Oleh Nadisah Khairiyah
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini sering dibaca ketika seseorang sedang lelah.
Tetapi mungkin ada satu pertanyaan yang jarang kita pikirkan: Jika Allah tidak membebani manusia melebihi kemampuannya, mengapa banyak manusia tetap merasa sesak? Mengapa dada terasa penuh? Mengapa pikiran tidak pernah benar-benar tenang? Mengapa hidup terasa seperti sesuatu yang harus terus dikendalikan?
Mungkinkarena kita sedang memikul beban yang memang tidak Allah letakkan di pundak kita. Kita ingin memastikan semua berhasil. Kita ingin semua orang memahami kita.
Kita ingin masa depan berjalan sesuai rencana.
Kita ingin tidak pernah gagal. Kita ingin hasil selalu sesuai harapan.
Padahal manusia tidak diciptakan untuk menguasai seluruh hidup. Ia diciptakan untuk menjadi hamba.
Dan mungkin dari sinilah kita mulai memahami:
ternyata tidak semua hal harus diperjuangkan dengan cara yang sama. Ada hal-hal yang memang harus diikhtiarkan.
Tetapi ada juga hal-hal yang hanya bisa diterima dengan ridha.
Ada perkara dalam hidup yang datang tanpa persetujuan kita. Kita tidak memilih dilahirkan di keluarga yang mana.
Kita tidak selalu bisa menahan kehilangan. Kita tidak mampu mengendalikan hati semua manusia. Musibah bisa datang tanpa aba-aba.
Kematian tidak pernah menunggu kesiapan seseorang.
Ada wilayah kehidupan yang memang berada di luar kuasa manusia. Di sinilah ridha menemukan tempatnya.
Ridha bukan berarti tidak sedih. Bukan berarti rasa sakit hilang. Dan bukan berarti seseorang berhenti menangis.
Ridha adalah ketika hati tetap percaya kepada Allah,
meski hidup tidak berjalan sesuai keinginannya.
Ia berkata: “Aku tidak memahami semua ketetapan ini.
Tetapi aku yakin Rabb-ku tidak pernah salah.”
Ketenangan bukan lahir saat manusia berhasil mengendalikan seluruh hidupnya. Ketenangan lahir ketika ia sadar:hidup ini berada di bawah pengaturan Allah,
bukan dirinya. Dan Allah adalah Dzat yang paling tahu tentang kita, termasuk apa yang kita butuhkan.
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pernah berdoa:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ
“Ya Rabb kami, jadikanlah kami orang-orang yang tunduk kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah: 128)
Betapa menenangkan kalimat itu.
Bahkan seorang nabi pun memohon agar hatinya tetap tunduk. Bukan merasa paling kuat. Bukan merasa mampu menghadapi semuanya sendiri. Dan mungkin di situlah letak kesehatan jiwa seorang mukmin: ia tahu dirinya hamba, bukan pengendali semesta.
Namun Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk diam. Karena ada wilayah yang Allah serahkan kepada pilihan dan usaha kita.
Apakah kita mau belajar atau bermalas-malasan.
Apakah kita mau memperbaiki akhlak atau membiarkannya rusak. Apakah kita mau bangkit setelah jatuh atau terus tenggelam dalam alasan. Di wilayah ini, Allah tidak memerintahkan kita untuk pasrah.
Allah memerintahkan kita untuk bergerak. Belajar, berusaha, memperbaiki diri, mengambil sebab, sambil menyertakan tawakal. Sebab tawakal bukan meninggalkan usaha.
Tawakal adalah ketika seseorang sudah memberikan kesungguhan terbaiknya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah tanpa putus harapan.
Allah berfirman:
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ
“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada ilah selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal.” (QS. At-Taubah: 129)
Kalimat melahirkan manusia dengan jiwa yang kokoh. Karena ia tahu: dirinya memang tidak mampu mengendalikan hasil, tetapi ia tetap bertanggung jawab atas ikhtiar.
Sebagian besar kelelahan manusia ternyata lahir ketika ridha dan ikhtiar tertukar tempatnya. Ada yang ridha pada kemalasannya, tetapi marah pada takdir Allah. Ada yang terus menyalahkan keadaan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh memperbaiki diri.
Padahal:
yang tidak bisa kita ubah → kita ridhai.
dan yang masih bisa diperbaiki → kita perjuangkan.
Jika gagal, maka evaluasi dan belajar lagi.
Jika akhlak buruk, terperosok dalam dosa, maka perbaiki.
Jika belum memahami Al-Qur’an, maka dekati dan pelajari.
Tetapi jika kehilangan datang, jika ada takdir yang memang tidak mampu ditolak, maka hati belajar berkata:
“Allah lebih tahu apa yang aku butuhkan daripada diriku sendiri.”
Mungkin selama ini kita terlalu lelah
karena ingin memastikan semua hal berada dalam genggaman. Padahal Allah tidak meminta manusia menjadi pengendali hidup. Allah hanya meminta manusia menjadi hamba yang taat. Hamba yang ridha terhadap ketetapan-Nya. Dan hamba yang bersungguh-sungguh dalam amanahnya.
Mungkin hidup tidak akan langsung menjadi mudah setelah ini. Tetapi setidaknya, jiwa tidak lagi memikul seluruh dunia sendirian. Karena lahir pemahaman: ada hal yang memang harus diperjuangkan, dan ada hal yang cukup diserahkan kepada Allah.
Ya Allah, betapa Maha Baiknya Engkau. Engkau berikan segalanya untuk kami, Engkau siapkan untuk kami segala hal yang kami butuhkan. Semuanya ada dalam kitab pedoman kami yang diwasiatkan, Rasul-Mu yang sangat mencintai kami.
Terimakasih ya Allah.
Tags
Opini