Oleh: Ummu Zidan
Bulan Rajab senantiasa membawa ingatan umat Islam pada peristiwa agung Isra' Mikraj. Sayangnya, sejauh ini peringatan tersebut seringkali hanya dimaknai sebatas perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu ke Sidratul Muntaha untuk menjemput perintah salat lima waktu. Padahal jika ditelaah lebih dalam, Isra' Mikraj adalah pintu awal perubahan konstelasi politik umat Islam secara ideologis.
Isra' Mikraj, Lebih dari Sekadar Ritual
Fakta sejarah menunjukkan bahwa tidak lama setelah peristiwa Isra' Mikraj, terjadi Baiat Aqabah II. Ini adalah momentum penting di mana kekuasaan diserahkan kepada Rasulullah SAW untuk membangun tatanan baru di Madinah. Oleh karena itu, Isra' Mikraj bukan sekadar perjalanan ritual pribadi, melainkan peristiwa agung tentang amanah kepemimpinan dunia.
Sejatinya perintah salat yang turun dalam peristiwa tersebut memiliki aspek politis. Dalam berbagai hadis, salat sering digunakan sebagai kinayah bagi tegaknya hukum Allah. Larangan memerangi seorang pemimpin (Imam) selama ia masih menegakkan salat, hakikatnya adalah perintah untuk menaati pemimpin selama ia masih menerapkan hukum Allah secara totalitas.
Tahun ini menandai 105 tahun runtuhnya Khilafah, institusi yang selama berabad-abad menjadi perisai bagi penerapan syariat Islam secara kaffah. Sejak runtuhnya institusi tersebut, umat Islam kehilangan kemampuan untuk menerapkan syariat di seluruh penjuru bumi. Ketiadaan hukum Allah ini digantikan oleh sistem sekuler-demokrasi global yang menempatkan kedaulatan di tangan manusia, bukan di tangan Sang Pencipta, Allah SWT. Akibatnya, dunia hari ini menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global yang memicu berbagai krisis.
Berbagai bencana politik dan ekonomi telah terjadi hingga kekuatan umat melemah, sementara kuku-kuku para pemilik modal semakin mencengkeram akibat ketimpangan kekayaan dan penjajahan gaya baru. Berbagai bencana sosial pun meruntuhkan akhlak, moral dan kemanusiaan. Hal ini karena sekulerime materialisme telah melanda pemikiran kaum muslimin. Sehingga mereka semakin jauh dari nilai-nilai Islam.
Tidak diterapkannya hukum Allah juga mengakibatkan ketidakadilan di dunia Islam oleh penjajah Barat yang merupakan musuh Islam. Berbagai penindasan terjadi atas minoritas muslim di Rohingya, Uighur, India, hingga penjajahan panjang di Palestina.
Membumikan Kembali Syariat Islam
Memperingati Isra' Mikraj di masa sekarang semakin meningkatkan azam umat Islam untuk memperjuangkan kembalinya hukum Allah di tengah-tengah kehidupa manusia. Hal ini mustahil terwujud tanpa mencampakkan sistem sekuler-kapitalisme yang telah terbukti gagal membawa kesejahteraan rakyat. Momentum ini harus menjadi seruan lantang bagi seluruh umat Islam, terutama para pemilik kekuatan (ahlu quwwah). Umat ini memiliki kewajiban besar yang menjadi permasalah utama di dunia Islam, yaitu membebaskan Palestina dan menyatukan seluruh negeri-negeri Islam di bawah komando seorang pemimpin. Palestina adalah tempat suci yang menjadi titik tolak mikraj Rasulullah SAW , dan kini sedang mengalami penjajahan yang tidak terperi. Sedangkan menyatukan negeri muslim tiada lain dengan cara menghapus sekat-sekat nasionalisme yang memecah belah kekuatan umat.
Maka tiada jalan lain untuk mewujudkanya, selain menegakkan kembali Khilafah. Khilafah adalah institusi yang akan menerapkan syariat secara menyeluruh dan menghentikan kezaliman para penguasa kafir terhadap umat Islam di berbagai belahan dunia. Tegaknya kembali Khilafah Islam bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi kewajiban syar'i untuk mengembalikan kekuatan dan kemuliaan Islam di mata dunia.
Melalui partai Islam ideologis yang berjuang siang dan malam, umat diajak untuk sadar dan bergerak. Perjuangan menegakkan kembali kehidupan Islam adalah perjuangan terpenting dan mendasar yang harus disambut oleh setiap muslim yang merindukan keberkahan di atas bumi. Firman Allah SWT dalam surat Al-A'raf ayat 96.
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." Wallahu’alam bish-shawab.
Tags
opini