Oleh Nita Karlina
Generasi hari ini di selimuti dengan berbagai media sosial yang mudah di akses dan modern. Hampir seluruh masyarakat Indonesia mempunyai akun media sosial dan itu sudah menjadi tren masa kini. Sayangnya, kebanyakan dari mereka salah menggunakan media tersebut, terutama di kalangan pelajar. Sebagian situs media sosial menjadikan mereka lepas kendali dan merusak, bahkan berujung pembunuhan.
Seperti kasus yang sedang viral di media sosial, polisi mengungkap motif bocah kelas VI SD di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), berinisial AI (12) yang membunuh ibu kandungnya, F (42). AI melakukan perbuatan itu diduga karena terobsesi dari game online dan serial anime. "Bagaimana obsesi si korban dalam hal melakukan tindak pidananya? Adik (AI) melihat game Murder Mystery pada season Kills Others menggunakan pisau. Makanya korban pada saat itu menggunakan pisau di dalam melakukan tindak pidananya," kata Kapolrestabes (DetikNews, 29/12/2025).
Tak hanya itu, ternyata ada hal lain yang memotivasi AI melakukan pembunuhan itu karena melihat ayahnya, kakaknya dan dirinya kerap diancam menggunakan pisau oleh korban. Lalu, AI juga sering melihat kakaknya dipukuli korban menggunakan tali pinggang dan sapu hingga memar-memar. Bahkan AI juga sakit hati karena korban menghapus game online-nya.
Miris, ngeri, tapi ya inilah negara kita hari ini. Sistem yang membuat sedemikian lingkaran kejahatan itu bertindak. Platform digital tidak netral, banyak nilai dan ajaran yang merusak dan dikemas dalam bentuk game yang menarik. Sehingga itu di sukai oleh anak - anak maupun remaja. Game online sekilas memang terlihat biasa saja, namun pada faktanya sudah banyak fitur atau model terbaru yang itu dapat merusak mental anak - anak, karena kecanduan. Terlebih ketika dia sudah mulai merambah ke judi online, ini yang membuat fenomena bunuh diri banyak terjadi.
Tidak bisa dipungkiri, bagi generasi hari ini, dunia digital tidak hanya dipandang sebatas teknologi hasil perkembangan zaman. Namun lebih dari itu, dunia digital sudah menjadi rumah, bahkan “orang tua kedua”, yang tidak jarang menggantikan seluruh peran pengasuhan dan pendidikan yang semestinya ada pada rumah dan orang tua aslinya.
Maka, itu sebabnya pendidikan di dalam rumah atau peran keluarga itu sangat penting. Sebab generasi kita melihat apa yang ada di depan matanya. Bagaimana orang tua memperlakukannya, bagaimana mereka ketika bersikap dan yang paling penting adalah bagaimana ketundukan mereka terhadap pencipta-Nya.
Namun, sistem ini juga lah yang membuat sebagian orang tua tidak maksimal dalam menjalankan tugasnya mendidik anak. Bisa jadi karena kemiskinan yang mengharuskan kedua orang tuanya keluar mencari nafkah, sehingga yang tertinggal hanya cape ketika melihat anak, maka di kasi saja hp dengan tidak memperhatikannya, atau bisa jadi karena sifat buruk yang selalu berulang ketika emosi, dan itu membuat sang anak menirunya atau karena kurangnya pemahaman agama di dalam keluarga tersebut. Akibatnya, peran keluarga dalam mendidik anak telah tergerus dalam sistem hari ini.
Tak hanya itu, ruang digital dimanfaatkan oleh Kapitalisme global untuk meraup keuntungan tanpa memedulikan kerusakan generasi dan kehidupan manusia. Inilah salah satu misi tersembunyi kapitalisme yang jarang orang ketahui. Bahwa mereka sedang perang melawan pemikiran, sebab ketika umat Islam di lawan dengan fisik maka, ketika dia kalah dia mati syahid dan ketika menang, mengharumkan bangsa. Namun ketika pemikiran yang di serang maka rusak lah seluruh aspek kehidupan umat ini.
Maka ketika kita melihat ternyata begitu banyak konten kekerasan, pencabulan, bullying, pembunuhan dan lain sebagainya yang dapat tersedia dalam game atau pun konten media. Sesungguhnya itu sangat merusak generasi kita hari ini, sebab sebagian masyarakat kita hari ini lebih banyak yang menggunakan media sosial dari pada media lainnya. Dari situlah mereka melihat, meniru dan mempraktekan dalam kehidupannya. Teknologi ini juga telah digunakan oleh negara-negara pengusung kapitalisme global sebagai alat penjajahan politik dan ekonominya, terutama di dunia Islam.
Negara tidak mampu melindungi generasi dari bahaya kerusakan akibat game online dengan konten kekerasan. Sebab negara hari hanya menjadi regulasi antara oligarki dan rakyatnya. Ketika game online itu menguntungkan maka pasti akan terus jalan, sebab negara tidak bisa memegang penuh kendali karena sejatinya negara adalah boneka atas sistem kapitalisme itu sendiri.
Dalam Islam, medsos maupun game online tidak otomatis haram. Hukumnya tergantung bagaimana cara memainkannya dan dampaknya. Islam mengajarkan keseimbangan antara hiburan dan kewajiban. Cara Islam mengatasi game online adalah dengan mengatur agar tidak melalaikan dan tidak menimbulkan mudarat.
Beberapa prinsipnya antara lain, tidak melalaikan dari kewajiban. Jika game membuat lalai dari shalat, belajar, bekerja, atau kewajiban keluarga, maka itu menjadi haram atau setidaknya tercela. Allah berfirman bahwa harta dan kesenangan dunia jangan sampai melalaikan dari mengingat Allah. Tidak mengandung unsur haram. Game tidak misalnya, judi (gacha berbayar dengan sistem untung-untungan) pornografi atau aurat terbuka. Kekerasan berlebihan yang merusak akhlak. Serta penghinaan terhadap agama atau simbol Islam.
Oleh karenanya, umat Islam harus segera menyadari urgensi menyegerakan terwujudnya sistem kepemimpinan yang dipastikan mampu menyelamatkan generasi dari kerusakan yang sedemikian dalam. Harapan itu hanya ada dalam sistem kepemimpinan Islam. Ini karena secara konsep, sistem ini tegak di atas ideologi sahih yang akidahnya kukuh dan sahih, serta memancarkan aturan yang dibutuhkan untuk menyolusi seluruh problem kehidupan. Pada saat yang sama, sistem ini secara empiris terbukti berhasil mewujudkan peradaban cemerlang hingga belasan abad lamanya. (Wallahualam bishowwab)
