Derita Gaza yang Tak Kunjung Usai




Oleh : Nita Karlina


Genosida yang sedang di hadapi warga Gaza  hingga kini tak kunjung usai. Belum ada yang berhasil di lakukan dengan berbagai cara untuk mendapatkan kemerdekaannya. Dunia Islam pun bungkam seolah - olah mulut nya di tutup rapat dan badannya di ikat sehingga tidak bisa berbuat apa - apa. Penderitaannya di tambah lagi dengan UU Israel yang akan menghukum mati tahanan warga Gaza. 

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengecam keras Undang-Undang Hukuman Mati yang telah disetujui oleh mayoritas anggota parlemen Israel, Knesset. Ia menilai aturan tersebut berpotensi diterapkan secara diskriminatif terhadap rakyat Palestina. (DetikNews, 03/04/2026)

"RUU Hukuman Mati tersebut telah disetujui oleh Parlemen Israel;Knesset dengan voting 62 melawan 48 anggota yang menolak. Termasuk yang setuju dengan RUU itu adalah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berstatus sebagai orang yang telah dikenakan surat penangkapan oleh Mahkamah Pidana Internasional atas tindakan pelanggaran hukum dengan genosidanya terhadap rakyat Gaza/Palestina," ujarnya, dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).

Ia pun mendorong Pemerintah Indonesia untuk terus memainkan peran aktif dalam forum internasional, termasuk melalui Dewan HAM PBB dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk terus memainkan perannya dalam upaya mewujudkan arahan Konstitusi melindungi dan mendukung rakyat Palestina dalam meraih kemerdekaan dan diakhirinya penjajahan Israel atas Palestina.

Sungguh hati ini rasanya lelah melihat penderitaan warga Gaza yang tak pernah berhenti di genosida oleh zionis Israel. Mulai rumah yang di bom, warga yang di tembak, keluarga yang hancur kehilangan seluruh kehidupan dunianya. Tak ada makanan, tak ada tempat tinggal, dan tak ada keluarga. 

Di zaman modern saat ini ternyata aneh rasanya masih kita dapati penjajahan di atas bumi ini. Padahal dalam pembukaan undang undang kita mengatakan "penjajahan di atas dunia harus di hapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan". Namun faktanya negara kita malah berteman dengan pendukung zionis, yang memodali seluruh kegiatan genosidanya. 

Bahkan ikutnya Indonesia dalam forum BOP yang di bentuk oleh Amerika merupakan penghinaan terhadap perjuangan para pahlawan kita. Karena sesungguhnya para pejuang kita membela kemerdekaan rakyat Palestina. Namun apa yang di katakan presiden kita hari ini? "Kalau ingin palestina merdeka kita harus menjamin keamanan Israel". Kalau kata ustadz Felix "orang di rampok, di bunuh, di bom, supaya kita jangan kena sakitnya juga kita harus jamin keamanan perampoknya?" ini kan aneh dan tak berlogika.

Yahudi sedari dulu adalah orang yang gemar ingkar janji. Bahkan Allah pun mengatakannya dalam Al Qur'an “Patutkah (mereka ingkar), setiap kali mereka mengikat janji, segolongan dari mereka melemparkannya? Bahkan kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS Al Baqarah:100). Terbukti dengan cara zionis menyerang Gaza ,tak kenal aturan, mau anak-anak, wanita, dokter, wartawan mereka habisi dengan biadab. Padahal sebenarnya itu melanggar aturan perang. bahkan bangunan sipil, seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat - tepat umum lainnya di bumi hanguskan. Dan hari ini kebijakan baru yang lebih mengerikan, hukuman mati untuk para tahanan. 

Di kutip dari lintas berita, sekitar 10.000 tahanan Palestina berada dalam ancaman eksekusi setelah waktu 90 hari. Ini bukan sekadar angka ini adalah nyawa manusia, keluarga, dan masa depan yang terancam hilang.

Jika keadilan masih berarti, maka ini saatnya bersuara. Tekanan global harus diberikan kepada organisasi internasional agar segera bertindak dan menghentikan tragedi ini sebelum terlambat. Diam adalah bentuk persetujuan. Bersuara adalah bentuk perlawanan.

Sungguh zionis laknatullah, namun di balik kejahatannya ternyata ada yang lebih mengerikan dari itu, ketika penguasa - penguasa muslim hanya berdiam diri melihat semua ini. Mengapa demikian? Inilah salah satu keburukan sistem kapitalisme. Di mana negara di bagi-bagi menjadi negara bagian agar terdapat sekat-sekat antar bangsa, dan pandangan tentang nasionalisme telah menjadikan negara hanya mencintai tanah airnya saja, membela negaranya saja, ketika terdapat masalah di negeri lain mereka menganggap bukan urusan mereka.

Tak hanya itu, penguasa- penguasa muslim tidak dapat membantu palestina di sebabkan perjanjian dagang antar Amerika, sehingga mereka takut ketika membela Palestina akan terputus kerja samanya atau bahkan ikut di perangi juga. Ibarat kata penguasa muslim hari ini adalah boneka atau antek-anteknya Amerika. Mereka tunduk di bawah kekuasaan Trum, maka akan mustahil jika mereka mau melawan tuannya.

Kemudian ketiadaan khilafah merupakan peran yang sangat penting dalam masalah pembebasan Al Aqsa. Sebab, negara khilafah akan membela kehormatan saudara muslim kita dengan mengirim tentaranya untuk membebaskan Al Aqsa. Karena sesungguhnya muslim itu bersaudara dan seperti satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang sakit maka tubuh yang lain akan segera mengobatinya. Begitu pula dengan saudara kita muslim di berbagai belahan dunia, jika ada yang terzholimi, maka sudah sepatutnya muslim yang lain membelanya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak