WAJAH HOROR DEMOKRASI, BANYAK TEROR BERAKSI





                         Ummu Aqeela
 
Pemerintah mengungkapkan keprihatinannya kepada sejumlah konten kreator (influencer) di media sosial yang mendapat serangan teror dari orang tak dikenal. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengimbau agar masalah ini segera diselidiki sesuai hukum yang berlaku.
"Ya kita minta semua diinvestigasi ya," kata Prasetyo Hadi saat dimintai keterangan oleh  wartawan di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 6 Januari 2026.

Meski begitu, Prastyo juga meminta pendapat dan kritikan serta masukan ke pemerintah sebaiknya disampaikan dengan cara yang baik dan lewat jalur yang telah disediakan. 
Prasetyo menambahkan bahwa dirinya tidak menghendaki adanya teror terhadap para pengritik pemerintah. 

"Tapi marilah kemudian kita menjadikan masalah itu kalau kami ya, mendewasakan diri sebagai bangsa, gitu. Intinya kalau ada sesuatu ya mungkin disampaikan dengan benar," imbuh Mensesneg. Metro TV/Syeha Alhaddar
 
Untuk diketahui, sejumlah kreator konten atau influencer mendapat ancaman dan teror di kediaman pribadi mereka, yakni Ramon Dony Adam alias DJ Donny, Sherly Annavita, dan Chiki Fawzi.
Adapun DJ Donny telah melaporkan teror yang terjadi di rumahnya oleh orang tidak dikenal, dan menyebut teror itu sudah terjadi dua kali yakni pada Senin (29/12) dan Rabu (31/12) dini hari.
Sherly Annavita juga mendapati mobilnya dicoret-coret oleh orang tidak dikenal, sementara Chiki Fawzi mendapat ancaman digital. Para influencer tersebut mengaku mendapat teror setelah menyampaikan kritik terhadap penanganan bencana di Sumatera oleh pemerintah.
 
Kasus di atas cukup membuktikan bagaimana karakter asli demokrasi yaitu anti kritik. Dan kasus-kasus disebabkan menyuarakan pendapatnya tentu saja akan memberikan efek psikologis terhadap masyarakat. Dalam demokrasi Kebebasan berpendapat dalam sistem ini ternyata hanya omong kosong belaka. Maka hal yang wajar jika ada pihak yang berbeda padangan politik akan dihadiahi teror bahkan sampai jeruji besi.
 
Bukan pola yang baru terjadi, bagaimana kekuasaan otoriter dijalankan bukan lagi melalui senjata, tapi melalui konstitusi. Demokrasi bisa berubah arah secara diam-diam melalui manipulasi hukum dan prosedur yang sah secara formal, namun bertentangan secara substansi. Indonesia pun tak luput dari potensi ancaman tersebut.
 
Berbeda dengan Islam. Pada saat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah Negara. Maka, semua pihak diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Islam membuka ruang diskusi dan ruang untuk melakukan muhasabah lil hukkam (koreksi atas kebijakan penguasa). 
 
Islam pun akan menetapkan sebuah kebijakan yang menjadi standar dan batasan baku dalam menyikapi perbedaan pendapat antara rakyat dan penguasa. Dan tidak akan ada standar ganda dalam menyikapi sebuah perbedaan pendapat. Standar yang digunakan dalam menyampaikan pendapat dalam Islam adalah pendapat tidak boleh meyalahi Syariat Islam. Artinya, apapun kritik yang disampaikan pada penguasa akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan selama pendapat tersebut tidak keluar dari aturan syariat Islam.
 
Kemudian, pendapat tidak menguntungkan pihak tertentu. Dalam Islam semua warga memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sehingga aturan yang diterapkan memungkinkan untuk tidak menguntungkan segelintir orang. Begitu pun dalam berpendapat, maka dapat dipastikan Islam tak akan berlaku berat sebelah hanya untuk kesenangan individu semata.
 
Yang terakhir, pendapat yang disampaikan pada penguasa adalah pendapat yang mengandung kemashlahatan bagi ummat. Sesuai dengan karakter Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, maka apapun aspeknya maka itu semua harus memberikan rahmat bagi siapapun. tidak dapat dipungkiri bahwa sebuah Negara pasti mendapatkan banyak tantangan dan persoalan, maka menjadi kewajiban semua pihak terutama penguasa dalam mencari jalan keluar yang shahih. Jalan keluar tersebut mungkin saja disampaikan oleh pihak-pihak yang kritis terhadap penguasa.
 
Selama pendapat bermuara pada solusi Islam dan memberikan kemashahatan.
Rosulullah bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhoi Allah SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah SWT keridhoin-Nya bagi orang tersebut sampai nanti hari kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah akan mencatatnya yang demikian itu sampai hari kiamat” 
 (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Wallahu’alam bish-showab
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak