Oleh ; Rifie Novando (Aktifis Dakwah)
Warga Desa Karang Dalam, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan, digegerkan dengan terungkapnya kasus pembunuhan sadis yang dilakukan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri.
Pelaku yang merupakan anak kandung korban bernama Ahmad Fahrozi, 23. Ia bahkan memutilasi dan membakar jasad korban sebelum menguburkannya di kebun area dekat rumah korban.
Kasus ini terungkap setelah korban tidak terlihat selama seminggu terakhir hingga membuat pihak keluarga curiga. Warga kemudian mencium bau tidak sedap di area perkebunan rumah korban.
"Adanya bau menyengat di sekitar rumah korban. Kemudian masyarakat beserta Polri melakukan penyisiran dan mendapati lah karung berisikan potongan tubuh manusia," kata Kapolres Lahat, AKBP Novi Ediyanto di Lahat, Kamis, 9 April 2026. (metrotvnews.com).
Peristiwa ini menjadi gambaran betapa rusaknya kondisi moral masyarakat hari ini. Tindakan keji yang dilakukan seorang anak kepada ibu kandungnya sendiri menunjukkan hilangnya rasa kasih sayang, empati, dan tak takut terhadap dosa. Kejahatan tidak lagi hanya dipengaruhi faktor emosi sesaat, tetapi juga lahir dari pola hidup masyarakat yang telah lama teracuni pemikiran sekulerisme.
Dalam kehidupan sekuler saat ini, manusia lebih mengutamakan kebahagiaan sebagai tujuan pencapaian, mementingkan kepentingan dunia semata.
Bahkan saat ini pemahaman Sekularisme menjadi pandangan hidup yang diyakini menjadi solusi, justru membuat potret kehidupan semakin jauh dari nilai agama.
Pemahaman sekularisme yang menyimpang membuat orientasi hidup hanya untuk kepuasan yang bertujuan materi.
Sekularisme adalah pandangan yang memisahkan antara agama dengan kehidupan seperti yang dipahami bahwa tujuannya hanya tercipta, persamaan hak, dan tidak ada diskriminasi kesenjangan satu dan lainnya. Ini bukan berarti menolak agama atau nilai rohani, tapi hanya saja mereka sama-sama diakui tapi masing masing berdiri sendiri.
Pemahaman yang salah dan sempit mengubah cara pandang kehidupan ini, yang seharusnya berlandaskan aqidah Islam realitanya Islam tak diberi ruang dalam mengatur urusan kehidupan dalam sistem kapitalisme.
Faktanya sekarang
Agama dan nilai rohani hanya berlaku di tempat ibadah saja, sedangkan kehidupan sehari-hari cukup dijalankan dengan akal semata tanpa bimbingan spiritual.
Islam menjadikan akidah sebagai asas kehidupan dan halal haram sebagai standar tolak ukur berperilaku, bukan manfaat materi semata. Sehingga keimanan menjadi benteng pertama bagi individu dalam bertindak.
Islam mengatur kehidupan menyeluruh (kaffah),
Menghubungkan manusia kepada Sang Pencipta.
Firman Allah: “Ingatlah hanya dengan mengingati hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d:28).
Hidup tak lagi hanya kejar harta, tapi bermakna hingga akhirat.
Moral dan akhlak kokoh Memberikan batasan jelas benar-salah. Setiap langkah hidup berpandu pada nilai rohani jadi tidak lagi jatuh ke cara kotor demi materi.
Islam memastikan sistem ekonomi yang adil dan merata, Islam mewajibkan mencari rezeki halal, melarang riba, perjudian dan penipuan, serta ada zakat, infak, sedekah meratakan kekayaan dan menghapus kesenjangan. Sukses tak diukur dari jumlah harta, tapi keberkahannya. Islam juga mengatur kepemilikan SDA agar dikelola oleh negara dan hasilnya digunakan untuk kepentingan masyarakat seperti kesehatan, pendidikan, fasilitas umum, infrastruktur dll.
Sistem ekonomi islam memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi orang perorang melalui pengelolaan kepemilikan umum oleh negara sehingga kesenjangan sosial tidak terjadi. Sistem ini akan terwujud manakala agama dan kekuasaan tidak dipisahkan. Agama ibarat ide dasar dan kekuasaan yang menjalankannya.
Wallahu alam bisshawab
Tags
Opini