Makna Hakiki Isra Mi'raj : Pembumian Syariat

Oleh : Linda Maulidia, S.Si



Peristia Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat Rasulullah Saw, yang selalu diperingati umat Islam. Ibrah atau pelajaran yang diambil dari peringatan itu tidak hanya mengenai diwajibkannya shalat lima waktu, namun juga mengandung isyarat kepemimpjnan atas seluruh agama, bangsa dan umat lain di seluruh dunia.

Prof. Rawwas Qal’ahjie telah menerangkan isyarat kepemimpinan itu dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah : Qira`ah Siyasiyah, menunjukkan isyarat-isyarat perpindahan estafet kepemimpinan dunia dalam Isra’ Mi’raj. Dalam peristiwa Isra’, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah Swt dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Di Masjidil Aqsha ini Rasulullah Saw shalat bersama para nabi dan Rasulullah Saw tampil sebagai imam. Di belakang Rasululah Saw adalah para makmum yang terdiri dari nabi-nabi, di antaranya Nabi Musa dan Nabi Isa, alaihima as-salaam.

Isra Mi'raj Titik Tolak Perubahan

Tidak lama setelah peristiwa Isra Mi'raj, dakwah Rasulullah Saw mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para pendatang di Makkah pada musim haji dan dakwah semakin meluas. Para kabilah dari negeri Yatsrib (kemudian menjadi Madinah) yang berjumlah 12 orang memeluknIslam dan berjanji setia (Baiat Aqobah 1) di Madinah.
Pada tahun berikutnya, datang ke Makkah 72 orang dan semuanya masuk Islam dan berjanji setia (Baiat Aqobah 2) untuk membela nabi dan kaum muslimin. Penyebaran dakwah Rasulullah Saw dimulai, hingga dakwah berkembang pesat. Perjalanan dakwah Rasulullah Saw memasuki masa ekspansi. Tidak hanya suku-suku disekitarnya yang menerima dakwah nabi, namun hingga jazirah arab. Wilayah negeri yang sebelumnya dikuasai kerajaan Romawi dan Persia (dua negara besar ketika itu), berhasil dibebaskan hingga Madinah betul-betul menjadi pusat cahaya Islam yang menerangi dunia.

Keruntuhan Khilafah dan Bencana Dunia
Pasca runtuhnya Khilafah, selama 105 tahun umat Islam tidak bisa menerapkan hukum dari langit (syariat Islam) secara kaffah di seluruh penjuru bumi. Peristiwa ini menjadi bencana besar bagi umat. Penderitaan demi penderitaan susul menyusul tanpa henti menimpa negeri-negeri kaum muslim, bagai negeri tanpa induk.
Penjajahan di Palestina, tempat perjalanan Isra' Mi'raj Rasulullah saw yang telah jatuh di tangan entitas Yahudi harus dibebaskan. Demikian juga negeri-negeri muslim yang terpecah belah harus disatukan. Kezaliman penguasa kafir pada minoritas muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina selatan harus dihentikan.

Oleh karena itu, urgen memaknai kembali secara hakiki didalam luas dan mendalamnya makna peristiwa Isra Mi'raj. Hikmah Isra' Mi'raj bukan semata  dimaknai  perintah ibadah shalat sebagai ibadah mahdhah semata, melainkan makna shalat adalah kinayah yg dipakai dalam hadits larangan memerangi Imam selama masih menegakkan Shalat, yang makna menegakkan shalat adalah menegakkan hukum Allah. 

Membumikan Kembali Syariat Islam

Keterpurukan umat Islam hari ini di semua bidang, tak lain karena karena ketiadaan penerapan Syariat Islam di tengah-tengah mereka dan diberlakukannya sistem Sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Rajab dan Isra' Mi'raj, momen membumikan kembali hukum Allah dari langit, yaitu dengan cara mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan menegakkan syariat Islam Kaffah.  

Bulan Rajab, bulan yang dilipatgandakannya pahala, harus dimanfaatkan untuk meraih kemuliaan dengan mempersembahkan amalan-amalan terbaiknya bagi keagungan Islam termasuk mengembalikan kemuliaan Islam dan umatnya. Selain meningkatkan amalan seperti sholat dan puasa, amalan lainnya yaitu mendakwahkan Islam Kaffah.

Umat Islam, umat Rasulullah, umat Khulafaur Rasyidin, cucu Al Mu'tasim, cucu Sholahudin Al Ayubi, cucu Al Fatih, cucu Khalifah Salim III, cucu Abdul Hamid, cucu Khalifah, pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam. Tegaknya Islam akan mengembalikan kemuliaan Islam dan kemuliaan umat Islam. Wallahua'lam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak