Dunia dalam Cengkeraman Kapitalisme: Urgensi Kepemimpinan Islam yang Membawa Rahmat

Oleh Fauziah Nabihah

Tatanan dunia di bawah kepemimpinan ideologi kapitalisme yang dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS) semakin menunjukkan kerusakannya. Ragam krisis terus bermunculan dan meluas ke berbagai aspek kehidupan, mulai krisis ekonomi yang menciptakan jurang kemiskinan serta ketimpangan sosial yang kian tajam, krisis moral, krisis politik yang menampakkan kerakusan manusia akan harta dan kekuasaan, hingga krisis lingkungan yang memicu bencana alam terus berulang dan berkepanjangan. Dunia di bawah kendali AS dan ideologi kapitalismenya menyebabkan banyak negara, terutama negeri-negeri muslim, menjadi lemah, terjajah, menderita, dan semakin sekuler.

AS di bawah kepemimpinan Trump 2.0 pula, memang tanpa tedeng aling-aling menampakkan kerakusannya untuk menguasai dunia. Seperti serangan militer AS terhadap Venezuela pada awal Januari 2026 (kompas.id, 5/1/2025), Operasi ini berlangsung pada dini hari dan langsung menyasar pusat kekuasaan di Caracas. 

Presiden AS Donald Trump mengklaim telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan dalih untuk menegakkan hukum dan membawa Maduro ke pengadilan atas tuduhan terorisme narkotika pada 2020 (m.antara.news, 8/01/2026).

Hal ini menunjukkan karakter arogansi negara penjajah yang menyerang negara lain untuk menguasai kekayaan sumber daya alamnya. Sejalan dengan mimpi Trump untuk mewujudkan visi America First dengan slogannya “Make America Great Again (MAGA)”, yaitu visi untuk menjadikan negaranya kembali menjadi satu-satunya yang kuat, kaya, dan dihormati dengan memprioritaskan keamanan, ekonomi, dan nilai-nilai Amerika dalam setiap keputusan internasional. 

Dominasi ideologi kapitalisme sekuler seperti ini telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam. Kapitalisme menempatkan manusia sebagai subjek konsumsi tanpa mempertimbangkan nilai akidah, akhlak, dan kemaslahatan umat. Dalam tatanan ekonomi global yang berorientasi keuntungan, negara-negara Muslim sering kali menjadi objek eksploitasi, sementara agama terpinggirkan. Dampaknya, umat Islam mengalami kemunduran di banyak sektor: dari pendidikan hingga ekonomi, dari politik hingga budaya spiritual. Negeri-negeri muslim tidak lagi berpijak pada prinsip-prinsip Islam.

Selain itu, kerusakan ekologi telah banyak terjadi dipicu oleh keserakahan kapitalis yang mengabaikan tanggung jawab negara terhadap tata kelola lingkungan. Kerusakan tersebut tidak dapat dihindari saat alam dieksploitasi oleh segelintir orang dan dikelola tanpa aturan dari Sang Pencipta, Allah SWT.

Peristiwa ini semakin menegaskan bahwa tatanan dunia di bawah kepemimpinan sistem kapitalisme global penuh dengan kekacauan dan kerusakan, sehingga umat perlu diingatkan kembali perkara urgensi kepemimpinan global yang shohih, yaitu dengan penerapan sistem kepemimpinan Islam. Kepemimpinan politik Islam inilah yang akan membawa keadilan, rahmat, dan kemaslahatan seluruh alam, bukan sekadar keuntungan materi.

Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar posisi kekuasaan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT dengan memastikan kesejahteraan semua rakyatnya, individu per individu. Kepemimpinan Islam secara global dan menyeluruh menjanjikan bukan hanya perlindungan bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh manusia dari kezaliman, kemungkaran, dan kerusakan.

Allah SWT berfirman bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena ulah tangan manusia (QS. Ar-Rum: 30:41), dan hanya dengan aturan Islam yang berlandaskan pada al-Quran dan As-Sunnah yang  dapat mengatasi akar permasalahan tersebut.

Perjuangan menegakkan kembali kepemimpinan Islam tentu bukan hal mudah, tetapi merupakan jalan hakiki apabila ingin mewujudkan Islam rahmatan lil'alamin, yaitu bukan hanya bagi umat Islam tetapi bagi semesta alam. Sejarah mencatat, tatkala umat Islam hidup di bawah naungan Khilafah, mereka mampu tampil sebagai khairu ummah, umat terbaik yang memimpin peradaban cemerlang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak