Oleh : Nita Karlina
Tragedi anak SD, Yohanes Bastian Roja (10), mengakhiri hidupnya sendiri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tak mampu membeli pena dan buku akibat kemiskinan, menjadi sorotan masyarakat luas. (Kumparan.com, 05/02/2026)
Sebelum bunuh diri, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan karena ibunya tidak punya uang.
Tragedi ini, menjadi pukulan besar bagi kita masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Seorang anak kecil yang usianya baru 10 tahun punya pemikiran yang mungkin di luar nalar anak pada umumnya. Bukan karena harga buku dan pena yang mungkin hanya sekitar 10 ribu rupiah, tapi anak ini telah menjalani kehidupan dalam kemiskinan yang cukup berat.
Ayahnya meninggal sejak ia masih dalam kandungan, ibunya memiliki 5 orang anak, dan hidupnya hanya mengandalkan hasil kebun. Bahkan dia sering di titipkan sama neneknya yang sudah berusia lanjut karena beban ekonomi. Ubi dan pisang sudah menjadi makanan sehari - hari mereka. Dan yang lebih memprihatinkan lagi keluarga itu tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.
Miris, sedih, kecewa, rasanya semua bercampur jadi satu ketika mendengar berita ini. Seorang anak yang semangat ingin belajar, namun terpatahkan karena kemiskinan. Seharusnya ini menjadi alarm besar bagi pemerintahan kita saat ini. Dimana peran negara dalam menanggulangi masyarakatnya yang hidup dalam kemiskinan.
Berita ini sesungguhnya hanya satu dari sekian banyak kasus kemiskinan yang ada di Indonesia. Akan kita dapati lebih banyak lagi di luaran sana yang hidupnya tidak layak dan tidak di perhatikan pemerintah setempat.
Inilah negeri kita, negeri yang katanya kaya akan sumber daya alamnya namun masih banyak masyarakatnya yang tidak mendapatkan kesejahteraan dalam hal ekonomi. Bahkan dengan ikutnya pemerintah dalam menandatangi board of piece yang di bentuk Amerika berarti indonesia telah menyumbang ribuan triliun rupiah untuk Amerika.
Ekonomi merupakan salah satu masalah negeri kita yang tak kunjung reda, bukannya menurun tetapi angka kemiskinan makin meningkat. Di tambah dengan berbagai kebijakan pemerintah yang pro terhadap rakyatnya, menjadikan hidup dalam sistem sekarang sungguh menyedihkan. Kurangnya lapangan pekerjaan, bahan makanan yang selalu naik harganya, di tambah pajak yang begitu besar, adalah segelintir kehidupan kecil kita yang sulit. Belum biaya pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang itu juga butuh anggaran yang sangat menguras dompet.
Itulah salah satu penyebab masyarakat kita sakit mental, kurang produktif dan terkadang putus asa dengan kehidupan ini. Rakyat kita butuh pendidikan gratis bukan makanan gratis. Itu adalah sebagian dari suara hati rakyat kita. Dan dari kasus anak bunuh diri ini menjadi bukti nyata hilangnya peran negara dalam menaungi rakyatnya. Negara hanya menjadi regulasi untuk rakyatnya, karena sesungguhnya pemilik kekuasaan adalah mereka para oligarki.
Berbeda dengan Islam, dalam Islam kesejahteraan merupakan hak setiap rakyatnya. Jika kepala negara membiarkan rakyatnya kelaparan, maka azab Allah sudah pasti akan menimpanya. Itulah mengapa dalam Islam orang takut untuk menjadi pemimpin. Karena pertanggung jawaban yang amat besar sedang di pikulnya.
Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda :
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. (HR. Bukhari & Muslim)
Kita dapat jumpai contoh teladan bagi kita semua pada masa pemerintahan Islam yang berdiri tegak di bumi ini kurang lebih 13 abad lamanya. Dan sejarah Islam telah mencatat masa kegemilangan Islam adalah satu-satunya peradaban yang terbaik di seluruh dunia.
Sebagaimana kisah Umar bin Khattab yang mendapati rakyatnya kepalaran. Pada suatu malam, Umar bin Khattab berkeliling Madinah untuk melihat langsung keadaan rakyatnya. Dari kejauhan ia melihat api menyala. Ketika didekati, ternyata ada seorang ibu dan anak-anaknya yang menangis kelaparan. Di atas api hanya ada panci berisi air dan batu, sekadar menenangkan anak-anak agar mengira makanan sedang dimasak.
Umar sangat terkejut dan menangis. Ia berkata dalam hati, “Celakalah Umar, bagaimana engkau akan mempertanggungjawabkan mereka di hadapan Allah?”
Tanpa menyuruh siapa pun, Umar memikul sendiri gandum dari Baitul Mal ke rumah wanita itu. Meski ditawari bantuan oleh pengawalnya, ia menolak sambil berkata,
“Apakah engkau mau memikul dosaku di hari kiamat?” Umar lalu memasakkan makanan dengan tangannya sendiri hingga anak-anak itu kenyang dan tertawa. Ia baru pergi setelah yakin mereka benar-benar aman.
Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa pemimpin itu seharusnya seperti itu ketika mendapati rakyatnya kelaparan. Dengan di landasi rasa takut kepada Allah, maka dengan cepat dan segera ia bergegas menangani pokok permasalahannya. Bahkan sejarah Islam pernah mencatat tindak kejahatan hanya terdapat 300 kasus dalam setahun. Angka yang belum pernah negara mana pun memilikinya.
Dan pemimpin yang seperti itu kita tidak akan pernah jumpai dalam sistem kapitalis sekuler. Karena dari asasnya saja kita sudah bisa melihat bahwa agama tidak boleh ikut campur dalam urusan kehidupan. Sementara yang menjadikan dia adil dan bijaksana adalah karena ketakutan dan ketundukannya kepada sang pencipta yaitu Allah SWT. (Wallahualam bishowwab)
