Krisdianti Nurayu Wulandari
Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kian masif, umat Islam dihadapkan pada tantangan serius berupa sekularisasi yang menggerus jati diri generasi muda. Baik di ruang nyata maupun ruang digital, pemuda Muslim semakin jauh dari identitasnya sebagai hamba Allah dan agen perubahan. Nilai-nilai Islam terpinggirkan, digantikan oleh gaya hidup individualis, materialistis, dan hedonis yang diproduksi serta disebarluaskan oleh sistem kapitalisme global.
Saat ini, banyak sekali fakta yang terjadi di depan kita bagaimana generasi muda terjerumus dalam berbagai persoalan serius. Diantaranya, akibat dari pengaruh digital ada anak yang tega membunuh ibunya.
Tidak sedikit juga anak yang kecanduan gim dan media sosial hingga kehilangan kontrol emosinya. Kemudian juga fenomena bullying, perjudian daring, pinjol, dan perilaku menyimpang lainnya semakin marak dan menunjukkan rapuhnya ketahanan moral generasi muda saat ini.
Kondisi ini juga diperparah dengan melemahnya peran kaum ibu. Padahal, dalam Islam, ibu memiliki posisi strategis sebagai ummun wa rabbatul bayt sekaligus pendidik generasi (madrasah pertama bagi anak-anak nya). Namun realitas hari ini menunjukkan banyak ibu terjebak dalam tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan standar hidup kapitalistik yang justru menjauhkan mereka dari fitrah dan peran utamanya sebagai seorang ibu. Kemudian, tidak sedikit juga dari mereka malah menjadi korban sistem yang memandang perempuan semata sebagai tenaga kerja dan objek komersial, bukan sebagai pilar peradaban.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Digitalisasi yang berkembang saat ini berada di bawah hegemoni kapitalisme yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga menyebarkan ideologi sekuler yang bertentangan dengan Islam. Negara yang mengadopsi sistem sekuler secara sadar membatasi peran agama pada ranah privat, sehingga generasi muda dan kaum ibu tidak mendapatkan pembekalan Islam secara kaffah. Dalam paradigma ini, agama tidak dijadikan sebagai landasan dalam mengatur kehidupan, melainkan hanya simbol spiritual tanpa daya mengubah realitas.
Sebab, dalam sistem saat ini yang menjadi asas adalah sekulerisme, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Alhasil, ketika akan berbuat sesuatu tidak lagi mendasarkan pada mana yang halal dan haram. Dalam sistem ini hanya mementingkan kepentingan individu dan juga materi semata.
Akar persoalan sesungguhnya terletak pada diterapkannya sekularisme dan kapitalisme sebagai asas bernegara. Ketika Islam disingkirkan dari ruang publik, maka pembentukan kepribadian Islam pun menjadi mustahil. Akibatnya, lahirlah generasi Muslim yang kehilangan arah perjuangan serta kaum ibu yang tercerabut dari peran strategisnya dalam mencetak generasi pemimpin perubahan.
Dalam situasi inilah, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen. Di tengah dominasi sistem kapitalisme, jamaah dakwah berperan membina kaum ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam yang kokoh serta kesadaran untuk memperjuangkan kebangkitan Islam. Jamaah dakwah ini mengajarkan dan membangun pola pikir dan pola sikap Islam yang menyeluruh sebagai bekal perjuangan perubahan sistemik.
Landasan keberadaan jamaah dakwah ini ditegaskan dalam firman Allah SWT pada QS. Ali Imran ayat 104, yang memerintahkan adanya sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Ayat ini menjadi dasar kewajiban terbentuknya jamaah Islam yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan, bukan sekadar aktivitas dakwah parsial dan individual.
Sejarah dakwah Rasulullah ﷺ juga menjadi teladan nyata. Pada fase Makkah, Rasulullah memulai dakwah dengan pembinaan (tatsqif) terhadap individu-individu terpilih, membentuk kepribadian Islam yang kuat dan ideologis. Tahapan ini kemudian dilanjutkan dengan interaksi intensif bersama umat, hingga akhirnya berujung pada istilāmul hukmi—penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan secara menyeluruh. Dalam proses ini, perempuan dan generasi muda memiliki peran penting sebagai pengemban dakwah dan pelopor peradaban.
Oleh karena itu, pembinaan ibu dan generasi muda melalui jamaah dakwah Islam ideologis bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Dari merekalah akan lahir generasi yang sadar peran, berani melawan arus sekularisme, dan siap memperjuangkan tegaknya Islam kaffah sebagai solusi bagi umat dan peradaban manusia. Wallaahu A'lam
Tags
opini