Oleh: Julia Ummu Adiva Farras
Seorang wanita muslimah didalam Islam sungguh sangat dimuliakan, terlebih peran nya sebagai pelopor perubahan yang ditangannya kelak akan mencetak generasi peradaban yang unggul. Itu semua lahir dari ibu yang hebat yang bervisi surga dan faham bahwa hidupnya semata-mata hanya untuk ibadah, maka dengan keyakinan yang kuat, seorang ibu akan terus menempa dirinya dengan ilmu dan menjadikan pribadinya untuk taat pada syari'at Islam tanpa nanti. Baginya dunia hanya tempat mencari bekal dan terus menghiasi harinya dengan amalan shalih yang semata-mata hanya karna Allah dan meraih Ridho-Nya merupakan puncak kebahagiaan hakiki.
Ibu memahami betul tanggung jawab yang kini tengah diperjuangkan, yakni mengembalikan kehidupan Islam yang membawa pada kemuliaan dengan menyempurnakan misi dan visinya dengan terus mengoptimalkan peran strategis nya sebagai pendidik generasi pelopor perubahan.
Saat ini tantangan zaman sungguh luar biasa terutama di era digital, kehidupan masyarakat yang kian sekuler telah membuka jalan seluas-luasnya terutama dalam merusak pemikiran tanpa disadari seperti hedonisme, pluralisme, toleransi yang kebablasan serta moderasi beragama yang kian masif digaungkan dalam semua lini kehidupan.
Terlebih selepas pasca Covid-19, kapitalisme mengeluarkan wajah barunya melalui kapitalisme platform. Artinya platform digital telah menjadi ruang utama dalam membentuk opini dengan menanamkan nilai-nilai sekuler, mengendalikan cara pandang politik dengan gaya liberal. Inilah yang disebut dengan hegemoni digital.
Terlepas dari aspek positif teknologi digital yang memberikan banyak kemudahan bagi komunikasi dan akses informasi di segala bidang. Namun dari sisi negatifnya pun tidak lebih banyak, algoritma kini menawarkan sejuta keindahan dengan mengaburkan kebenaran sebagai standar viral, sebab gaya hidup dan kemaksiatan di normalisasi, semua platform selalu menghadirkan carut marut berita yang unfaedah tanpa perlu kita mencarinya. Begitulah algoritma yang dibuat barat, sekaan membuat kita terlena dan lalai. Sekuler berhasil membangun cara berpikir masyarakat yang nyaman dengan zonanya, maka benar masyarakat pun menjadi cuek akan syari'at, mereka lebih suka bagaimana hura-hura, flexing, gaya hidup liberal, tontonan dan tayangan yang hampir tidak ada maslahat nya, judol, pinjol, game online dan masih banyak racun lainnya yang menerjang semua usia di ruang digital.
Sungguh ini sangat berbahaya karna mengikis identitasnya sebagai seorang muslim. Tanpa disadari itu semua penghalang kebangkitan. Karna melemahkan keyakinan mereka terhadap Islam. Terlebih kebangkitan akan sangat jauh dari harapan yang seharusnya diperjuangkan.
Maka ibu menjadi garda terdepan dalam menguatkan aqidah sebelum anak terjun ke khalayak umum dengan terus menanamkan nilai-nilai ruhiyah, keterikatan hukum syara sedari dini dengan mengetahui batasannya. Sehingga ketika mereka keluar, tidak akan mudah terjebak dalam asuhan sistem sekuler kapital. Selain itu, memahamkan bahwa generasi muda Islam adalah milik umat yang siap bergandeng erat dalam menapaki perjuangan dengan terus bersinergi bersama dengan kelompok dakwah ideologis, sehingga akan tercipta kembali masyarakat yang islami dibawah panji kekhilafahan.
Wallahu a'lam bish-shawab [].
Tags
opini
