Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
Tsaqofah.my.id--Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla mengatakan, bantuan asing boleh masuk ke Aceh selama ditujukan untuk kepentingan kemanusiaan dan dikoordinasikan dengan baik oleh pemerintah. JK menyampaikan pernyataan tersebut saat meninjau lokasi bencana dan pengungsian di Desa Palu Raya dan Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh (republika.co.id, 19-12-2025).
Menanggapi keluhan warga yang menyebut hampir 20 hari belum ada penanganan maksimal dari Pemerintah, JK mengatakan keputusan untuk menerima bantuan asing akan bergantung pada perhitungan Pemerintah terhadap kemampuan penanganan bencana. Sebab jika memang tidak mampu, tidak mengapa menerima bantuan.
Pernyataan Jusuf Kalla ini sekaligus merespon Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi atas perhatian dan tawaran bantuan dari sejumlah negara terkait penanganan bencana di Sumatera. Namun, ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengatasinya secara mandiri.
Bencana di tiga provinsi dari 38 provinsi di Indonesia bahkan dinyatakan dalam kondisi terkendali. Entahlah presiden mendapat laporan dari mana, nyatanya, kondisi di lokai bencana di tiga provinsi itu belum membaik. Tak ada rumah, tenda pengungsian, makanan, pakaian, listrik masih padam hingga jembatan masih banyak yang terputus mengakibatkan jumlah mereka yang mati kelaparan lebih banyak dari mereka yang hanyut selam banjir bandang terjadi.
Paradoksnya, dalam rancangan anggaran penerimaan dan belanja negara (RAPBN) 2026, Presiden Prabowo Subianto akan menambah utang negara Rp781,9 triliun. Dokumen itu menyebut utang akan ditarik melalui dua cara, yaitu penerbitan surat berharga negara (SBN) dan penarikan pinjaman (CNN Indonesia.com, 25-8-2025).
Penerbitan SBN akan terbagi dua, yaitu penerbitan surat utang negara (SUN) dan surat berharga syariah negara (SBSN)/ sukuk negara. Sementara itu, pinjaman akan dilakukan melalui dua cara. Pemerintah akan melakukan pinjaman luar negeri dan dalam negeri. Dan sebagai informasi, utang yang direncanakan untuk 2026 akan menjadi yang terbesar sejak pandemi Covid-19.
Banyak sekali ucapan-ucapan pejabat yang saling bertentangan, bahkan terkesan asal nyeplos. Mulai dari peringatan Prabowo agar rakyat bersabar dan kita bersama-sama memelihara bumi dari pelaku penggundulan hutan, tapi ketika di Papua, ia mengizinkan perluasan tanah untuk perkebunan sawit. Dan lainnya, dan yang terakhir adalah profil anggaran negara atau APBN yang bakal menerima utang tambahan.
Mengapa menolak bantuan luar negeri dengan alasan mandiri, di sisi lain tak malu berutang lagi dan lagi demi menghidupi negara. Ironis, rakyat seketika menjadi pembayar utang sekaligus yang menerima bencana, kapan sejahtera?
Kapitalisme Mewujudkan Sejahtera, Ilusi!
Inilah wajah sistem Kapitalisme, negara tak benar-benar mengurusi urusan rakyat. Indonesia negara kaya, namun menjadi negara pengutang terbesae di dunia. Emas dikeruk, minyak disedot, batu bara berton-ton diangkut kapal tongkang di sungai Mahakam setiap harinya, belum nikel, dan lainnya, kemana semua itu? Rakyat masih berada di bawah kemiskinan, bahkan ekstrim.
Bahkan bencana Sumatera menunjukkan betapa luasnya area hutan kita sebelum gundul oleh pembukaan lahan untuk sawit. Jenis kayu beragam, dan aneka satwa liar. Hilang semua, termasuk ruang hidup masyarakat lokal. Mereka hanya bisa melihat lalu lalangnya pegawai asing di pabrik asing yang mengeruk kekayaan negeri mereka secara resmi melalui peraturan dan kebijakan pemerintah.
Itu pulalah yang melatari hingga kini mengapa bencana Sumatera tidak dinyatakan sebagai bencana Nasional. Karena akan banyak menguak borok Kapitalisme selama ini dilakukan oleh pejabat dan penguasaha.
Islam Hadirkan Kesejahteraan
Rasulullah saw.medoakan para pemimpin yang zalim, "Ya Allah, siapa saja yang memimpin umatku lalu menyayangi mereka, maka sayangilah dia. Siapa yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia" (HR. Muslim). Doa ini semestinya mampu menggetarkan hati mereka.
Nyatanya itu tidak terjadi, politik pencintraan terus saja terjadi, dan masyakat sedemikian rupa mudah kembali percaya pencitraan mereka. Rakyat lupa, sehari mereka memilih lima tahun berikutnya sengsara. Hanya Islam yang mampu mewujudkan penguasa yanh sayang rakyat, ia juga bertakwa dan fakih fiddin.
Dalam pandangan Islam, pemimpin tidak hanya wajib berada di depan sebagai tameng rakyat dari satu gangguan, tapi terkadang di tengah atau di belakang untuk mengawasi agar tidak ada yang tertinggal.
Negara Islam tidak akan bergantung pada bantuan asing dalam artian berupa utang berbasis riba. Semua itu hanya akan menjadikan nasib bangsa tergadai oleh kepentingan pemberi utang. Sebaliknya, sumber daya alam negeri ini akan dikelola oleh negara untuk kemaslahatan rakyat.
.Negara akan mengoptimalkan pemberdayaan harta kepemilikam umum dan negara. Demikian pula untuk zakat, yang akan dibagikan kepada delapan asnaf. Tidak ada pejabat yang haus validasi, sebab amanah yang datang karena ia kuasa secara sadar akan ia pertanggungjawabkan semua tindakannya. Wallahualam bissawab.
