Oleh: Ai Hamzah
Memasuki musim penghujan, intensitas hujan di negeri ini mulai rentan. Hujan yang terus menerus turun menjadikan beberapa daerah rawan akan banjir. Bahkan daerah yang tadinya tidak berdampak banjir kini menjadi kepungan air. Air hujan yang tumpah ke permukaan tak bisa dibendung lagi. Menutup semua akses jalan dan permukiman warga.
Musim hujan yang setiap tahunnya datang sudah bisa diprediksi. Karena negeri ini berada digaris katulistiwa yang memiliki iklim tropis. Dimana terdapat musim panas dan musim hujan. Kedua musim ini mengakibatkan cuaca menjadi panas dan cuaca dengan curah hujan yang tinggi. Fenomena alam yang sudah menjadi kehendak Allah dan tidak bisa dirubah.
Hanya saja karena keserakahan dunia mengakibatkan keseimbangan alam menjadi timpang. Ketika Allah sudah menciptakan dunia dan segala isinya sesuai dengan kebutuhan manusia malah manusia itu sendiri yang merusaknya. Hutan-hutan yang seharusnya menampung tumpahan air dari langit berubah menjadi gundul dan ditanami tumbuhan yang tidak kuat menampung air dalam jumlah yang banyak. Serapan air yang seharusnya bisa menyerap air dalam jumlah besar kini berubah menjadi bangunan tinggi, perumahan, restoran atau tempat rekreasi. Tanpa lagi memperhatikan bagaimana aliran air itu agar tetap berjalan dengan baik.
Kapitalisme saat ini telah menggenapkan penderitaan masyarakat. Kehidupan materialis semakin mencengkram diberbagai lini. Akibatnya ketika curah hujan tinggi datang melengkapi kesengsaraan masyarakat dengan kepungan air. Banjir pun dimana-mana. Tanah longsor bahkan banjir bandang tak dapat terbendung lagi. Bencana demi bencana pun terjadi terus-menerus di negeri ini. Menghancurkan rumah-rumah masyarakat bahkan menghilangkan nyawa orang tua, anak dan keluarga mereka. Tak kuasa menahan bencana akibat tangan tangan yang serakah duniawi.
Allah berfirman dalam Al Qur'an;
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ ٣٠
Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu). QS. Asy Syura 30
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS. Ar Rum 41
Kerusakan yang nyata ini mengingatkan manusia agar kembali kepada jalan Allah. Kembali kepada syari'at Allah dengan taat akan seluruh perintah Allah. Dengan menegakkan hukum-hukum Allah dimuka bumi ini dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagaimana firman Allah:
أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمًا لِّقَوۡمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi kaum yang yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50).
Penerapan hukum-hukum Allah SWT secara keseluruhan/ kaffah oleh suatu negara adalah bentuk ketaatan paripurna. Ketaatan inilah yang menjadikan ketakwaan kolektif yang dilakukan oleh seluruh warga negara. Dimana akan mendatangkan berbagai ragam keberkahan dari langit dan bumi. Sebagaimana yang telah Allah SWT tegaskan:
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ
Jika saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka telah mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka itu (TQS al-A’raf [7]: 96).
Wallahu alam
Tags
opini