Ruang Digital, Penjajahan Gaya Baru yang Mematikan

Oleh Ummu Faruq


Game Online, sesuatu yang nampak menyenangkan, tapi disisi lain banyak kasus kekerasan akibat terinspirasi dari game online. Mulai dari bullying, bunuh diri, teror bom di sekolah, bahkan yang terbaru adalah pembunuhan. Game yang nampaknya hanya sebatas permainan, namun ternyata memiliki dampak yang luar biasa. Hal ini disebabkan dalam banyak dari game online tersebut mengandung kekerasan yang dapat diakses dengan mudah oleh anak-anak. Hal ini berpengaruh terhadap emosi dan kesehatan mentalnya.

Platform digital adalah sarana penjajahan secara halus yang tidak disadari oleh korbannya. Jika penjajahan zaman dulu adalah penjajahan fisik yang dengan mudah disadari oleh korbannya, berbeda dengan hari ini. Platform digital sejatinya adalah penjajah yang sangat merusak, namun tidak disadari oleh penggunanya. Platform digital tidaklah netral, banyak nilai dan ajaran yang merusak dikemas dalam bentuk sesuatu yang menarik, salah satunya adalah game online.

Ruang digital hari ini dimanfaatkan oleh Kapitalisme untuk meraup cuan tanpa pedulikan kerusakan generasi yang ditimbulkan. Bukan hanya kekerasan, platform digital juga menampilkan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam. Pacaran, zina, membuka aurat, joget-joget, tidak menghormati orang tua, dan lainnya, seolah adalah hal yang biasa di ruang digital. Berbagai hal yang dulunya tabu, sekarang sudah nampak biasa karena terbiasa disaksikan di dunia maya. Inilah bukti nyata, penjajahan gaya baru itu secara halus telah berhasil menjajah korbannya tanpa terasa.

Hal ini tidaklah mengherankan, karena ruang digital hari ini dikuasai oleh Kapitalisme global yang berasaskan sekuler kapitalis. Sehingga penggunaan ruang digital bertujuan untuk meraup keuntungan dengan maksimal, tanpa memedulikan kerusakan generasi yang ditimbulkan. Karena memang tujuan utamanya adalah cuan, bukan perbaikan generasi.

Inilah bukti nyata bahwa negara tidak mampu melindungi generasi dari kerusakan yang disebabkan oleh ruang digital. Negara yang seharusnya berkewajiban meriayah rakyatnya dari berbagai macam kerusakan, malah turut serta memanfaatkan ruang digital untuk meraih keuntungan.

Maka, tidaklah mungkin hegemoni digital global yang dikuasai oleh Kapitalisme dapat dilawan kecuali dengan kekuatan kedaulatan digital Islam. Karena sejatinya berbagai macam kerusakan yang terjadi hanya dapat ditangkal dengan tiga pilar, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan perlindungan negara.

Dalam Islam negara memiliki peran penting dalam menjaga rakyatnya, sebagaimana hadits;
“Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.” 
[Hr. Bukhari dan Muslim]

Penjagaan ini diantaranya adalah mengontrol ruang digital agar sesuai dengan syariat Islam. Sehingga ruang digital dimanfaatkan untuk sarana dakwah dan penyebaran risalah Islam, bukan untuk bersenang-senang, atau bahkan bermaksiat. Bukan hanya itu, penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan, adalah satu-satunya solusi dalam permasalahan hari ini. Islam memiliki syariat yang sempurna dalam menjaga manusia, diantaranya sistem pergaulan, ekonomi, pendidikan, budaya, bahkan politik. Semuanya harus diterapkan untuk mewujudkan generasi peradaban Islam yang bersyakhsiyah Islam.
Wallahu a'lam bisshowab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak