Sahabat Taat : Sahabat Seiman, Seperjuangan

Oleh : Ummu Zeyn


Pernahkan kita bermasalah dengan seseorang yang kita anggap sebagai sahabat??
Tentu pernah bukan? Adakalanya kita merasa tersinggung, kecewa dan kesal dengan sahabat.

Itu adalah hal yang wajar, mengingat kita adalah manusia yang tidak luput dari kekurangan dan khilaf. Disisi lain, manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin dapat hidup menyendiri tanpa bersinggungan dengan manusia lain. Oleh sebab itu, permasalahan dengan manusia lain pasti akan selalu ada ketika kita berhubungan dengannya, termasuk dalam hubungan persahabatan.

Namun, jangan sampai permasalahan dengan seorang sahabat membuat kita ingin memutuskan hubungan dengannya, apalagi hanya karena masalah yang kecil. Terlebih, ketika kita tahu bahwa sahabat kita itu adalah orang yang senantiasa mengingatkan kita kepada ketaatan dan menjauhkan kita dari hal-hal buruk berupa kemaksiatan.

Umar bin Khattab pernah berkata,

ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به

“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” (Quutul Qulub, 2: 17)

Hasan albasri Rahimahullah juga pernah berkata :
استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil, 4: 268)

Maka, seberat apapun permasalahan kita dengan sahabat, hendaklah diselesaikan dengan cara yang bijak, karena sungguh orang yang taat sangat kita butuhkan untuk membersamai kita menuju jalan yang tepat dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan godaan ini. 
Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28)

Sungguh, ketika kita melepaskan diri dari seorang sahabat yang senantiasa membawa kita kepada ketaatan tersebab suatu hal yang sepele, entah itu rasa kesal, kecewa, ataupun marah, hal itu hanya akan membuat kita rugi, karena dalam surat al-kahfi ayat 28 diatas sudah Allah katakan, bahwa hendaknya kita senantiasa bersabar bersama orang-orang yang selalu menyeru kepada jalan Tuhan-Nya.

Memiliki sahabat taat adalah suatu kenikmatan besar yang jangan sampai kita sia-siakan, karena merekalah yang senantiasa akan mengingatkan kita ketika kita khilaf, dan senantiasa menuntut kita menuju jalan yang tepat. Sungguh, di zaman saat ini, kehidupan kita serba keras, banyak pengaruh negatif diluaran sana yang siap mewarnai kehidupan kita. Jika tidak ada sahabat taat yang menjadi pengingat, mungkin kehidupan yang penuh dengan kemaksiatan menjadi jalan yang kita ambil tanpa ada rasa bersalah.

Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94)

Sahabat taat ialah orang yang senantiasa menjadi tameng diri kita untuk menghindari kemaksiatan, dan senantiasa menjadi penarik atau memotivasi kita untuk selalu berada di jalur yang benar. Ia adalah yang setiap perkataannya mengandung kebaikan, yang didalam perilakunya ada keteladanan dan di dalam sikapnya ada kedamaian yang senantiasa menyejukkan.

Maka ketika kita sudah memiliki sahabat taat, genggamlah ia erat-erat, dan senantiasalah untuk bersama-sama menuju jalan ketaatan dan menegakkan kebenaran.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak