Kaleidoskop 2025: Mirisnya Kekerasan di Negeri Ini

Fathimah 
(Aktivis Dakwah Kampus)



Kriminalitas remaja semakin menjadi-jadi. Jumlah kasus kekerasan di satuan pendidikan menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dari 15 kasus tahun 2023 naik menjadi 36 kasus pada 2024 dan kini 60 kasus pada tahun 2025. Temuan ini sangat mengkhawatirkan dan perlu ada perbaikan ke depan.

Dari jumlah tersebut, ada 358 korban dan 146 pelaku. Data ini dirangkum oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dari Januari hingga awal Desember 2025 melalui kanal pengaduan FSGI, pemberitaan media massa, dan kasus-kasus yang viral di media sosial (kompas.id, 08/12/2025).

Tak hanya di sekolah, secara umum, Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta mencatat sebanyak 1.995 perempuan dan anak mengalami kekerasan sejak Januari hingga 2 Desember 2025 (kompas.com, 3 Desember 2025).

Bahkan, Pusiknas Polri melaporkan, ada 908 kasus pembunuhan yang dilaporkan sejak awal tahun hingga 6 November 2025 (katadata.com, 25/11/2025). Menurut laporan terbaru dari UN Women dan UNODC, sepanjang tahun 2024 ada sekitar 50 ribu perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia yang dibunuh oleh pasangan intim atau anggota keluarga mereka. Dengan demikian, rata-rata 137 perempuan atau anak perempuan tewas setiap hari karena femisida, yaitu pembunuhan terhadap perempuan atas alasan gender (beautynesia.id, 04/12/2025).

Astaghfirullahaladzim. Sungguh parah kondisi generasi hari ini. Generasi yang seharusnya fokus untuk beribadah dan menuntut ilmu, justru begitu mudahnya menyakiti bahkan membunuh orang lain. Padahal, mereka adalah calon-calon pemimpin bangsa. Lantas, bagaimana nasib negeri ini kedepannya bila generasi mudanya saja sudah seperti itu?  Tentu kondisinya dapat semakin buruk.

Terlebih lagi, Kasus kekerasan dan pembunuhan bukanlah kasus kemarin sore. Melainkan sudah berulang kali terjadi namun minim solusi. Bahkan, dilakukan dengan berbagai jenis dan teknik yang semakin diluar nalar. Tidak hanya di satu daerah saja, namun menjangkiti berbagai penjuru negeri. Maka, problem ini tidak bisa dianggap sebagai kenakalan oknum belaka. Bisa dikatakan, ada yang salah dengan mindset generasi hari ini.

Buah Sekularisme 

Bila kita amati, generasi hari ini cenderung mudah tersulut emosi. Ketika ada masalah dengan orang lain, mereka tidak terbiasa menyelesaikannya dengan baik-baik, tetapi justru menggunakan kekerasan. Ketika merasa tersakiti, begitu mudahnya mereka membalas dendam dengan menyakiti orang lain. 

Bila kita teliti lebih detail, tentu generasi semacam ini tidak terbentuk tiba-tiba. Lingkungan hari ini membentuk remaja menjadi terbiasa melakukan kekerasan. Seperti yang kita ketahui, dunia saat ini sedang dikuasai oleh sistem kehidupan sekulerisme. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini berhasil mencetak generasi yang krisis jati diri. Remaja tidak mengenal siapa dirinya dan apa tujuan Allah menciptakannya di dunia. Sehingga, bukannya menjadikan syariat sebagai standar berperilaku, remaja justru menjadikan kepuasan jasadiyahnya sebagai penuntun perilakunya. Bila dengan menyakiti dan membunuh orang lain dapat memuaskan emosinya, maka akan ia lakukan. Inilah yang terjadi hari ini. Sering kali kita temui aksi sadis demi pelampiasan emosi.

Sungguh miris kondisi generasi kita. Saat ini, remaja tak memiliki pihak yang mampu mendidik mereka dengan mindset yang benar. Sebab, sekulerisme sudah menjangkiti seluruh elemen, baik keluarga, masyarakat, bahkan negara. 

Keluarga, yaitu orang tua, sering kali disibukkan oleh tuntutan ekonomi. Mereka sibuk bekerja sehingga tidak sempat mendidik anak-anaknya agar mampu bersikap dengan benar. Tak pelak, anak-anak yang jauh dari pengakuan orang tua akan menyalurkan eksistensi dirinya dengan cara lain, seperti melakukan tindak kriminal. 

Masyarakat saat ini juga tak menjalankan kontrol sosial. Mereka begitu individualis, hanya memikirkan dirinya dan keluarganya saja. Tak peduli dengan kondisi sekitarnya. Padahal, budaya peduli untuk saling menasehati dan mengingatkan merupakan pencegah agar tindak kriminal tidak merajalela. 

Negara saat ini tidak mampu menjamin keamanan jiwa rakyatnya. Malah, melalui sistem pendidikannya juga turut menyebarluaskan ide sekulerisme. Terjadi pemisahan pendidikan agama dalam mata pelajaran sekolah. Agama hanya diberikan dengan porsi yang sangat minim, yaitu hanya terkait ibadah ritual. Sebaliknya, remaja tidak pernah dipahamkan terkait siapa dirinya dan bagaimana bersikap benar. Sehingga, banyak dari mereka yang tidak paham betapa besarnya dosa menyakiti bahkan membunuh orang lain.

