Setahun Tipu Daya “Solusi Palestina”: Penjajahan Kian Brutal, Dunia Terus Berpura-pura

Oleh Gesti Ghassani 



Setahun sudah dunia berbicara tentang “penyelesaian Palestina”. Namun yang tersisa hari ini bukan harapan pembebasan, melainkan jejak tipuan yang semakin nyata. Palestina tidak semakin merdeka justru kian tercekik. Gaza dilaparkan, Tepi Barat dicaplok, dan Israel melenggang tanpa rasa takut, seolah dunia ini memang disediakan untuk kejahatan mereka.

Di saat wacana gencatan senjata dan solusi dua negara terus diperdagangkan, Israel justru menyetujui pembukaan 19 permukiman ilegal baru di Tepi Barat. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum internasional, melainkan deklarasi terbuka bahwa Israel tidak pernah berniat berdamai.

Penyerangan pemukim ilegal terhadap warga Palestina, perampasan ternak, dan teror harian berlangsung tanpa henti. Sementara itu, genosida Gaza yang merenggut puluhan ribu nyawa perlahan menghilang dari tajuk utama media, seolah nyawa Muslim Palestina tak lagi layak diperjuangkan (Antara News; CNN Indonesia).

Inilah wajah asli “penyelesaian Palestina” ala dunia hari ini: retorika damai di meja diplomasi, kebiadaban di lapangan nyata. Solusi dua negara, gencatan senjata, hingga paket-paket politik warisan Barat seperti “20 poin Trump” sejatinya hanyalah alat peninabobokan. Tujuannya bukan membebaskan Palestina, melainkan memberi waktu bagi Israel untuk mengokohkan penjajahan secara permanen.

Jika ditelisik lebih dalam, Israel sedang menjalankan proyek besar: menguasai seluruh Palestina, sekaligus menegaskan dirinya sebagai kekuatan arogan yang kebal hukum. Setiap kecaman internasional diperlakukan sebagai angin lalu. Resolusi PBB diabaikan. Protes kemanusiaan dipatahkan. Ini menunjukkan satu hal: Israel bertindak bukan karena merasa benar, tetapi karena tahu tak akan dihentikan.

Lebih dari konflik wilayah, kebrutalan ini mencerminkan permusuhan ideologis Zionisme terhadap Islam dan umat Islam. Masjid dihancurkan, anak-anak dibunuh, kelaparan dijadikan senjata perang, semua dilakukan tanpa rasa bersalah. 

Dunia internasional pun terbukti tak berdaya. Atau lebih tepatnya, memilih untuk tidak berdaya. Standar ganda dipelihara, hukum internasional dikubur, dan kemanusiaan dijual murah demi kepentingan politik global.

Islam telah lama mengingatkan tentang kaum yang membuat kerusakan di muka bumi, menumpahkan darah, dan menolak kebenaran. Apa yang dilakukan Israel hari ini adalah pengejawantahan nyata dari peringatan Allah SWT dalam Al-Qur’an. 

Namun ironisnya, sebagian umat Islam justru masih berharap pada sistem dan aktor yang sejak awal memelihara penjajahan ini. Padahal Islam dengan tegas melarang kaum Muslim memberikan loyalitas kepada pihak yang memusuhi dan memerangi Islam. 

Dalam kitab Syakhshiyah Islamiyah Jilid II, dijelaskan hukum larangan wala’ kepada orang kafir yang memerangi kaum Muslim. Ketergantungan pada negara-negara penjajah dan sekutunya bukanlah jalan keselamatan, melainkan jebakan yang terus berulang.

Sirah Rasulullah Saw juga memberi teladan yang jelas. Terhadap negara dan kelompok yang memusuhi Islam serta mengkhianati perjanjian, Rasulullah bertindak tegas demi menjaga kehormatan dan keselamatan umat, sebagaimana dibahas dalam kitab Daulah Islam. Islam tidak mengajarkan tunduk pada kezaliman yang dilembagakan.

Karena itu, selama umat Islam masih percaya pada solusi palsu buatan penjajah, Palestina akan terus berdarah. Pembebasan sejati tidak lahir dari meja perundingan yang dikendalikan musuh, tetapi dari penerapan Islam secara menyeluruh. 

Dari sudut pandang ideologis Islam, hanya jihad dan tegaknya Khilafah yang diyakini mampu menghentikan arogansi Israel, memutus rantai kejahatan kemanusiaan, dan membebaskan Palestina secara hakiki. Tanpa itu, satu tahun, sepuluh tahun, atau seratus tahun “penyelesaian” Palestina hanya akan menjadi rangkaian konspirasi yang menjauhkan umat dari pembebasan sejati

Waallahualam bisshawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak