By : Arin Tanti
Sekularisasi baik di dunia nyata maupun di dunia maya, menyebabkan generasi kehilangan jati dirinya sebagai muslim dan pelopor perubahan. Baru-baru ini terjadi kasus di mana seorang anak (12) melukai ibunya menggunakan pisau dan berujung meninggal dunia. Peristiwa tersebut terjadi di Medan, Sumatera Utara pada Rabu (10/12/2025) lalu. Sang anak bangun dan mengambil pisau dari dapur, lalu melukai ibunya yang sedang tertidur.
Dalam konferensi pers, Senin (29/12/2025), Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak menyampaikan salah satu motif tindakan tersebut adalah sakit hati karena sang ibu menghapus game online. Selain itu, sang anak juga disebut sering kali memainkan game online yang menggunakan pisau dan menonton serial anime yang menampilkan pisau.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, mengatakan bahwa game online (terutama yang mengandung kekerasan) memiliki pengaruh terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan anak. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa paparan konten kekerasan yang intens dapat memengaruhi kondisi dan emosi, tetapi efeknya berbeda-beda pada setiap anak,” sambungnya.(kompas.com 23/12/2025).
Generasi Muda dan Kaum Ibu Tergerus Sekularisasi
Dengan adanya fakta yang terjadi diatas adalah akibat dari lalainya negara dalam menyaring dan mengontrol situs situs yang dapat membentuk dan mempengaruhi mental generasi muda saat ini.
Pada titik ini, sekularisasi makin mendapatkan panggung untuk menghancurkan generasi muda maupun kaum ibu. Arus deras sekularisasi sebagai asas kapitalisme, melejit melalui algoritma di dalam belantara digital. Berbagai konten liberal yang tersaji di media sosial pun membuat kedua generasi itu terjebak oleh standar kebahagiaan semu yang melenakan dan melalaikan mereka dari peran hakiki di dunia nyata.
Generasi muda adalah target kapitalisasi baru. Tanpa sadar, mereka telah mengikuti arus kapitalisasi. Banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai selebgram, influencer, juga kreator konten, semata-mata demi keuntungan. Mereka diiming-imingi proyek monetisasi sehingga tertarik menghasilkan cuan dengan cara instan.
Pada saat yang sama mereka juga berperan menjadi objek kapitalisasi digital dengan menjadi pasar pengguna ponsel pintar, kuota data internet, serta aplikasi dan platform digital. Sisi konsumerisme mereka dimainkan hingga tidak jarang ada yang tersesat mengakses aplikasi pinjol dan judol. Belum lagi konten-konten bermuatan kekerasan, aksi-aksi ekstrem, juga pornografi dan pornoaksi.
Berbagai transaksi ekonomi pun begitu mudah terjadi melalui platform digital, meski transaksi haram sekalipun. Juga kasus-kasus kriminal seperti kekerasan, tindak pidana perdagangan orang (TPPO), prostitusi daring, serta transaksi narkoba.
Sungguh, industri digital tidak ubahnya gaya hidup baru yang telah mengubah cara hidup masyarakat secara umum. Era digital bahkan telah menggeser identitas, standar kebahagiaan, dan cara pandang mereka terhadap kehidupan. Miris, para kapitalis digital hanya menjadikan generasi sebagai pasar dan pundi-pundi cuan. Realitas ini tentu bukan sinyal positif, melainkan gejala krisis jati diri sebagai kaum muslim dan pelopor perubahan.
Media sosial menjadi kecemasan tersendiri bagi ibu-ibu, khususnya terkait dampak arus deras informasi bagi anak. Mau tidak mau, para ibu zaman sekarang harus belajar dan menyiapkan diri mengenai tata cara mengasuh anak-anak yang merupakan generasi melek teknologi digital. Saat ini anak-anak telah menjadi penghuni ruang digital sepenuhnya, mereka berpotensi tumbuh menjadi individualistis. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, akan mengarah pada sifat antisosial.
Selain itu, alam digital telah menetapkan berbagai ekspektasi yang tinggi bagi para ibu. Ibu muda sering merasa tertekan untuk mencapai validasi seperti yang tampak di media sosial. Mereka ingin selalu tampil sempurna dalam setiap aspek pengasuhan anak sebagaimana standar para selebritas atau figur publik.
Semua realitas miris ini menunjukkan bahwa peran ibu telah tergeser. Di satu sisi, tidak sedikit dari mereka yang gagap teknologi. Sedangkan di sisi lain, mereka termasuk kalangan yang terjebak di dalam ruang pencitraan tanpa sadar akan peran hakikinya sebagai seorang ibu. Yang jelas, mereka semua sama-sama membutuhkan asupan informasi yang “sehat” perihal peran strategis seorang ibu. Para ibu tidak boleh tertipu dengan slogan pemberdayaan dan kemandirian ekonomi yang akan mencabut peran fitrahnya di ranah domestik dan penyiapan generasi masa depan, terlebih pada era digital seperti saat ini.
Generasi yang Lahir dari Ibu Tangguh
Generasi tangguh pelopor perubahan hanya lahir dari genggaman ibu hebat yang tangguh pula, yaitu ibu salihah yang bervisi surga dan paham bahwa hidupnya hanya untuk ibadah. Keyakinannya pada Islam sebagai way of life yang sahih, menjadikannya siap taat pada syariat Allah Taala tanpa syarat. Baginya dunia hanya tempat beramal sebagai bekal perjumpaan dengan Rabb–nya. Yang diinginkannya hanya rida Allah karena itulah arti kebahagiaan.
Ibu salihah juga memahami ada tanggung jawab peradaban yang mesti diperjuangkan, yaitu menghadirkan kembali kehidupan Islam yang tinggi dan mulia. Islam harus selalu eksis memimpin dunia dengan menebarkan rahmatan lil alamin dan membawa umat menjadi khairu ummah (umat terbaik). Oleh karena itu, ibu salihah akan terus menyempurnakan misinya sebagai ibu peradaban dengan mengoptimalkan peran strategisnya sebagai pendidik generasi pelopor perubahan.
Setiap muslimah cerdas pasti memeluk harapan menjadi ibu salihah yang tangguh. Bagi mukminah, ibu adalah peran mulia yang sangat prestisius. Menjadi ibu adalah kehormatan bagi mukminah demi menyempurnakan jalan hidupnya sebagai hamba Allah taala. Dan pada saat ini yang terjadi kondisi ibu sangat memprihatinkan terlihat dari degradasi peran mereka senbagai ummu warubnatul bayt dan pendidik genetasi,bahkan mereka menjadi korban sistem yang ada saat ini yaitu sistem kapitalis.
Generasi Muda dan Kaum Ibu sebagai Agen Perubahan
Di era digital adalah masa yang harus kita hadapi dengan cara pandang tertentu agar tidak tenggelam dalam arus sekularisasi di dunia maya. Manusia harus tetap berpegang teguh pada fitrah dan tujuan penciptaannya di muka bumi agar tidak mudah terbawa arus sekularisasi media digital.
Allah taala berfirman dalam QS. Albaqoroh ayat 29-30 :
السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (٢٩) وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (٣٠)
“Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (29). Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’ (30).” (QS Al-Baqarah [2]: 29—30).
Mengambil ibrah (pelajaran) dari ayat-ayat tersebut, demikianlah semestinya visi dan misi hidup seorang muslim di muka bumi. Sungguh generasi muda dan kaum ibu adalah kelompok yang memiliki peran sentral untuk kebangkitan Islam.
Selama ini, kapitalisme memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial, termasuk di dunia digital. Kapitalisme tidak segan menjauhkan mereka dari pemikiran Islam kafah, bahkan sangat arogan dalam menumbangkan konten dakwah Islam ideologis di dunia digital.
Oleh sebab itu, generasi muda dan kaum ibu harus sadar dan tidak boleh bersikap abai. Mereka adalah dua generasi yang sama-sama potensial menjadi subjek dakwah dan pelaku perubahan. Mereka juga memiliki amanah yang sama, yakni menegakkan sistem Islam kafah. Tidak sepantasnya mereka terjebak di ruang maya, padahal perguliran perubahan maupun hakikat interaksi dakwah terdapat pada kehidupan nyata.
Aktivitas dakwah adalah tanggung jawab bersama. Sinergi generasi muda dan kaum ibu akan berdampak besar untuk melejitkan dakwah dan meraih kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyah) di tengah-tengah umat. Semua ini dalam rangka mewujudkan perubahan hakiki dari kehidupan sekuler menuju tegaknya kehidupan Islam.
Tidak hanya itu, peran media digital harus diarahkan untuk mendukung fungsi penghambaan dan ketaatan manusia kepada Allah Taala, serta wasilah penyebaran dakwah, bukan malah menjadi tempat untuk bermaksiat pada-Nya. Media digital tidak boleh menjadi instrumen penjajahan dan pemantik krisis identitas kaum muslim sebagaimana perannya di bawah naungan ideologi kapitalisme.
Generasi muda dan kaum ibu memerlukan sebuah jemaah dakwah Islam ideologis yang tidak lain adalah sebuah kelompok dakwah yang bercita-cita melanjutkan kehidupan Islam dalam naungan sistem Islam (Khilafah). Jemaah ini membina mereka agar siap menjadi aktivis dakwah Islam ideologis dan pelaku perubahan hakiki.
Jemaah ini meneladan aktivitas dakwah Rasulullah saw. sejak masih di Makkah hingga tegaknya negara Islam di Madinah.
Pembinaan (tatsqif) adalah tahapan awal metode dakwah Rasulullah saw. di Makkah yang kemudian dilanjutkan dengan interaksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah) dan berakhir pada penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan (istilamul hukmi).
Di tengah penerapan sistem sekuler kapitalisme, kehadiran jemaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen untuk membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan kebangkitan Islam. Allah Taala berfirman,
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung" (QS Ali imran (3) 104).
Ayat di atas adalah landasan bagi kewajiban adanya jemaah/kelompok dakwah Islam di tengah-tengah umat yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan sistemis.
Untuk itu, salah satu aktivitas jemaah dakwah Islam ideologis adalah pembinaan, sebagai tulang punggung aktivitas untuk membangkitkan dan mencerdaskan umat, baik dari kalangan generasi muda, para ibu, maupun berbagai elemen umat lainnya.
Untuk itu, potensi dua generasi, yakni generasi muda dan kaum ibu hendaknya ditakar menurut kontribusi mereka di jalan Allah. Perbedaan generasi, ada yang tua dan muda adalah sunatullah, tapi jangan lantas dibiarkan ada gap, apalagi sampai dieksploitasi sehingga perbedaan yang ada bagai jurang yang makin dalam dan lebar.
Di dalam Islam tidak ada generation gap, yang ada adalah rangkaian dan ketersambungan antargenerasi, karena ketersambungan tersebut adalah modal besar dalam rangka melanjutkan perjuangan umat dan penyebaran risalah Islam. Perbedaan antargenerasi semestinya dijembatani agar terus terhubung satu sama lain.
Sungguh, Rasulullah saw. telah memberikan teladan bagi ketersambungan antargenerasi ini melalui pembinaan akidah dan tsaqafah Islam dalam jemaah dakwah Islam ideologis. Mereka yang telah siap menerima Islam, semuanya mendapatkan pembinaan dari Rasulullah saw.
Wallahualam bissawab.
Tags
opini