Karena tidak ada yang mendidik, akhirnya tontonan di media sosial menjadi tuntunan. Remaja terbiasa berjam-jam scroll di medsos. Padahal, mayoritas konten tersebut tidak positif. Banyak konten kekerasan dan perilaku sadis yang biasa dipertontonkan melalui berbagai kanal media. Tak sedikit, buah dari kekerasan berujung pada penyakit mental. Terlebih lagi ketika pelaku kekerasan tak mendapat balasan yang menjerakan. Lantas, bukankah ini menjadikan remaja semakin mudah dan terinspirasi untuk melakukan tindak kriminal?

Islam: Serius Mendidik dan Menjamin Keamanan Negeri 

Perlu adanya penyelamatan generasi untuk menyelesaikan problem kriminalitas remaja. Bila kita bicara tentang solusi terbaik, tentu hanya dari Islam. Sebab, Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta. Islam mengatur berbagai aspek kehidupan, tidak hanya perkara ibadah ritual, melainkan juga hubungan dengan orang lain.

Dalam IsIam, keamanan adalah kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara. Penjagaan jiwa merupakan salah satu maqashidu syariah. Oleh karena itu, negara akan menjaga agar rakyatnya dapat merasakan aman dan tenteram. 

Lembaran sejarah mencatat, pernah ada peradaban agung yang berhasil mencetak generasi berkualitas selama 13-an abad. Generasi didalamnya bukanlah orang-orang yang haus akan kepuasan duniawi, melainkan sibuk mengejar kehidupan yang abadi. Mereka paham bahwa dunia hanyalah sementara dan akhirat lebih layak diperjuangkan.

Rahasianya adalah penerapan sistem pendidikan berasaskan akidah Islam. Pendidikan tersebut bertujuan untuk mencetak generasi berkepribadian islam yang handal dalam tsaqafah islam dan iptek. Didalamnya, sejak dini generasi dipahamkan terkait jati dirinya, bahwa manusia adalah hamba Allah, yang pasti akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan segala amalnya di dunia. Sehingga, remaja akan terbiasa untuk taat. 

Selain itu, generasi juga dididik dengan konsep qadha dan qadar yang sahih, sehingga mereka memiliki mental tangguh dan tidak rapuh. Dengan begitu, generasi didalamnya benar-benar fokus untuk memberikan sumbangsih terbaiknya demi peradaban Islam. Mereka akan menjauhi hal-hal yang sia-sia dan maksiat. Setiap detik waktunya benar-benar dimanfaatkan untuk ibadah dan dakwah.

Sistem pendidikan islam ini tentu tidak berjalan sendirian. Negara juga akan mengatur media dan ruang digital agar selalu dalam suasana syariat. Konten-konten merusak seperti kekerasan dan sadis tidak akan diperbolehkan untuk tayang di media sosial, meski hanya fiksi semata. Sebab, tontonan akan mempengaruhi pikiran bagi yang melihatnya. Justru negara akan menyajikan konten yang bernuansa dakwah dan menumbuhsuburkan ketakwaan.

Dalam suasana islami tersebut, tercipta pula masyarakat islami. Masyarakat yang berperan sebagai kontrol sosial dengan melakukan aktivitas amar ma'ruf nahi munkar. Mereka tidak akan membiarkan kemaksiatan merajalela di lingkungan sekitar, sehingga akan selalu menasehati keluarga dan tetangganya agar selalu berpegang teguh pada syariat. 

Orang tua juga akan menjalankan perannya dengan baik. Sebab, anak merupakan amanah dari Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Orang tua akan mendidik dan menyayangi anaknya dengan dorongan akidah Islam. Ibu tidak akan menghabiskan waktunya sebagai wanita karir, sebab ia paham bahwa tugas utamanya adalah sebagai ibu dan manajer rumah tangga. Dengan begitu ibu dapat fokus mendidik anak dan ayah dapat fokus bekerja mencari nafkah.

Terlebih lagi, ketika ada yang masih tega dan nekat melakukan tindak kriminal, negara wajib hadir sebagai pihak yang menerapkan sanksi yang menjerakan. Dengan begitu, kriminalitas tidak akan merajalela. 

Sungguh, hanya Islam yang mampu menyelamatkan generasi dan menjauhkan mereka dari perilaku maksiat. Islam yang menjadikan pemimpin sebagai raa'in yang bertanggungjawab atas rakyatnya, termasuk membina generasi. Sayangnya, Peradaban islam yang mampu mewujudkan generasi berkualitas dan takwa tersebut telah tiada. Ia telah diruntuhkan pada 1924. Meski begitu, tentu jangan berputus asa. Masih ada kesempatan bagi kita untuk menjadi orang-orang mulia dengan turut memperjuangkan agama Allah. Mari kita isi hari demi hari dengan aktivitas mengkaji islam kaffah dan mendakwahkannya ke tengah-tengah masyarakat.

Wallahu A'lam Bi Shawwab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak