisa berbentuk harta pemberian tanpa riba dari negara kepada rakyatnya. Di sisi lain,tidak memberikan ruang bagi terjadinya transaksi ribawi dalam bentuk apa pun hingga jaminan distribusi, pengaturan kepemilikan tetap dalam aturan.
Kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab pemimpin, karena ia adalah ra'in sekaligus junnah yang wajib melindungi masyarakat dari kesengsaraan hidup.
Kondisi melemahnya rupiah akan terus berulang selama negeri ini menerapkan ideologi kapitalisme yang mana sistem ekonominya berbasis ribawi. Sedangkan jika menerapkan sistem Islam, kondisi perekonomian akan lebih stabil dan kuat karena ditopang sistem ekonomi Islam.
Wallahu a'lam bishawab
Tags
Opini