Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan aksi adu jotos antara seorang guru SMK 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra dengan siswanya. Aksi tersebut viral di media sosial.
Kejadian itu bermula dari perkataan Agus yang menghina salah seorang murid dengan perkataan miskin. Sontak hal itu menyulut amarah sejumlah siswa hingga keributan pun terjadi.
Konflik antara guru dan murid bukan kali ini saja, sebelumnya ada aksi mogok massal oleh para siswanya karena memprotes tindakan guru yang menampar murid yang kepergok merokok saat kegiatan bersih-bersih, seorang murid yang memukul gurunya hingga tewas karena ditegur saat belajar karena muridnya berulah, dan kekerasan lainnya yang bisa jadi kasus tersebut makin banyak.
Perlu dipahami bahwa sebenarnya pertikaian antara guru dan murid tidak boleh dipandang sekadar konflik personal, emosi sesaat, atau kurangnya pengawasan pihak sekolah. Ini adalah alarm keras dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja.
Relasi antara guru dan murid yang seharusnya dibangun berdasarkan penghormatan dan keteladanan, kini berubah menjadi ketegangan, bahkan berujung pada kekerasan.
Konflik yang terus berulang, tentu kita bertanya ada apa dengan sistem pendidikan negeri ini? Pendidikan seharusnya melahirkan peserta didik yang bertakwa, berakhlak, dan berkarakter, namun kita menyaksikan sendiri tidak sedikit tingkah laku anak didik makin liar, kasar, dan tidak hormat pada gurunya, begitu juga guru sebagai pendidik, ia telah kehilangan moral dan spiritual. Pada akhirnya mengharapkan generasi muda menjadi tonggak perubahan hanya mimpi.
Semua itu buah dari diterapkannya sistem pendidikan sekuler. Sistem ini menjauhkan anak didik dari akidah Islam sebagai pandangan hidup. Agama sebatas urusan pribadi yang tidak berpengaruh/membekas pada kehidupan anak-anak. Hal ini tampak pada materi pelajaran agama sebatas hafalan dan ibadah mahdah.
Sistem pendidikan yang sekuler sukses menjadikan anak didik kehilangan orientasi kehidupan untuk meraih rida-Nya. Belajar hanya mengejar ijazah dan status sosial, bukan pembinaan dan pembentukan karakter.
Berbeda dengan Islam. Sistem pendidikan dalam Islam bukan sekadar orang menjadi pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Karena itu, adab memiliki kedudukan penting dalam Islam. Imam Malik pernah berkata, "Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu."
Nasihat ini memilik makna mendalam, jika ilmu tanpa adab maka akan melahirkan kekerasan hati, kerusakan, dan kesombongan. Oleh karena itu, makin tinggi ilmu yang dimilikinya maka makin tinggi pula adab yang harus dijaga.
Di sisi lain, di setiap aspek kehidupan Rasulullah saw. mencerminkan akhlak mulia, tak hanya ibadah tetapi juga dalam interaksi sosial. Beliau selalu menunjukkan kasih sayang, kejujuran, kesabaran, lemah lembut, serta sikap rendah hati ke setiap orang, bahkan kepada mereka yang membencinya. Sebab itulah, diturunkannya Rasulullah saw. untuk menyempurnakan akhlak.
Selain itu, tujuan pendidikan tidak sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan syakhsiah islamiah yaitu pola pikir dan sikap terikat dengan akidah Islam.
Negara juga harus menjadikan akidah Islam sebagai dasar dari kurikulum pendidikan, bukan sekadar pelengkap mata pelajaran. Tidak ada pemisahan antara ilmu dan agama. Akidah Islam menjadi pondasi seluruh mata pelajaran dan aktivitas pendidikan.
Negara juga harus memperhatikan kesejahteraan guru dengan memberikan gajih yang layak untuk menopang kehidupannya dan memuliakan mereka secara moral, sehingga guru akan fokus menjalankan perannya sebagai pendidik sejati.
Inilah solusi untuk mengatasi problem dalam dunia pendidikan, khususnya konflik antara guru dan murid. Solusi ini hanya akan bisa diterapkan jika negeri yang mayoritas muslim menerapkan syariat Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.
Nining Sarimanah
Bandung
Tags
opini