Sinergi Elemen Umat Mewujudkan Generasi Bertakwa dan Tangguh




Oleh: Suhartini



“PP Nomor 17 Tahun 2025 mengatur pembatasan penggunaan media sosial untuk anak berdasarkan usia dan tingkat risiko platform. Anak di bawah 13 tahun hanya boleh mengakses platform ramah anak dengan izin orang tua. Usia 13–15 tahun masih membutuhkan persetujuan orang tua, sedangkan usia 16–17 tahun boleh mengakses media sosial umum dengan pengawasan. Aturan ini bertujuan melindungi anak dari konten berbahaya dan menciptakan ruang digital yang aman” (Kompas.com, Sabtu, 12/2025).

Derasnya arus informasi digital yang mengalir dari berbagai platform daring memaksa generasi muda untuk memilah dan memahami beragam konten secara cepat dan cermat. Di satu sisi, kemajuan teknologi memberikan kemudahan akses terhadap pengetahuan dan peluang baru. Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan risiko disinformasi, konten negatif, serta kebingungan dalam membedakan informasi yang benar dan bermanfaat dari yang menyesatkan. Oleh karena itu, generasi muda perlu mengembangkan kemampuan literasi digital yang kuat agar mampu menyaring, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak sesuai kebutuhan pribadi dan sosial di era modern.
Tingginya tingkat screen time membuat generasi muda menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dibandingkan berinteraksi langsung dengan lingkungan sosial dan aktivitas nyata sehari-hari. Ketergantungan pada perangkat digital ini berpotensi mengalihkan fokus dari tugas-tugas penting seperti belajar, bekerja, dan membangun relasi interpersonal yang sehat, sehingga peran serta tanggung jawab dalam kehidupan nyata kerap terabaikan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan layar secara berlebihan berkaitan dengan gangguan konsentrasi, penurunan prestasi akademik, serta meningkatnya risiko masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Kondisi ini semakin memperlebar ketimpangan antara kehidupan digital dan realitas sosial.

Jebakan dunia maya dalam algoritma merujuk pada cara kerja sistem rekomendasi media sosial yang menyajikan konten berdasarkan perilaku pengguna. Akibatnya, pengguna cenderung terus terpapar informasi yang serupa dan masuk dalam echo chamber, yakni ruang gema yang memperkuat pandangan sejenis dan menyingkirkan perspektif lain. Fenomena ini melahirkan filter bubble atau gelembung informasi yang membatasi sudut pandang, memperkuat bias, dan menyempitkan pemahaman terhadap realitas. Kondisi tersebut menghambat kemampuan berpikir kritis serta menurunkan kualitas diskursus publik di ruang digital. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar individu tidak sekadar mengikuti arus algoritma tanpa refleksi.
Bagi mereka yang memiliki sikap kritis terhadap praktik kezaliman penguasa, ruang digital sejatinya dapat menjadi peluang perubahan. Namun, kritik tersebut perlu disampaikan secara terarah, bertanggung jawab, dan konstruktif agar tidak berujung pada kekacauan sosial.

Urgensi Mengganti Cara Pandang Liberal-Sekuler dengan Cara Pandang Hidup yang Sahih

Generasi muda saat ini merupakan pasar yang sangat potensial bagi produk-produk digital. Mereka tumbuh sebagai digital native yang akrab dengan teknologi, internet, dan platform daring, sehingga menjadi konsumen utama layanan digital seperti aplikasi, media sosial, e-commerce, dan hiburan daring. Karakteristik ini menjadikan mereka bukan hanya pengguna aktif, tetapi juga penentu tren konsumsi digital. Oleh sebab itu, perusahaan merancang strategi pemasaran yang selaras dengan gaya hidup dan preferensi digital generasi muda untuk menjangkau dan melibatkan mereka secara efektif.

Dampaknya, seluruh konten digital yang dikonsumsi generasi muda berperan layaknya tabungan informasi yang tersimpan dalam ingatan dan pola pikir mereka. Paparan berulang terhadap konten tertentu secara perlahan membentuk cara berpikir, nilai, dan keyakinan yang kemudian dijadikan rujukan dalam menilai realitas. Baik disadari maupun tidak, hal ini memengaruhi pandangan mereka terhadap isu sosial, identitas diri, serta relasi dengan lingkungan. Karena itu, kemampuan literasi digital menjadi sangat penting agar generasi muda mampu menyaring dan menafsirkan informasi secara kritis.

