Gencatan Senjata dan Perdamaian hanyalah Sandiwara Zionis, Jangan Terkecoh!



Oleh. Lilik Yani (Muslimah Peduli Umat)

Zionis menawarkan gencatan senjata, tak lama diingkari. Palestina dibom tanpa ada belas kasihan. Sudah berapa kali janji itu diingkari, mengapa masih percaya? Kini ada lagi ide zionis untuk mengukuhkan penjajahan di Palestina. Perdamaian antara Israel dan Palestina, mana mungkin terjadi? 

Zionis tak pernah akan rela melihat umat Palestina hidup tenang. Zionis akan terus mencari cara agar Palestina terus dalam kondisi terjajah, bahkan kalau bisa Palestina lenyap dari peredaran dunia. Zionis kejam dan serakah, mana mungkin menawarkan gencatan senjata dan perdamaian?

Dilansir dari CNN Indonesia -- Militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menggempur habis-habisan Jalur Gaza, Palestina, pada Rabu (4/2). Imbas serangan Israel 23 orang termasuk anak-anak tewas. (5/2)

Israel kembali melancarkan serangan udara dan tembakan tank di Jalur Gaza pada Rabu (4/2/2026).Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 21 warga Palestina. Insiden ini menjadi kekerasan terbaru yang mengancam stabilitas gencatan senjata di wilayah kantong Palestina tersebut. Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi bahwa dari total korban jiwa, enam di antaranya adalah anak-anak. (Kompas.com, 5/2/26)

Tidakkah fakta kekejaman zionis membuka mata para pemimpin dan umat sedunia. Kezaliman zionis sudah di luar nalar kemanusiaan, masihkah dibiarkan? Menunggu kejadian dahsyat seperti apa lagi hingga membuat hati luluh dan sadar betapa umat Palestina sudah  berada dalam kezaliman yang tak bisa ditoleransi.

Apakah harus menunggu Palestina musnah baru sadar betapa kuatnya umat Palestina menjaga tanah mulia warisan para Nabi? Kita berhutang budi pada umat Palestina, mau dibayar dengan apa? Lantas bagaimana pertanggungjawaban para pemimpin jika membiarkan umat Palestina dalam cengkeraman penjajah zionis yang sudah mati rasa?

Gencatan Senjata bukan Solusi untuk Palestina

Gencatan senjata di Palestina, khususnya Gaza, sering kali dianggap bukan solusi permanen karena hanya bersifat sementara, sering dilanggar, dan tidak menyelesaikan akar masalah seperti pendudukan Israel, blokade, serta hak kemerdekaan Palestina. Gencatan senjata cenderung hanya memberikan jeda kemanusiaan namun gagal menghentikan konflik secara substansial. 

Berikut adalah poin-poin mengapa gencatan senjata dianggap bukan solusi jangka panjang. Sejarah menunjukkan gencatan senjata mudah dilanggar oleh Israel, dengan ratusan pelanggaran tercatat bahkan saat kesepakatan berlaku. Gencatan senjata tidak mengakhiri pendudukan, perluasan pemukiman, atau pengepungan di Gaza.

Liga Arab dan berbagai pihak menekankan bahwa perdamaian sejati memerlukan solusi politik yang komprehensif dan kemerdekaan Palestina, bukan sekadar penghentian pertempuran.
Beberapa analisis menunjukkan gencatan senjata sering digunakan untuk menyusun ulang strategi, sementara misi Israel untuk menguasai atau menghancurkan kemampuan perlawanan di Gaza berpotensi berlanjut. Gencatan senjata merupakan kebutuhan mendesak untuk bantuan kemanusiaan dan menghentikan korban jiwa sementara, tetapi bukan penyelesaian akhir dari konflik Palestina-Israel. 

Badan Perdamaian tidak bisa jadi solusi Palestina

Pernyataan bahwa badan perdamaian dunia—termasuk mekanisme di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun inisiatif baru seperti Board of Peace (BoP)—bukanlah solusi mutlak bagi Palestina merupakan pandangan yang berkembang, terutama melihat ketidakmampuan mekanisme tersebut menghentikan konflik secara permanen. 

Berikut adalah beberapa alasan mendasar mengapa badan perdamaian dunia sering dinilai gagal menjadi solusi utama di Palestina. PBB dianggap impoten karena Amerika Serikat secara konsisten menggunakan hak veto untuk memblokir resolusi yang mendukung Palestina atau mengecam tindakan Israel, sehingga resolusi sering kali tidak efektif.

Lembaga internasional sering kali tidak memiliki kekuatan untuk memaksakan kepatuhan terhadap hukum internasional atau menghentikan pendudukan dan perluasan permukiman ilegal Israel.
Adanya kekhawatiran bahwa badan perdamaian baru (seperti Board of Peace yang dibentuk di bawah Trump) sebenarnya adalah alat uni lateral yang tidak sepenuhnya mewakili Palestina dan berpotensi hanya menguntungkan aktor kuat tertentu, bukannya menghadirkan keadilan yang substansial.

Meskipun PBB mendorong solusi dua negara, implementasinya macet karena faktor politik, keamanan, dan ketidakadilan kronis yang dihadapi rakyat Palestina.
Pendekatan perdamaian yang dipaksakan oleh pihak luar (asing) sering kali mengabaikan aspirasi dan hak dasar rakyat Palestina untuk menentukan nasib mereka sendiri, sehingga perdamaian tidak berkelanjutan. 

Posisi Indonesia Terkait Board of Peace (BoP). Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa keikutsertaan dalam Board of Peace bukanlah solusi akhir atau bentuk normalisasi politik, melainkan langkah strategis kemanusiaan. Tujuannya adalah mengawal transisi, stabilitas, dan rehabilitasi di Gaza, dengan tetap berorientasi pada kemerdekaan Palestina dan Two-State Solution. 

Secara keseluruhan, banyak pihak menilai bahwa tanpa penegakan keadilan yang tegas dan pengakuan kedaulatan Palestina yang nyata, badan perdamaian dunia hanya akan menjadi forum administrasi konflik, bukan penyelesai akar masalah.

Solusi Palestina Menurut Islam

Membela Palestina adalah bagian dari jihad fi sabilillah dalam arti luas. Rasulullah saw bersabda bahwa umat Islam adalah bagaikan satu tubuh; jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh merasakannya.
Kondisi rakyat Palestina yang ditindas seharusnya menjadi rasa sakit kolektif bagi umat Islam di seluruh dunia.

Dalam syariat, membela saudara seiman yang dizalimi merupakan kewajiban. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw: “Tolonglah saudaramu, baik ia dalam keadaan menzalimi atau dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana menolongnya jika ia menzalimi?” Beliau menjawab, “Cegah dia dari kezalimannya, itulah bentuk menolongnya.” (HR. Bukhari).

Maka, Palestina dalam Pandangan Islam adalah cermin sejauh mana umat ini mampu menjalankan perintah Allah untuk menegakkan keadilan dan melawan penindasan.

Di balik penderitaan yang tiada henti, rakyat Palestina justru menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa. Mereka tetap melaksanakan shalat di Masjid Al-Aqsha meski berada di bawah penjagaan ketat. Anak-anak belajar Al-Qur’an di balik reruntuhan. Para ibu menyiapkan makanan seadanya sambil menanamkan keberanian pada anak-anak mereka.

Fenomena ini menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam di seluruh dunia. Palestina dalam Pandangan Islam bukan hanya tentang kewajiban membela, tetapi juga tentang mengambil inspirasi dari keteguhan hati mereka dalam mempertahankan iman.

Membela Tanah Suci Bukan Pilihan, Tapi Kewajiban. Palestina bukan sekadar isu politik internasional. Bagi umat Islam, Palestina adalah amanah. Allah telah memilih tanah ini sebagai bagian dari perjalanan spiritual Rasulullah saw, dan setiap Muslim memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaganya.

Palestina dalam Pandangan Islam adalah panggilan iman yang tidak boleh diabaikan. Palestina dalam Pandangan Islam adalah tanah yang diberkahi, simbol persatuan umat, dan amanah suci yang harus dijaga. Membela Palestina bukan hanya pilihan moral, tetapi kewajiban syar’i yang melekat pada setiap Muslim. Tak cukup hanya dengan doa, sedekah, dan solidaritas, umat Islam dapat membuktikan bahwa mereka tidak berpaling dari amanah ini. 

Palestina tak akan teratasi dengan gencatan senjata maupun badan Perdamaian. Jika solusi itu yang berulang ditawarkan, pemimpin negeri jangan terkecoh. Sudah berkali-kali dibohongi zionis, tidak jerakah? Solusi untuk Palestina hanyalah dengan jihad, mengerahkan pasukan militer untuk melawan militer. Juga dengan diterapkannya syariat Islam dalam sebuah negara dengan satu komando kepemimpinan.

Wallahua'lam bissawab


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak