Apa Hubungan Baitul Maqdis dengan Kita?


Oleh: Erika Febiana, A.Md.S.I.Ak

Gaza adalah sebuah kota yang terisolir selama puluhan tahun, setiap detiknya suara dentuman keras terdengar, bukan dentuman musik melainkan dentuman rudal yang mengarah ke wilayah Gaza, seperti halnya kita ketahui zionis Israel tidak hanya menyerang Gaza tetapi seluruh wilayah Baitul Maqdis. Baitul Maqdis adalah sumber keberkahan, kiblat pertama umat Islam, tanah para nabi, jadi Baitul Maqis sendiri tidak bisa dipisahkan dengan kita sebagai umat yang spesial, umat yang sangat dicintai oleh Rasulullah, sampai diakhir hayatnya beliau memikirkan umatnya, Umati… Umati… Umati…, selain itu Baitul Maqdis memiliki peranan penting bagi geopolitik, karena Baitul Maqdis merupakan titik temu dari 3 benua yaitu Asia, Afrika, dan Eropa.

Zionis Israel tidak hanya menyerang Baitul Maqdis tetapi negara negara yang mengelilingi Baitul Maqdis, seperti Suriah, Yordania, Libanon, Mesir, sebagian Siprus. Seperti halnya sudah kita ketahui Zionis Israel saat ini menyerang Lebanon dan Iran, akibat serangan tersebut mempengaruhi perekonomian dunia, alasan Zionis Israel menyerang negara negara di sekitar Baitul Maqdis adalah agar mimpi mereka untuk mendirikan negara Israel raya yang mencaplok wilayah di negeri negeri teluk arab.

Akibat kedzaliman dan tindakan genosida yang dilakukan oleh Zionis Israel membuat masyarakat dunia mengecam keras, boikot, dan berbagai aksi terjadi dimana mana bahkan penduduk dunia terpanggil untuk melakukan aksi berlayar ke Gaza, aksi ini diberi nama Global Sumud Flotila. Global Sumud Flotila sudah berlangsung yang kedua kalinya, pada kali pertama aksi pelayaran Global Sumud Flotila di gagalkan oleh Zionis Israel dengan menculik kapal dan para aktivis yang bergerak dalam Global Sumud Flotila, para aktivis ini mengalami penyiksaan dan pelecehan yang dilakukan oleh Zionis Israel di dalam penjara. Berangkat dari pengalaman mereka yang mengalami penyiksaan dan pelecehan tidak menyurutkan aksi Global Sumud Flotila, justru para aktivis global sumud flotila ini melakukan pelayaran yang kedua kalinya ke Gaza, mereka tidak membawa alat-alat senjata yang mereka bawa hanya bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan, popok bayi, oksigen dan alat alat yang dibutuhkan oleh medis. Namun sebelum sampai Gaza, perlayaran Global Sumud Flotilla harus terhenti sementara waktu karena militer Israel telah menculik 211 aktivis dalam operasi di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, (Kompas, 01/05/2027).

Kebiadaban Zionis tidak hanya terjadi di Gaza tapi di seluruh wilayah baitul maqdis, bukan dimualai dari 7 Oktober 2023 tapi dari 15 Mei 1948 dimana masyarakat Baitul Maqdis di usir secara tidak beradab dari rumah mereka sendiri, peristiwa ini dikenal dengan Peristiwa Nakbah. 

Kebengisan Israel sudah berlangsung lama dan terjadi di Baitul Maqdis, segala upaya sudah dicoba tapi permasalahan ini belum usai, lantas apa hubungannya baitul maqdis dengan kita?


Penyebab Disconnect Umat dengan Baitul Maqdis

Berbagai upaya sudah dilakukan oleh para aktivis pembela Baitul Maqdis, namun upaya itu tidak mencapai akar masalahnya, sehingga sampai saat ini Baitul Maqdis, Gaza dan negeri negeri yang lainnya masih mengalami permasalahan yang sama, dan penyebab yang sama, yaitu diterapkannya akidah yang salah, tidak lain adalah diterapkannya kapitalisme sekuler-demokrasi di hampir seluruh negeri.