Derasnya arus informasi tersebut sejatinya lahir dari sistem yang kini dominan, yakni sistem sekuler dan liberal. Gagasan-gagasan ini menyebar masif melalui berbagai platform media sosial, mendominasi ruang diskusi publik digital, serta memengaruhi cara berpikir masyarakat. Ide-ide yang cenderung netral atau bahkan abai terhadap nilai-nilai religius ini menimbulkan tantangan serius dalam menjaga identitas dan prinsip hidup. Oleh karena itu, diperlukan benteng yang kokoh berupa pendidikan nilai, literasi ideologis, serta pedoman moral yang kuat agar generasi muda mampu menyikapi konten digital tanpa kehilangan landasan prinsip hidup.

Generasi muda sudah saatnya membentengi diri dengan mengubah cara pandang hidup menuju cara pandang yang sahih, berakar pada wahyu dan petunjuk Allah, bukan semata hasil pemikiran manusia. Cara pandang ini menjadi fondasi dalam memahami realitas, menentukan standar moral, serta menetapkan tujuan hidup, sehingga seseorang tidak mudah terombang-ambing oleh ide-ide populer yang bertentangan dengan kebenaran. Fondasi ideologis yang kuat juga penting agar aktivisme generasi muda tidak dangkal, prematur, atau sekadar mengejar popularitas dan jabatan. Mereka perlu bersikap kritis terhadap aktivisme liberal yang kerap berkelindan dengan kepentingan kapitalisme, serta mengembangkan perjuangan yang selaras dengan nilai-nilai Islam yang sahih dan berorientasi pada perubahan yang bermakna dan berkelanjutan.

Membina Generasi Muda dengan Fondasi Iman dan Ideologi

Sebagai makhluk ciptaan Allah, generasi muda dianugerahi potensi hidup yang khas berupa gharizah (naluri), hajatul ‘udhawiyah (kebutuhan jasmani dan sosial), serta akal yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Potensi-potensi ini bukan sekadar pemberian, melainkan modal utama untuk berpikir, berinteraksi, dan berkontribusi bagi masyarakat apabila diarahkan sesuai nilai-nilai ilahi. Dengan arahan yang benar, generasi muda tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan fisik dan nalurinya, tetapi juga menyusun pemahaman yang lurus, mengambil keputusan bijak, serta mengaktualisasikan diri dalam kehidupan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, generasi muda membutuhkan lingkungan yang benar-benar kondusif, yakni suasana yang kental dengan jawwil iman atau atmosfer keimanan yang kuat. Nilai-nilai spiritual tidak tumbuh secara otomatis, tetapi harus dibangun secara sadar melalui pendidikan, keteladanan, dan interaksi sosial yang positif. Upaya ini menuntut kolaborasi yang sistemis antara keluarga, sekolah, dan masyarakat agar penguatan nilai dapat diterima dari berbagai arah secara konsisten.

Untuk mewujudkan perubahan nyata dan berkelanjutan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, diperlukan sinergi harmonis seluruh elemen umat. Keluarga berperan sebagai unit terkecil penanam nilai dasar, masyarakat sebagai ruang interaksi sosial yang lebih luas, partai politik ideologis sebagai sarana pendidikan politik dan penyalur aspirasi umat, serta negara sebagai penentu kebijakan publik dan penegak keadilan. Ketika seluruh elemen ini bekerja secara terpadu, pembentukan sumber daya manusia yang bertakwa, tangguh, dan berintegritas akan lebih efektif dalam menjawab tantangan zaman.

Partai politik Islam yang berpegang teguh pada ideologi yang kuat dapat menjadi tulang punggung pembinaan umat, termasuk generasi muda. Melalui peran politik, nilai-nilai Islam yang sahih dapat dihadirkan dalam ruang publik dan kebijakan negara. Selain itu, partai ideologis berfungsi menjalankan muhasabah lil hukam, yakni melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap penguasa, sehingga akuntabilitas moral dalam pemerintahan dapat ditegakkan. Peran ini sekaligus membuka ruang bagi suara kritis generasi muda yang menginginkan perubahan substantif, serta berkontribusi dalam mencerdaskan umat melalui pendidikan politik, diskursus ideologis, dan kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan rakyat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak