Oleh : Yayat Rohayati
Peradaban besar tak lepas dari peran sosok guru yang berdiri dibelakangnya. Mereka dituntut menciptakan generasi penerus peradaban di tengah tantangan zaman modern sarat dengan kecanggihan teknologi. Berkat jasa dan untuk memuliakan mereka, pemerintah menetapkan satu hari dalam setahun sebagai hari guru.
Tema yang diangkat di tahun ini ialah "Guru Hebat, Indonesia Kuat." Tema ini mengingatkan pentingnya guru dalam membangun dan memajukan bangsa.
Guru hebat lahir dalam negara yang memperhatikan kesejahteraan para guru. Sebab, jika kesejahteraan terjamin maka guru akan maksimal dalam menjalankan tugasnya.
Akan tetapi, ada sejumlah catatan terkait kesejahteraan guru di era sekarang. Hal ini disampaikan oleh Cucu Setiawati, Wakil kesiswaan SMPN 3 Purwakarta, di acara Peringatan Hari Guru Nasional ke-80.
Cucu menambahkan, pemerintah perlu mengevaluasi perhatian terhadap kesejahteraan para guru. Menurutnya, kesejahteraan guru di negeri ini tertinggal cukup jauh dibanding negara lain. Selain itu guru saat ini dihadapkan dengan digitalisasi pendidikan. Hal ini menjadi tantangan besar bagi guru untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat (Sekilasmedia.com, 25/11).
Perkembangan teknologi diharapkan memudahkan aktivitas manusia. Dengan teknologi administrasi lebih cepat, akses lebih luas, inovasi semakin banyak. Namun faktanya, kemajuan teknologi yang kerap dipromosikan sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tak sebanding dengan kesejahteraan guru.
Pada pelaksanaannya guru masih harus menggunakan perangkat pribadi, karena keterbatasan alat. Untuk mendapatkan akses internet bagus mereka membeli kuota sendiri. Mereka juga harus beradaptasi dengan berbagai aplikasi. Akhirnya digitalisasi bukannya membantu, malah menambah beban psikologis dan administratif guru. Energi yang seharusnya dicurahkan untuk mendidik dan membina karakter peserta didik, terkuras oleh kewajiban administratif digital.
Selain itu problem krusial ada pada pemberian gaji yang masih jauh dari kata layak, terutama guru honorer. Alhasil, tidak sedikit dari mereka harus mencari pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam IsIam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap individu. Dengan pendidikan, masyarakat paham apa yang mereka butuhkan dalam kehidupan. Maka, Negara berkewajiban memberikan pendidikan berkualitas dan gratis secara merata, khususnya pendidikan dasar dan tengah yang menjadi kebutuhan primernya. Adapun kebutuhan terhadap pendidikan tinggi, diperlukan sama halnya kebutuhan pendidikan dasar, seperti kedokteran.
Untuk menunjang pendidikan yang berkualitas, negara menyiapkan tenaga pengajar dan fasilitas belajar terbaik. Guru dalam IsIam begitu dihargai. Negara memberi gaji yang tidak main-main seperti dalam sistem sekarang. Hal ini dilakukan agar para guru bisa maksimal dalam mendidik generasi, tanpa memikirkan masalah ekonomi yang harus dipenuhi. Ketika IsIam memimpin dunia, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, guru digaji dengan jumlah yang fantastis. Khalifah Umar memberikan gaji sebesar 15 dinar per bulan. 1 dinar = 4,25 gram emas.
Dalam IsIam, mekanisme keuangan diatur oleh lembaga yang bernama Baitul Maal. Ada tiga pos yang menjadi sumber pemasukan keuangan dalam Baitul Maal, yaitu pos kepemilikan negara, pos kepemilikan umum, dan pos zakat.
Kepemilikan negara diambil dari harta ghanimah, fai, kharaz, jizyah dan lainnya. Penggunaan dari harta kepemilikan negara adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat, salah satunya penggajian guru.
Negara juga akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok lainnya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan keamanan.
Rosulullah saw. bersabda:
"Pemimpin masyarakat adalah raa'in (pengurus), dia bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dengan pengurusan oleh negara, kesejahteraan rakyat akan tercipta, termasuk para guru. Sehingga mereka merasa tenang dalam menjalankan tugasnya. Pendidikan terbaik pun bisa didapatkan para generasi penerus peradaban.
Wallahu a'lam.
Tags
opini