Oleh. Fatimah Az Zahro
Arus digitalisasi yang masif hari ini telah menjadikan generasi muda sebagai digital natives. Namun, kemajuan teknologi tersebut tidak otomatis melahirkan generasi unggul. Justru sebaliknya, sekularisasi yang menguasai dunia nyata dan dunia digital telah menyebabkan banyak pemuda kehilangan jati dirinya sebagai Muslim dan pelopor perubahan. Standar hidup mereka dibentuk oleh algoritma kapitalistik yang mengagungkan viralitas, popularitas, dan materi, sementara Islam dipinggirkan dari cara pandang hidup.
Kondisi kaum ibu pun tidak kalah memprihatinkan. Dalam sistem kapitalisme, peran ibu sebagai ummun wa rabbatul bayt—pendidik generasi dan penjaga peradaban—mengalami degradasi serius. Ibu didorong untuk mengejar standar sukses material, dijauhkan dari peran ideologisnya, bahkan menjadi korban eksploitasi ekonomi dan budaya konsumerisme. Sistem ini gagal memuliakan perempuan sekaligus merusak fondasi pendidikan generasi.
Hegemoni Kapitalisme dan Krisis Identitas
Digitalisasi hari ini tidak berdiri netral. Ia berada di bawah hegemoni sistem sekuler kapitalisme global. Platform digital dikuasai korporasi raksasa yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga menyebarkan nilai-nilai ideologis sekularisme, liberalisme, dan hedonisme. Melalui konten, algoritma, dan budaya populer, umat—termasuk generasi muda dan kaum ibu—terus dijauhkan dari pemikiran Islam ideologis.
Negara sekuler turut memperkuat kondisi ini. Dengan paradigma sekularisme, agama dibatasi pada ranah privat, sementara urusan publik seperti pendidikan, kebijakan generasi, dan arah pembangunan tunduk pada logika kapitalisme. Generasi muda dan kaum ibu dipandang sebagai objek komersial dan tenaga produktif, bukan sebagai subjek strategis pembangun peradaban. Akibatnya, pembekalan Islam kaffah tidak pernah menjadi prioritas.
Akar persoalan dari berbagai krisis ini terletak pada adopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai dasar bernegara. Selama sistem ini dipertahankan, maka solusi yang lahir akan selalu parsial dan tidak menyentuh akar masalah.
Peran Strategis Jamaah Dakwah Islam Ideologis
Di tengah kerusakan sistemik tersebut, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen. Jamaah ini bukan sekadar komunitas moral atau gerakan sosial, melainkan entitas ideologis yang memiliki visi perubahan menyeluruh berdasarkan Islam kaffah.
Allah Swt. berfirman:
_“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”_
(QS Ali Imran: 104)
Ayat ini menegaskan kewajiban adanya jamaah Islam yang terorganisir, memiliki visi ideologis, dan berorientasi pada perubahan sistemik. Jamaah dakwah Islam ideologis inilah yang berperan membina kaum ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah) dan kesiapan memperjuangkan kebangkitan Islam.
Kaum ibu dibina agar sadar akan peran strategisnya sebagai pendidik generasi pejuang risalah, bukan sekadar pelaku domestik atau objek ekonomi. Generasi muda dibina agar memiliki kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyyah), mampu menilai realitas dengan Islam, serta tidak tunduk pada hegemoni digital kapitalisme.
Meneladani Metode Dakwah Rasulullah ﷺ
Sejarah dakwah Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat jelas dalam mewujudkan perubahan hakiki. Pada fase Makkah, Rasulullah ﷺ memulai dakwah dengan pembinaan (tatsqif) intensif terhadap individu-individu terpilih. Mereka dibina dengan Islam secara ideologis hingga memiliki pemikiran yang lurus dan kepribadian yang kokoh.
Pembinaan ini kemudian dilanjutkan dengan interaksi bersama umat (tafa’ul ma‘al ummah) untuk membangun opini umum Islam. Puncaknya adalah istilamul hukmi, yakni penyerahan kekuasaan agar Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan secara kaffah. Metode inilah yang melahirkan generasi sahabat sebagai pelopor peradaban dan penjaga risalah Islam.
Metode dakwah ini relevan sepanjang zaman. Jamaah dakwah Islam ideologis hari ini meneladani langkah Rasulullah ﷺ dengan membina umat—termasuk ibu dan generasi muda—agar siap mengemban amanah perubahan, bukan sekadar menuntut perbaikan teknis dalam sistem yang rusak.
Penutup
Generasi muda dan kaum ibu sejatinya adalah aset strategis umat, bukan beban. Namun, potensi besar ini hanya akan bermakna jika diarahkan melalui pembinaan Islam kaffah oleh jamaah dakwah Islam ideologis. Tanpa itu, generasi akan terus kehilangan identitasnya dan ibu akan terus terpinggirkan perannya.
Sudah saatnya umat menyadari bahwa perubahan hakiki tidak lahir dari solusi tambal sulam, melainkan dari perjuangan ideologis yang terorganisir. Dengan meneladani metode dakwah Rasulullah ﷺ, jamaah dakwah Islam ideologis menjadi kunci dalam membentuk ibu dan generasi muda sebagai pelopor perubahan dan pengemban risalah Islam di tengah krisis peradaban hari ini.
_Wallāhu a‘lam bish-shawāb._
Tags
opini
