Guru dan Murid Sama-Sama Kehilangan Adab, Bagaimana Islam Memandangnya?

Oleh: Nita Nur Elipah
(Penulis lepas)


Belakangan viral sebuah video di sosial media yang menunjukkan seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra adu jotos dengan siswanya. Tak berhenti di situ, Agus Saputra melaporkan adu jotos itu ke Polda Jambi sebagai penganiayaan. Belakangan diketahui bahwa perkataan Agus diduga merupakan hinaan yang menyulut amarah sejumlah siswa hingga adu jotos terjadi.

"Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata Agus, dilansirdetikSumbagsel, Kamis (15/1).

Sementara itu, di sisi lain sejumlah siswa mengaku Agus telah menghina salah satu murid dengan perkataan 'miskin' yang memicu keributan tersebut. Namun, menurut Agus, perkataan itu konteks motivasi dan tidak bermaksud menghina.(detikNews, Jakarta. Sabtu, 17/1/ 2026)

Sungguh miris melihat bagaimana hubungan antara guru dan murid hari ini, seperti kasus diatas dimana seorang guru dikeroyok oleh sejumlah murid. Kasus seperti kekerasan di sekolah, bullying, pelecehan,atau bahkan konflik guru dan murid sudah sangat sering terjadi.

Ini sejatinya bukan hanya sekadar konflik biasa antar personal atau emosi sesaat. Tapi ini adalah problem serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. Relasi guru–murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan.

Disatu sisi, murid bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tak dapat dimungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.

Inilah buah dari pendidikan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan Islam. Islam hanya dianggap sebagai agama yang mengatur ibadah ritual semata. Padahal Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam pendidikan. Pendidikan harusnya berdasarkan akidah Islam, bukan justru menjauhkan Islam dari kurikulum pendidikan, dan menggantinya dengan asas sekulerisme.

Islam memandang pendidikan bukan hanya sekadar transfer ilmu dan mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.”
(HR. Al-Baihaqi).

Hadis ini menegaskan misi utama Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah memperbaiki dan mengajarkan budi pekerti luhur, mengangkat derajat manusia dari kejahiliyah, dan menjadi teladan sempurna bagi seluruh umat. Keagungan akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Allah sebutkan di dalam ayat:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS Al-Qalam: 4).

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. 
(QS Al-Ahzab: 21).

Istri baginda Nabi, ‘Aisyah sendiri menyebut akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Al-Qur’an. Maka, siapa saja yang menginginkan kehidupan di dunia hingga akhirat berjalan baik dan selamat sebagaimana yang dikehendaki Allah. Tiada jalan lain kecuali kembali mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam kehidupannya sehari-hari.

Masya Allah, begitulah seharusnya cerminan seorang muslim, senantiasa mencontoh kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Maka dalam sistem pendidikan Islam, adab itu didahulukan sebelum ilmu. Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.
Ibnul Mubarok berkata: 
“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Ibnu Sirin berkata:
“Mereka para ulama dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

Murid seharusnya dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan hinaan. Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar. Negara juga akan memastikan kurikulum yang berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar mencetak peserta didik yang menjadi kompetensi pasar.

Sungguh kita harus kembali kepada sistem Islam yang kaffah untuk mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk mengatur pendidikan salah satunya bagaimana interaksi guru dan murid. Sistem Islam hanya bisa diterapkan oleh negara bernama khilafah, bukan yang lain.

Wallahu a'lam bishshawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak