Gen Z Bukan Follower, Melainkan Pelopor Perubahan



Oleh: Yulia, Pegiat Pena Banua


Tsaqofah.my.id--Generasi Z dikenal sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi dan media sosial. Mereka tumbuh dan berkembang di era digitalisasi, menjadikan internet bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, fenomena ini tidak hanya membawa dampak positif, melainkan juga berbagai pengaruh negatif.


Tidak sedikit Gen Z yang akhirnya hanya menjadi followers digital. Media sosial dijadikan tolok ukur kebenaran, bahkan nilai baik dan buruk suatu konten sering kali diukur dari jumlah penonton dan tanda suka. Kondisi ini berimplikasi pada munculnya ketidakpuasan terhadap diri sendiri, khususnya terkait citra tubuh dan gaya hidup, seperti standar kecantikan semu yang terus direproduksi media sosial (DetikNews.com, 13-12-2025).


Survei APJII menunjukkan bahwa Generasi Z (kelahiran 1997–2012) merupakan kelompok paling dominan dalam penggunaan internet, dengan kontribusi sebesar 25,54 persen dari total pengguna. Angka ini melampaui Generasi Milenial dan Generasi Alpha (CloudComputing.id, 13-12-2025). Fakta ini menunjukkan bahwa Gen Z sejatinya adalah pelopor dalam penggunaan media digital.


Potensi tersebut seharusnya tidak berhenti pada konsumsi konten semata. Dengan arahan yang tepat, Gen Z sangat mungkin menjadi pelopor perubahan sosial melalui media sosial, bukan sekadar pencari popularitas atau keuntungan pribadi.


Dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh suara Gen Z semakin nyata. Berbagai isu, baik lokal maupun internasional, disuarakan secara masif melalui media sosial hingga berlanjut pada aksi nyata di lapangan. Pada 2023–2024, misalnya, muncul fenomena tagar julid fii sabilillah yang menjadi bentuk perlawanan opini terhadap agresi Israel di Gaza. Tekanan opini publik global tersebut bahkan berdampak pada kondisi psikologis pihak agresor.


Memasuki tahun 2025, muncul pula tagar Indonesia Gelap yang mendorong meningkatnya kesadaran politik dan kritik publik terhadap kebijakan pemerintah. Fenomena ini membantah stigma bahwa Gen Z adalah generasi lemah atau sekadar kaum rebahan. Justru, stigma tersebut dapat dipahami sebagai upaya sistematis untuk menjauhkan Gen Z dari jati dirinya sebagai agen perubahan.


Bagi pemuda muslim, potensi ini harus dibarengi dengan pembekalan ilmu dan kesadaran ideologis. Sejarah Islam mencatat bahwa perubahan besar kerap dipelopori oleh generasi muda. Sultan Muhammad Al-Fatih, misalnya, berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun. Usamah bin Zaid pun diangkat Rasulullah Saw. sebagai panglima perangdi usia 17 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kekuatan iman, ilmu, dan tekad.


Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 110 yang artinya,"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."


Ayat ini menegaskan bahwa kaum muslim memiliki mandat perubahan. Namun, perubahan tersebut harus disadari arah dan tujuannya. Oleh karena itu, menuntut ilmu menjadi kewajiban mendasar agar perubahan yang dilakukan bersifat hakiki dan diridai Allah SWT.


Puncak perubahan sejati adalah terwujudnya tatanan kehidupan yang menerapkan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Untuk itu, perubahan tidak cukup dilakukan secara individual, melainkan membutuhkan kerja kolektif dalam sebuah
 jamaah yang memiliki visi menjaga dan
 menerapkan syariat Allah di muka bumi.


Allah SWT pun memberikan kabar gembira dalam Surah Ar-Rum ayat 4–5 bahwa pertolongan-Nya pasti datang kepada siapa saja
 yang Dia kehendaki. Janji ini menjadi penguat optimisme bahwa perubahan besar bukanlah sesuatu yang mustahil, selama umat ini kembali mengambil peran sebagai pelopor perubahan, bukan sekadar pengikut arus zaman.
Wallahu a'lam bishshawwab. 

Goresan Pena Dakwah

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak