Oleh : Ayu Nailah
Masa depan gemilang adalah cita-cita indah bagi generasi di setiap zaman. Menorehkan prestasi dan bermanfaat bagi sesama serta hidup sejahtera di tengah masyarakat yang madani. Impian bagi setiap individu adalah hidup sejahtera di bawah naungan pemimpin adil dan melindungi rakyatnya.
Sebuah mimpi yang entah kapan terwujudnya jika sikap pongah dan serakah masih merajalela di bumi yang disebut "tanah surga" bagi para korporat. Mereka yang menguasai segala tanah, tambang, maupun lahan yang secara brutal. Mengeksploitasi sumber daya alam tanpa mengindahkan penanggulangan ekologi yang dirusaknya. Efek parahnya adalah bencana maha besar yang memakan korban ratusan jiwa. Banyak anak menjadi yatim piatu sebab kehilangan orangtua dan keluarganya.
Dilansir dari berita BBC.com pada 7 Januari 2025, banyak anak korban bencana Sumatra yang menjadi yatim piatu. Mereka tak hanya kehilangan orangtua atau keluarganya, namun juga kehilangan hak dasarnya.
Kondisi ini semestinya menjadi tanggungjawab negara. Berdasarkan UUD 1945 Pasal 34 ayat (1) disebutkan bahwa negara wajib memelihara fakir miskin dan anak terlantar, serta diperkuat dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Namun, jauh panggang dari api. Realitasnya negara saat ini cukup lamban dalam menanggulangi korban bencana, bahkan terkesan abai dalam mengurusi anak-anak yatim piatu tersebut. Menjadi tanda tanya besar, mengapa negara hari ini bersifat demikian? Nyatanya ada rangkaian hak rakyat yang belum terpenuhi dan latar belakang abainya negara yang begitu menyesakkan.
Pertama, rapuhnya komitmen negara dalam menjaga, melindungi, dan mengurusi korban bencana khususnya anak-anak yatim piatu pasca kehilangan keluarga.
Kedua, abainya para pemimpin negara yang dipengaruhi oleh sistem kapitalisme. Hal ini mengakar kuat hingga membuahkan sikap tamak para penguasanya dan abai terhadap rakyatnya sebab yang terpenting adalah urusan para kapitalnya. Dan inilah dunia saat ini, dimana sejahtera dan bahagia hanyalah milik orang-orang kaya diatas luka dan derita rakyat miskinnya.
Ketiga, sudut pandang negara menggunakan kacamata para kapitalis, yakni segalanya dihalalkan untuk meraih kepentingan para korporat. Sebut saja tentang bagaimana respon negara pada waktu lalu tentang menyerahkan hasil lumpur bencana pada swasta untuk dimanfaatkan mereka. Namun, mirisnya tanggungjawab penanggulangan bencana tidak dilakukan dengan baik oleh negara.
Pohon yang kokoh memiliki akar yang kuat, tumbuh menjulang tinggi, dan daunnya rindang mengayomi. Begitulah satu analogi indah yang dapat dipetik pelajarannya untuk memiliki pandangan sebuah negara madani yang mengayomi rakyatnya. Negara yang kuat memiliki pondasi yang kokoh. Visi mengurus rakyat dijunjung tinggi dan cepat tanggap dalam setiap kondisi.
Sungguh indah masa itu, masa dimana akidah Islam sebagai pondasi tegaknya negara Islam (Khilafah). Pengaturan rakyat disandarkan pada hukum syara’, sikap lemah lembut pemimpin negara (khalifah) pada rakyatnya menjadi suatu hal yang niscaya sebab tanggungjawab kepempinannya disandarkan pada ketakwaan kepada Allah Swt.
Khilafah yang tegak dengan hukum syara’ akan cepat tanggap dalam menanggulangi bencana alam yang terjadi, khususnya pada anak yatim piatu. Jalur hadanah dan perwalian anak yatim piatu korban bencana alam agar mereka tidak kehilangan kasih sayang keluarga dan kerabatnya segera dilaksanakan. Bagi anak-anak yang tidak memiliki keluarga sama sekali negara akan menampung dan menjamin semua kebutuhannya termasuk tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatannya.
Dalam Khilafah pengalokasian dana terdapat dalam baitul mal yang akan membiayai semua kebutuhan. Meriayah (mengurusi) anak yatim piatu dilakukan melalui pos-pos pengeluaran yang sudah ditetapkan oleh syariat.
Sungguh luar biasa pengaturan syariat Islam dalam mengatur seluruh kehidupan manusia termasuk dalam penanggulangan bencana. Dalam pengaturan tersebut nyatanya begitu berlimpah rahmat Allah yang tecurah di dalamnya. Sesuai dengan firman-Nya dalam QS. Al-A’raf:96 yang berbunyi:
_“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”_
Wallahu a’lam bi showab.
Tags
opini