Oleh : Mimin Aminah, Ibu rumah Tangga, Ciparay Kab. Bandung.
Berbagai kasus kekerasan akibat terinspirasi game online sangat berbahaya bagi generasi seperti dilansir dari Kompas.Com 29/12/2025 Kepolisian Resor Kota Besar((Polrestabes) Medan, mengungkap kronologi dugaan pembunuhan seorang ibu yang berinisial F (42thn) oleh anaknya AL (12thn) di kota Medan.
Kapolrestabes Medan Kombes Calvijn Simajuntak menyampaikan, sebelum kejadian korban bersama kedua anaknya tidur dalam satu kamar di lantai satu, suaminya beristirahat di lantai dua, pada hari Rabu (10/12/25) sekitar jam 04.00 WIB AL terbangun dan mengambil pisau untuk melukai korban yang sedang tertidur akibatnya korban menderita 26 luka tikam kemudian suami korban segera menelpon Rumah Sakit Columbia, sekitar pukul 05.40 WIB ambulance datang, namun korban didapati sudah meninggal dunia.
Ada beberapa motivasi atau hal yang mendorong AL melukai korban, pertama : melihat kekerasan yang dilakukan korban terhadap kakak dan ancaman menggunakan pisau terhadap ayah, Kedua : melihat kakak yang dipukuli korban dengan menggunakan sapu dan ikat pinggang, ketiga : sakit hati game online nya dihapus. Selain itu AL kerap kali memainkan game yang menggunakan pisau serta menonton serial Anime pada saat adegan menggunakan pisau.
Kehidupan generasi muda di ruang digital menjadi sangat tidak aman, berbagai kasus kekerasan akibat terinspirasi dari game online mudah diakses anak-anak sehingga berpengaruh pada emosi dan kesehatan mental.
Pembunuhan yang dilakukan seorang anak terhadap ibu kandungnya, menjadi contoh lengkap terkait dampak buruk ruang digital yang kian hari kian beragam dan memprihatinkan terutama menyangkut generasi muda.
Teknologi digital memang sudah mendominasi generasi muda, mereka terbiasa dengan teknologi digital, masalahnya perkembangan digital bagaikan pisau bermata dua, disatu sisi bisa membawa banyak manfaat disisi lain dapat disalahgunakan dengan dimanfaatkan untuk meraup keuntungan tanpa memperdulikan kerusakan generasi sehingga generasi mengalami disorientasi hidup serta kehilangan ketahanan ideologi.
Apalagi dibawah sistem Kapitalis Sekulerisme dimana peran agama benar-benar disingkirkan dari kancah kehidupan akibatnya para generasi hilang pedoman tidak heran apabila mereka tidak tahu halal haram yang terpenting keinginan mereka terpenuhi. Semua ini menunjukan negara abai dalam melindungi generasi dari bahaya kerusakan akibat game online dengan kekerasan.
Berbeda apabila yang diterapkan adalah Islam secara kaffah, Islam mendukung pada kemajuan teknologi. Negara dalam Islam berperan sebagai Raa'in (pengatur) sekaligus junnah (penjaga) umat yang menjaga dan melindungi dari segala bentuk kerusakan. Teknologi dijadikan sebagai wasilah untuk mempermudah kehidupan sedangkan pengembangannya didedikasikan untuk kemuliaan agama dan umat Islam dengan basis akidah dan hukum-hukum syara.
Kerusakan generasi bisa ditangkal dengan tiga pilar, yaitu : pertama : ketaqwaan individu yang diperoleh dari pendidikan mulai dari rumah dengan menanamkan akidah sejak dini sehingga menghasilkan kepribadian bersyahsyiah Islam yang kuat, sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam. Pilar kedua : dukungan masyarakat dengan tradisi amar makruf nahi munkar sehingga menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi generasi. Ketiga : keberadaan negara yang menjadi suport system yang utuh dan menyeluruh dengan penerapan syariat Islam dalam seluruh sendi kehidupan tidak terkecuali ruang digital.
Negara menjadikan penggunaan digital sebagai sarana pendidikan dan penguat dakwah, dengan demikian negara akan memastikan tidak ada satu pihakpun yang berani mendatangkan kemudharatan dengan demikian para generasi aman dalam ruang digital. Ketika Islam doterpkan dalam bingkai institusi, maka negara akan berfungsi sebagai penanggung jawab utama dan perisai bagi rakyatnya.
Wallahu a'lam bish shawwab.
Tags
opini