(Sari Isna_Tulungagung)
Peringatan isra’ mi’raj selalu menjadi momen penting bagi umat Islam untuk merenungkan kembali makna mendalam dari peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad SAW. Peristiwa spiritual luar biasa ini akan diperingati pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriah. Momen ini mengandung nilai-nilai spiritual yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan di era modern saat ini. Memahami hikmah Isra Miraj 2026 tidak hanya sebatas mengingat peristiwa sejarah, tetapi juga menggali pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Isra’ mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang terdiri dari dua tahapan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang terjadi dalam satu malam. “Isra” berarti perjalanan malam, merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sementara itu, “Miraj” berarti naik atau tangga, yang menggambarkan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa melintasi lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Dan di sinilah Rasulullah menerima perintah sholat lima waktu. (liputan6.com, 10/01/2026)
Meskipun Rajab dan isra' mi’raj diperingati secara istimewa oleh umat Islam namun sayang hanya sekadar tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW ke langit dan turunnya perintah shalat. Sedangkan rangkaian peristiwa penting sesudahnya tidak tersampaikan. Sejarah mengisahkan, setelah peristiwa isra' mi’raj tersebut tidak lama kemudian diikuti dengan momen baiat aqabah 2. Hal ini menandakan bahwa isra' mi’raj bukanlah sekadar momentum spiritual, melainkan juga gerbang menuju perubahan politik umat secara ideologis. Umat Islam berada dalam satu daulah Islam di bawah satu kepemimpinan Rasulullah SAW. Namun hari ini pasca runtuhnya Khilafah, selama 105 tahun umat Islam tidak bisa menerapkan hukum dari langit (syariat Islam) secara kafah di seluruh penjuru bumi.
Dari setiap peringatan isra’ mi’raj, hikmah yang kita dapatkan baru dimaknai sebagai perintah ibadah shalat sebagai ibadah mahdhah semata. Padahal, shalat adalah kinayah yang dipakai dalam hadits larangan memerangi Imam selama masih menegakkan shalat, yang makna menegakkan shalat di sini adalah menegakkan hukum Allah. Umat belum menyadari bahwa ditetapkannya sistem sekuler demokrasi saat ini secara global adalah penentangan terhadap hukum dari langit (hukum Allah). Ditinggalkannya syariat Islam akan membawa bencana politik ekonomi struktural, bencana sosial kemanusiaan dan bencana alam. Runtuhnya Khilafah 105 tahun yang lalu adalah bencana besar bagi umat. Setelahnya, dunia menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global. Maka menegakkan kembali kepemimpinan Islam atas dunia menjadi urgen.
Rajab dan isra' mi'raj, momen membumikan kembali hukum Allah dari langit, yaitu dengan cara mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan menegakkan syariat Islam Kafah. Sebagaimana keimanan Abu Bakar terhadap peristiwa isra’ mi’raj yang perlu kita telaadani. Ketika datang orang-orang musyrik kepadanya untuk menyampaikan cerita Nabi SAW bahwa ia baru saja tiba dari perjalanan isra’ mi’raj sambil berharap Abu Bakar tidak mempercayainya, Sayyidina Abu Bakar justru menjawab ringan. Iya, bahkan aku membenarkannya andai dia (Rasul) berkata lebih jauh daripada itu. Sepanjang Rasulullah SAW berkata maka sungguh dia benar. Iman yang benar adalah iman yang tidak mempertanyakan apa yang dilakukan oleh pembawa risalah, semua percaya dan beriman padanya meskipun tidak masuk akal. Sepanjang penyampai risalah itu menyampaikannya. Sudah semestinya sebagai umat Islam kita mengimani dan mentaati semua hal yang Rasulullah SAW sampaikan. Seluruh syariat yang beliau bawa, tidak hanya sekedar perintah sholat bahkan ranah pribadi sampai mendirikan Negara Rasulullah telah mencontohkannya.
Peringatan isra’ mi’raj ini seharusnya menjadi momentum yang tepat untuk menambah keimanan dan membangkitkan ghirah umat dalam menegakkan syariat islam secara kaffah di bawah naungan khilafah. Mengingat kondisi umat muslim di seluruh penjuru dunia yang makin terpuruk tanpa junnah yang melindungi. Penjajahan di Palestina, tempat perjalanan Isra' Mikraj Rasulullah saw yang telah jatuh di tangan entitas Yahudi harus dibebaskan. Demikian juga negeri-negeri muslim yang terpecah belah harus disatukan. Kezaliman penguasa kafir pada minoritas muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina selatan harus dihentikan.
Sudah saatnya umat islam terbangun dari tidur panjangnya. Menjadikan momen peringatan isra’ mi’raj sebagai pemantik menuju kebangkitan. Menyerukan kepada tentara muslim untuk membebaskan Palestina dan menyerukan persatuan umat muslim di bawah naungan daulah Khilafah Rasyidah. Umat Islam, umat Rasulullah, umat Khulafaur Rasyidin, cucu Al Mu'tasim, cucu Sholahudin Al Ayubi, cucu Al Fatih, cucu Khalifah Salim III, cucu Abdul Hamid, cucu Khalifah, pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam. Tegaknya Khilafah Islam akan mengembalikan kemuliaan Islam dan kemuliaan umat Islam. di sinilah pentingnya berada dalam jamaah dakwah. Di bawah partai Islam ideologis terus berjuang siang dan malam, dengan sungguh-sungguh memimpin dan membimbing umat agar dapat melanjutkan kehidupan Islam. Menegakkan Khilafah adalah perjuangan pokok, agung, penting dan vital. Umat harus segera menyambut perjuangan ini demi kebangkitan Islam.
Tags
opini