Semua ini bermula saat umat islam kehilangan pelindungnya, yaitu negara adidaya yang melindungi segenap masyarakatnya tidak hanya manusia bahkan alam pun dilindungi, negara yang landaskan akidah Islam, dan segenap aturan pemerintahannya pun Islam, mempunyai kekuasaan yang membentang dari Asia – Afirka – Eropa, berkomunikasi dan berinteraksi dengan menggunakan satu bahasa yaitu bahasa arab, dan mempunyai tujuan yang sama yaitu menyebarkan islam keseluruh penjuru dunia, dan menerapkan islam secara sempurna. 

Negara adidaya itu sudah runtuh sejak 3 Maret 1924, dan negera itu dibagi menjadi puluhan negara kecil yang dipaksa merdeka, dimana pemimpinnya menjalankan negaranya sesuai kepetingan para kapitalis, sesama umat islam tidak mampu membantu saudara seimannya sendiri, seperti hal saat ini. Gerbang Raffah ditutup sehingga pasokan logistik dan medis yang dibutuhkan oleh Gaza tersumbat di perbatasan Raffah. Pemimpin negeri yang lain tidak ada yang bisa mengirimkan tentaranya untuk melindungi Baitul Maqdis karena tersekat nasionalisme. 

Didalam Kapitalisme umat manusia disibukan oleh kebebasan, disibukan oleh kesenangan, disibukan oleh kemaksiatan yang tersistematis, tidak hanya itu umat juga dipaksa untuk hidup susah, dipaksa untuk hidup miskin, dipaksa untuk hidup menderita, seolah olah menjadi hidup kaya, menjadi hidup sukses hanya mimpi belaka yang sulit didapat.

Umat kehilangan koneksinya dengan Islam, begitupun koneksinya dengan Baitul Maqdis karena akidah yang diterapakan di masyarakat dan bernegara adalah akidah sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan, merasa bahwa permasalahan Baitul Maqdis adalah masalah Palestina (nasionalis) bukan masalah umat manusia terutama umat islam. 

Reconnect dengan Baitul Maqdis

Ada tiga cara ala Rasulullah untuk membebaskan Baitul Maqdis yaitu Akidah, Ukhuwah, dan Syariah.
(kutipan dalam buku Baitul Maqdis For Dummies 2 karya Felix Siaaw dan tim tahrir al aqsa).

Pada poin akidah kita bisa mendapatkan bahwa akidah sangat berpengaruh pada kegemilangan suatu beradaban, dan kita harus menyatukan dan menerapkan kembali akidah islam dalam kehidupan individu, bermasyarkat dan bernegera. Kita menyakini bahwa apa yang dilakukan oleh manusia di dunia ini akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah, sehingga fokus kita bukan untuk kesenangan dan kebebasan seperti halnya akidah sekuler melainkan fokus kita ke arah yang jauh lebih besar yaitu membebaskan Baitul Maqdis.  Sebagaimana Rasulullah mengganti semua pemikiran jahiliyah dengan pemikiran Islam yang bersumber dari Allah.

Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai individu yang sebelumnya jauh dari akidah islam?
jawabannya adalah kita belajar, mempelajari ilmu dan tsaqofah. Karena jika pikiran kita masih terbelenggu dengan akidah sekuler, maka mustahil bisa membebaskan Baitul Maqdis.

“The Liberation Of Land Begins With The Liberation OF Mind”, Pembebasan tanah (atau wilayah) dimulai dengan pembebasan pimikiran. 

Pada poin Ukhuwah, persatuan Umat dan perjuangan politik, hanya dengan umat bersatu dibawah kepemimpinan Islam maka umat akan memiliki penjangaan dan perlindungan seperi sebelumnya selama 14 abad kepemimpinan Islam sudah terbukti baik itu Baitul Maqdis atau wilayah lain yang tergabung dalam Kepemimpinan Islam hidup damai, terlindungi, dan diurusi segala kebutuhannya.

Pada poin Syariah, yaitu penerapan Syariat Islam secara menyeluruh, kemenangan umat lahir dari kekuatan militernya, seperti halnya Rasulullah menaklukan makkah dengan membentuk kekuatan militer yang kuat, maka pada tahap ini perintah jihad akan di kumandangkan. Permasalahan di Baitul Maqdis adalah permasalah yang fisik, dimana militer dilawan dengan militer juga, bukan hanya dengan pengiriman makanan, bahkan kain kafan.

Wallahu a'lam bish-shawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak