Oleh: Resa Ristia Nuraidah
Penderitaan rakyat Palestina seakan tak menemukan ujung. Dari hari ke hari, dunia kembali disuguhi kabar serangan, pembunuhan warga sipil, penghancuran rumah, hingga pencaplokan wilayah yang terus dilakukan oleh rezim Israel. Bahkan di tengah situasi kemanusiaan yang kian genting, Israel melarang puluhan organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina. Bantuan dibatasi, akses ditutup, dan nyawa manusia dipertaruhkan tanpa ampun.
Situasi ini menunjukkan satu fakta pahit: selama negara Israel tetap eksis—diakui atau tidak oleh dunia—maka penderitaan rakyat Palestina hampir mustahil berakhir. Penindasan bukanlah insiden sesaat, melainkan bagian dari proyek jangka panjang. Israel terus melangkah menuju cita-cita “Israel Raya”, memperluas wilayah, memperkuat cengkeraman politik dan ekonomi, serta menyingkirkan Palestina dari tanahnya sendiri dengan segala cara.
Karena itu, membiarkan Israel tetap berdiri sama artinya dengan membiarkan penderitaan Palestina berlangsung tanpa batas waktu. Berbagai skema penyelesaian yang ditawarkan, terutama yang dipimpin Amerika Serikat, terbukti tidak menyentuh akar masalah. Alih-alih membawa keadilan, solusi-solusi tersebut justru menempatkan Palestina pada posisi yang semakin lemah—terjepit secara politik, tercekik secara ekonomi, dan terisolasi secara kemanusiaan.
Kecaman internasional, pernyataan keprihatinan, hingga permohonan agar Israel membuka jalur bantuan kemanusiaan, nyatanya tidak cukup. Semua itu hanya meredakan gejala, bukan menyembuhkan luka. Selama penjajahan tetap dibiarkan, bantuan hanya menjadi penyangga sementara bagi penderitaan yang terus direproduksi.
Lebih menyakitkan lagi, kondisi ini tak lepas dari pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Muslim. Ketika Palestina diserang, banyak dari mereka memilih diam, berkompromi, atau bahkan menjalin hubungan dengan penjajah. Padahal Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan tanah milik umat Islam yang dijajah dan dirampas secara sistematis.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa penderitaan umat tidak akan berakhir tanpa adanya kekuatan pelindung. Dalam konsep Islam, negara berfungsi sebagai junnah—perisai yang melindungi umat dari agresi musuh. Karena itu, penderitaan Palestina baru akan benar-benar berakhir jika umat Islam memiliki negara adidaya yang mampu menghentikan penjajahan, bukan sekadar mengutuknya.
Kesadaran umat untuk bangkit dan bersatu harus terus dikobarkan. Perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islam bukan sekadar wacana ideologis, tetapi kebutuhan nyata untuk melindungi umat dan membebaskan tanah-tanah yang dijajah. Tanpa perubahan mendasar pada tatanan politik global yang hari ini melanggengkan kezaliman, Palestina akan terus menangis, dan dunia hanya akan menjadi saksi bisu.
Pertanyaannya bukan lagi “kapan dunia peduli”, melainkan “kapan umat Islam bersatu dan mengambil peran sejarahnya kembali”. Sebab selama penjajahan dibiarkan, penderitaan Palestina akan terus berulang—hari ini, esok, dan entah sampai kapan.
[Wallahu a'lam bi Ash-shawāb]
Tags
opini
