Oleh: Pina Purnama S.,Km
Dahulu Anak muda menepatkan menikah sebagai tonggak kedewasaan yang harus dicapai kini di era modern cara pandang mengalami pergeseran akibat dari biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi jadi alasan utama generasi muda menunda pernikahan yang melahirkan fenomena lebih takut miskin daripada takut menikah (www.kompas.id/27/11/25)
Fenomena anak muda yang takut atau enggan menikah, yang sering viral dengan tagar "Marriage is Scary", kini menjadi perhatian serius di berbagai belahan dunia pada akhir tahun 2025 ini. Tren ini bukan sekadar ketakutan emosional, melainkan hasil dari pergeseran ekonomi dan sosial yang masif.
Mengapa bisa Takut menikah?
Fenomena takut menikah banyak sekali faktor yang mempengaruhi cara pandang ini lahir dari sistem demokrasi kapitalisme aturan yang hari ini di terapkan diantaranya:
1. Krisis Finansial dan Biaya Hidup (Global)
Ketakutan finansial telah menggeser prioritas pernikahan di banyak negara.
Inflasi Properti: Di banyak kota besar dunia, harga rumah yang meroket membuat pasangan muda merasa tidak akan pernah mampu memiliki tempat tinggal sendiri.
Biaya Membesarkan Anak: Data dari Arab Saudi hingga Eropa menunjukkan bahwa tingginya biaya pendidikan dan kebutuhan anak membuat generasi muda memilih untuk menunda atau membatalkan pernikahan demi stabilitas ekonomi pribadi.
Karier vs Pernikahan: Di negara-negara maju dan berkembang (seperti Indonesia dan Saudi Arabia), peningkatan pemberdayaan perempuan membuat banyak dari mereka lebih memprioritaskan pendidikan tinggi dan karier sebelum memikirkan rumah tangga.
2. Beban Psikologis dan Trauma (Indonesia & Asia)
Di Indonesia, pakar psikologi menyoroti beberapa pemicu utama:
Trauma Generasional: Paparan terhadap kasus perceraian yang tinggi di media sosial atau lingkungan keluarga membuat anak muda takut mengulang kegagalan yang sama.
Standar Sosial yang Tinggi: Adanya tekanan untuk mengadakan pesta pernikahan mewah (sebagai ajang pembuktian status sosial) sering kali menjadi beban mental yang berat bagi calon pengantin.
Ketidaksiapan Mental: Banyak Gen Z merasa belum cukup dewasa atau belum menemukan pasangan yang memiliki kesiapan emosional yang setara dalam berkompromi.
3. Krisis Demografi di Berbagai Negara
Pemerintah di beberapa kawasan mulai panik karena angka pernikahan yang terjun bebas: Eropa: Negara-negara seperti Hongaria dan kawasan Skandinavia sedang berjuang melawan penurunan populasi. Mereka menawarkan pinjaman besar yang tidak perlu dibayar jika pasangan memiliki tiga anak atau lebih.
Asia Timur: Jepang dan Korea Selatan terus mencatat rekor terendah dalam angka pernikahan dan kelahiran, yang memicu kekhawatiran akan krisis tenaga kerja di masa depan.
Timur Tengah: Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai meluncurkan inisiatif nasional (seperti National Family Growth Agenda 2031) untuk memberikan bantuan perumahan dan finansial guna mendorong anak muda menikah.
Hal ini menjadi luka bayang- bayang ketakutan bagi generasi muda akibat dari kenyataan hidup semakin sulit akibat penerapan ekonomi liberalisme yang kian hari persaingan mencari kerja semakin ketat, persoalan nya kepemilikan umum seperti sumber daya alam yang harus di kelola negara ini di alihkan pada swasta atau asing sumber penghidupan berasal dari tambang emas, minyak bumi bisa menjadi pemasukan anggaran belanja negara untuk mensejahterakan rakyat untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan, pendidikan, ekonomi, kini hanya di nikmati oleh segelintir para korporasi saja hal ini timbul luka ekonomi kapitalisme yang melahirkan generasi muda takut menikah.
Solusi Islam
1. Negara memastikan masyarakat bisa mengakses lapangan pekerjaan dengan mudah dengan menerapkan sistem ekonomi Islam.
2. Penerapan ekonomi Islam menekan biaya hidup tinggi menjadi tercukupi kebutuhan primer, sandang maupun papan dengan pengelolaan kepemilikan negara di kelola mandiri tidak di serahkan pada swasta atau asing
3. Menerapkan sistem pendidikan Islam membentuk generasi yang tidak takut dengan masa depan karena di bina dengan aqidah Islam tidak ada kata takut menikah karena standar tujuan menikah bukan materi tapi ketaatan pada Allah mendorong untuk mencari nafkah bukan hanya gaya hidup yang hedonis tetapi punya visi dan misi menjadikan generasi tangguh berkepribadian Islam yang kuat.
Wallahuallambishawab.
Tags
opini
