Kekerasan di Dunia Pendidikan: Alarm Keras Rusaknya Sistem Hari ini

Oleh: Saffana Afra (Aktivis Mahasiswa)



Peristiwa pengeroyokan seorang guru SMK oleh murid di Jambi yang viral di media sosial bukan sekadar kejadian kriminal biasa. Ia adalah potret buram dunia pendidikan hari ini, sebuah alarm keras bahwa relasi guru dan murid tengah berada pada titik krisis yang mengkhawatirkan. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan bertumbuh justru berubah menjadi arena konflik dan kekerasan.

Berdasarkan keterangan guru berinisial A, kejadian bermula saat proses pembelajaran berlangsung di kelas. Ia menegur seorang siswa yang dianggap bersikap tidak pantas. Namun teguran tersebut dibalas dengan sikap tidak hormat, bahkan disertai teriakan kata-kata kasar dan tidak pantas. "Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata A, sebagaimana dilansir detikSumbagsel, Kamis (15/01/2026).

Sementara itu, di sisi lain sejumlah siswa mengaku bahwa A telah menghina salah satu murid dengan perkataan 'miskin' yang memicu keributan tersebut. Namun, menurut A, perkataan itu konteks motivasi dan tidak bermaksud menghina. Tuduhan ini menambah kompleksitas persoalan, sekaligus menunjukkan bahwa konflik tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari relasi yang telah lama bermasalah.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menilai peristiwa ini sebagai pelanggaran hak asasi anak. Anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang aman, bebas dari kekerasan fisik maupun verbal, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan Undang-Undang Perlindungan Anak (detik.com, 15/01/2026). Namun ironisnya, ruang pendidikan yang seharusnya melindungi justru kerap menjadi sumber trauma.

Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan guru dikeroyok murid bukanlah konflik personal semata atau luapan emosi sesaat. Ia adalah cerminan problem struktural dalam sistem pendidikan. Relasi guru-murid yang semestinya dibangun di atas rasa hormat, keteladanan, dan kasih sayang kini bergeser menjadi relasi yang penuh ketegangan, kecurigaan, dan bahkan permusuhan.

Di satu sisi, perilaku murid yang kasar, tidak sopan, dan kehilangan adab terhadap guru jelas tidak dapat dibenarkan. Hilangnya rasa hormat terhadap pendidik menunjukkan kegagalan pembinaan karakter sejak dini. Namun di sisi lain, tidak bisa diabaikan fakta bahwa sebagian guru pun terjebak dalam praktik pendidikan yang keliru, mengajar dengan kemarahan, hinaan, dan kekerasan verbal yang melukai psikologis murid. Ketika murid direndahkan, dicap bodoh, atau dihina latar belakang keluarganya, luka batin pun terbentuk dan mudah berubah menjadi perlawanan.

Kedua pihak akhirnya terperangkap dalam lingkaran konflik yang terus berulang. Murid melawan karena merasa tertekan, guru bereaksi keras karena merasa wibawanya diruntuhkan. Tanpa sistem nilai yang benar, konflik kecil pun dapat meledak menjadi kekerasan.

Akar persoalan ini tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan sekuler-kapitalis yang mendominasi hari ini. Sistem ini menjauhkan pendidikan dari nilai-nilai Islam dan menjadikannya semata-mata alat pencetak tenaga kerja. Sekolah diukur dari nilai, peringkat, dan capaian akademik, sementara pembentukan akhlak dan adab hanya menjadi slogan tanpa implementasi serius. Guru dibebani target administrasi, murid ditekan untuk berprestasi, tetapi keduanya miskin pembinaan ruhiyah dalam diri. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh secara moral dan emosional.

Islam memandang pendidikan secara sangat berbeda. Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi proses pembentukan manusia seutuhnya—akal, jiwa, dan akhlaknya. Rasulullah saw. menegaskan: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad). Ini menunjukkan bahwa akhlak bukan pelengkap, melainkan inti dari pendidikan.

Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid sejak dini dididik untuk menghormati guru (ta’dzim), memuliakan ilmu, dan menjaga lisan serta sikap. Menghormati guru bukan berarti membenarkan kezaliman, tetapi menempatkan guru sebagai sosok yang dimuliakan karena perannya dalam menyampaikan ilmu.

Di sisi lain, Islam juga meletakkan tanggung jawab besar di pundak guru. Guru bukan penguasa kelas yang bebas melukai murid dengan kata-kata kasar. Guru adalah figur teladan (uswah), pendidik yang mengajar dengan kasih sayang, kesabaran, dan kelembutan. Rasulullah saw. adalah contoh pendidik terbaik, dengan tidak pernah menghina, merendahkan, apalagi mempermalukan murid di hadapan orang lain.

Lebih jauh lagi, Islam tidak menyerahkan pendidikan semata kepada individu atau sekolah. Negara memiliki peran sentral dalam memastikan sistem pendidikan berjalan sesuai dengan akidah Islam. Rasulullah saw. bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.”(HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa penguasa (Negara) tidak boleh lepas tangan dari kewajibannya mengurus rakyat, termasuk di dalamnya pendidikan. Negara harus memastikan, kurikulum disusun berlandaskan akidah, sehingga setiap mata pelajaran, baik sains, bahasa, maupun keterampilan, diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.

Dengan sistem seperti ini, pendidikan akan melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak, berani sekaligus santun, kritis namun tetap beradab. Guru dihormati tanpa menjadi tiran, murid dilindungi tanpa menjadi liar.

Kasus pengeroyokan guru di Jambi seharusnya menjadi bahan muhasabah bersama. Selama pendidikan masih tercerabut dari nilai-nilai Islam, selama adab hanya menjadi wacana tanpa sistem yang menopangnya, konflik dan kekerasan akan terus berulang dalam berbagai bentuk. Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada hakikatnya: membentuk manusia beradab di bawah naungan sistem Islam yang menyeluruh.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak