Pemimpin Kapitalistik: Tidak Mengutamakan yang Genting

Oleh Annida K. Ummah 
(Tangerang)



Bencana Sumatera belum memulihkan kondisi wilayah daerah setempat. Masyarakat masih menunggu bagaimana upaya penyelesaian pasca bencana. Dilansir Sindonews.com, presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa endapan lumpur akibat bencana alam banjir bandang dan longsor di Aceh menarik minat sejumlah pihak swasta untuk dimanfaatkan. Dirinya pun mempersilakan swasta yang berminat sehingga hasilnya bisa untuk pemasukan daerah. (sindonews.com, 1/1/26)

"Gubernur [Aceh] melaporkan, ada pihak-pihak swasta yang tertarik. Dia bisa memanfaatkan lumpurnya, di mana-mana. Jadi tidak hanya di sungai, di sawah dan sebagainya. Silakan, saya kira ini bagus sekali," kata Prabowo, Kamis (1/1/2026). "Kalau bisa lumpurnya, kalau swasta mau beli, silakan." (cnbcindonesia.com, 1/1/26)

Sementara BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban meninggal akibat banjir dan longsor di tiga provinsi Sumatera hingga Selasa, 6 Januari 2026, sebanyak 1.178 orang. Jumlah ini berdasarkan data Geoportal Data Bencana Indonesia milik BNPB. (Tempo.co, 6/1/26)

Jumlah korban masih terus diperbaharui, namun pemerintah menunjukkan watak kapitalistiknya dengan melempar tanggungjawab kepada pihak swasta demi keuntungan. Kebijakan salah prioritas, seharusnya mengutamakan bantuan pokok untuk masyarakat terdampak lebih dahulu. Solusi pragmatis ini tidak diiringi dengan regulasi yang jelas. Alhasil bisa mengakibatkan adanya eksploitasi oleh pihak swasta itu sendiri.

Pemerintah sebagai bagian dari negara berposisi sebagai pelindung. Selayaknya harus bertanggungjawab penuh secara maksimal dalam penanggulangan bencana ini.

Pemerintah dalam Islam akan mendahulukan kemaslahatan masyarakat di atas kepentingan materiil atau target politik lainnya. Islam melarang swastanisasi sumber daya alam yang menjadi milik umum. Maka penanganan lumpur bencana oleh pihak swasta dikhawatirkan akan menjadi objek eksploitasi alam selanjutnya.

Sebagai masyarakat yang beradab, berakal, beriman, dan berhati nurani sudah selayaknya memikirkan dengan serius penanganan bencana Sumatera ini. Mengupayakan segala daya agar masyarakat terdampak kembali hidup dengan layak seperti sedia kala. 

Mindset pemimpin adalah pelindung dan penanggungjawab akan berbeda aksinya dengan pemimpin yang memiliki mindset kapitalistik yang mementingkan pencitraan dan capaian palsu.

Mari kita merindu hadirnya pemimpin yang ber-mindset sebagai penanggungjawab dan pelindung rakyatnya. Mengutamakan yang genting di atas yang lainnya. Sudah saatnya hadir pemimpin Islam yang memiliki ideologi Islam, bukan yang lain. Wallahu a'lam bi Ash showwab[]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak