Oleh. Fatimah Az Zahro
Bulan Rajab kembali menyapa umat Islam. Bulan yang dimuliakan Allah SWT ini selalu dikaitkan dengan peristiwa agung Isra’ Mi‘raj Rasulullah ﷺ. Sayangnya, di tengah gegap gempita peringatan Isra’ Mi‘raj setiap tahun, makna strategis dari peristiwa ini justru sering direduksi menjadi sekadar perjalanan spiritual Nabi ke langit dan turunnya kewajiban salat lima waktu.
Padahal, Isra’ Mi‘raj bukan hanya peristiwa ruhiyah, melainkan titik balik sejarah umat, yang menghubungkan antara ketaatan kepada hukum langit dan perubahan besar dalam tatanan kehidupan manusia di muka bumi.
Fakta: Isra’ Mi‘raj dan Perubahan Arah Umat
Pertama, Rajab dan Isra’ Mi‘raj memang diperingati secara istimewa oleh umat Islam sebagai peristiwa perjalanan Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Dalam peristiwa inilah Allah Swt. mewajibkan salat lima waktu, ibadah agung yang menjadi tiang agama.
Kedua, Isra’ Mi‘raj tidak berdiri sendiri sebagai peristiwa spiritual. Tidak lama setelahnya, sejarah mencatat terjadinya Baiat Aqabah Kedua, sebuah momen politik yang menandai lahirnya dukungan kekuasaan terhadap dakwah Islam. Dari sinilah Islam bertransformasi dari sekadar dakwah individual dan komunitas tertindas di Makkah, menjadi kekuatan ideologis yang siap membangun negara dan menerapkan hukum Allah secara menyeluruh.
Ketiga, realitas hari ini menunjukkan bahwa selama 105 tahun pasca runtuhnya Khilafah Islamiyah, umat Islam tidak lagi mampu menerapkan hukum dari langit (syariat Islam) secara kaffah di seluruh penjuru bumi. Hukum Allah tergantikan oleh hukum buatan manusia: sekularisme, demokrasi, dan kapitalisme global.
Analisis: Reduksi Makna Isra’ Mi‘raj
Sayangnya, hikmah Isra’ Mi‘raj hari ini direduksi sebatas perintah salat sebagai ibadah mahdhah individual. Padahal, salat memiliki makna yang jauh lebih luas. Dalam hadits, Rasulullah ﷺ melarang memerangi seorang imam selama ia masih “menegakkan salat”. Para ulama menjelaskan bahwa menegakkan salat adalah kinayah (ungkapan) dari menegakkan hukum Allah secara menyeluruh, bukan sekadar ritual pribadi.
Inilah yang belum disadari oleh mayoritas umat. Ditetapkannya sistem sekuler-demokrasi secara global sejatinya adalah bentuk penentangan terhadap hukum langit. Syariat Islam dipinggirkan, hukum Allah dianggap tidak relevan, dan agama dipaksa keluar dari ranah pengaturan kehidupan.
Akibatnya, ditinggalkannya syariat Islam membawa bencana multidimensi:
bencana politik berupa kepemimpinan zalim dan boneka,
bencana ekonomi struktural akibat kapitalisme yang menindas,
bencana sosial dan kemanusiaan berupa ketidakadilan dan kehancuran moral,
hingga bencana alam yang semakin sering terjadi akibat rusaknya tata kelola kehidupan.
Runtuhnya Khilafah 105 tahun lalu adalah bencana terbesar umat Islam. Sejak itu, dunia menderita di bawah hegemoni kapitalisme global yang rakus dan menindas. Maka, mengembalikan kepemimpinan Islam atas dunia bukanlah nostalgia sejarah, melainkan kebutuhan mendesak umat manusia.
Konstruksi: Membumikan Kembali Hukum Langit
Rajab dan Isra’ Mi‘raj seharusnya menjadi momen membumikan kembali hukum Allah dari langit ke bumi. Caranya bukan dengan seremoni semata, melainkan dengan mencampakkan hukum sekuler-kapitalisme dan menegakkan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.
Masjidil Aqsha—titik awal perjalanan Isra’ Mi‘raj Rasulullah ﷺ—hari ini masih berada di bawah penjajahan entitas Yahudi. Palestina harus dibebaskan. Demikian pula negeri-negeri Muslim yang tercerai-berai harus disatukan kembali. Kezaliman terhadap kaum Muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, hingga Filipina Selatan harus dihentikan.
Karena itu, umat menyerukan kepada tentara-tentara Muslim agar menjalankan peran historisnya: membebaskan Palestina dan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah sebagai perisai umat.
Umat Islam bukan umat lemah. Kita adalah umat Rasulullah ﷺ, umat Khulafaur Rasyidin, keturunan Al-Mu‘tasim, Shalahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih, Khalifah Salim III, hingga Sultan Abdul Hamid II. Dengan sejarah dan keimanan ini, umat Islam pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum Muslim.
Perjuangan ini terus diemban oleh partai Islam ideologis yang berjuang siang dan malam, memimpin dan membimbing umat agar mampu melanjutkan kehidupan Islam. Menegakkan Khilafah bukanlah pilihan sampingan, melainkan perjuangan pokok, agung, penting, dan vital.
Rajab dan Isra’ Mi‘raj adalah seruan langit agar umat tidak berhenti pada sujud ritual, tetapi bangkit menegakkan hukum Allah di muka bumi. Sudah saatnya umat menyambut perjuangan ini dengan kesadaran, keikhlasan, dan kesungguhan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Tags
opini