Urgensi Jamaah Dakwah Islam Ideologis di Tengah Krisis Generasi




Oleh Fauziah Nabihah



Di tengah derasnya arus perubahan global, generasi muda hari ini tumbuh sebagai digital native. Realitas menunjukkan bahwa mereka tumbuh dalam “dunia digital yang nyaris tanpa jeda”.

Laporan Digital 2025 Global Overview Report mencatat Indonesia menjadi negara dengan persentase tertinggi masyarakat yang menggunakan ponsel untuk mengakses internet di dunia, yakni 98,7% penduduk usia 16 tahun ke atas mengandalkan smartphone untuk online dengan rata-rata penggunaan selama 7 jam per hari (cnbcindonesia.com, 13/09/2025). 

Meski gelombang digitalisasi yang melanda generasi muda hari ini sering dipuji sebagai tanda kemajuan. Namun dibalik kemudahan teknologi, tersimpan krisis yang jauh lebih serius: sekularisasi pemikiran dan hilangnya jati diri generasi Muslim. 

Penggunaan platform digital menyebabkan umat Islam—khususnya generasi muda dan kaum ibu—kehilangan jati dirinya sebagai Muslim dan pelopor perubahan.

Krisis ini bukan semata persoalan moral individual, melainkan buah dari paradigma kehidupan yang keliru, akibat masuknya paradigma sekuler-kapitalis yang menyingkirkan Islam sebagai pandangan hidup yang menyeluruh (Islam kaffah). Sekularisasi yang mengakar kuat—baik di dunia nyata maupun digital—inilah yang telah menjauhkan jati diri pemuda sebagai Muslim dan menguburkan potensi mereka sebagai pelopor perubahan.

Hal ini disebabkan karena media sosial, industri hiburan, dan platform digital tidak bebas dari nilai. Ia bekerja di bawah hegemoni ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan kesuksesan diukur dengan popularitas, materi, dan kebebasan tanpa batas. Akibatnya, pemuda Muslim kehilangan arah perjuangan.

Ruang digital yang dikendalikan oleh kapitalisme tidak hanya menjual produk, tetapi juga menanamkan nilai hidup yang menjauhkan agama dari kehidupan publik.

Di saat yang sama, kondisi kaum ibu pun tak kalah memprihatinkan. Peran mereka sebagai ummun wa rabbatul bayt—poros pendidikan generasi—tergadaikan secara sistemik. Sistem kapitalisme mendorong perempuan keluar dari peran strategisnya, menjadikannya komoditas ekonomi dan objek eksploitasi. 

Negara dalam sistem kapitalis-sekuler tidak membina kaum ibu dengan Islam kaffah, melainkan justru menambah beban mereka, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Dalam paradigma negara sekuler, agama dipinggirkan ke ranah privat. Islam dipahami sebatas agama yang mengatur perkara ibadah ritual saja, bukan sebagai sistem kehidupan. Negara memandang pemuda dan perempuan hanya sebagai sumber daya ekonomi dan pasar industri, bukan sebagai pe peradaban. Kebijakan pendidikan, ekonomi, dan budaya pun lahir dari paradigma non-Islam, sehingga mustahil melahirkan generasi berkepribadian Islam.

Di sinilah urgensi jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat nyata. Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ali Imran ayat 104,
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini menjadi landasan bahwa keberadaan jamaah yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah kewajiban syar’i sekaligus kebutuhan.

Rasulullah ﷺ telah mencontohkan metode perubahan yang sistematis: dimulai dari pembinaan pemikiran dan kepribadian Islam (tatsqif), dilanjutkan interaksi dengan umat untuk membongkar kebatilan sistem yang ada, hingga berujung pada penerapan Islam secara menyeluruh. Metode ini relevan hingga hari ini, ketika umat kembali dihadapkan pada kebuntuan sistem sekuler.

Metode inilah yang harus dihidupkan kembali. Kaum ibu dibina agar memahami peran strategisnya sebagai pendidik generasi. Generasi muda dibentuk menjadi pribadi yang berilmu, berideologi Islam, dan siap memimpin perubahan peradaban.

Sudah saatnya umat berhenti menggantungkan harapan pada pemerintah yang berdiri di atas paradigma sekuler-kapitalis. Perubahan hakiki tidak lahir dari tambal sulam kebijakan, melainkan dari perjuangan ideologis untuk menghadirkan Islam kaffah sebagai solusi total kehidupan.

Islam bukan sekadar agama spiritual, melainkan sistem kehidupan yang paripurna. Ia memiliki solusi atas segala persoalan manusia. Namun, solusi ini hanya akan terwujud jika umat berhenti berharap pada sistem sekuler dan mulai terlibat aktif dalam perjuangan dakwah Islam ideologis.

Sudah saatnya umat menyadari bahwa perubahan hakiki tidak lahir dari pergantian rezim dalam sistem yang sama, melainkan dari perubahan paradigma kehidupan. Jamaah dakwah Islam ideologis bertugas untuk membongkar kesalahan paradigma tersebut dan mengarahkan umat pada satu-satunya jalan keselamatan: penerapan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak