Pergaulan Bebas semakin Beringas, Islam Solusi Tuntas

Oleh: Julia Ummu Adiva Farras 




Saat ini, kita dihadapkan dengan fenomena pergaulan bebas yang semakin mengkhawatirkan. Batas antara yang benar dan salah kian kabur, nilai-nilai moral mulai tergerus, dan generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terjerumus dalam arus pergaulan yang tanpa arah.

Data terbaru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa 59% remaja perempuan dan 74% remaja laki-laki di Indonesia pernah melakukan hubungan seksual pada usia 15–19 tahun . Selain itu, kehamilan remaja mencapai 36 per 1.000 remaja putri, dan kasus aborsi diperkirakan mencapai 750 ribu hingga 1,5 juta setiap tahun.

Semua ini terjadi tidak lepas dari diterapkannya sistem kapitalisme di tengah-tengah kehidupan kita. Kurang berperannya tiga unsur yang berpengaruh pada pendidikan, yaitu keluarga/orang tua, masyarakat, dan negara. Orang tua belum bisa optimal dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik, khususnya ibu, disebabkan sebagian besar masih berperan ganda dan sangat terbatas waktu di rumah. Masyarakat pun makin individualis sehingga tidak lagi peka dan menganggap pergaulan bebas sebagai hal yang lumrah. Demikian pula negara yang berperan dalam mengambil kebijakan proteksi terhadap generasi, tidak lagi bergigi tatkala menghadapi serbuan budaya asing yang merusak generasi. 


Ada beberapa upaya yang bisa membenahi keluarga sebagai peletak dasar pendidikan agar bisa berperan optimal untuk mencegah pergaulan bebas. 

Pertama, menanamkan akidah yang kuat kepada anak agar keyakinannya terhadap Allah Swt, Al-Qur’an dan Rasul, serta hari akhir terhunjam di dada. Akidah yang kokoh akan melahirkan takwa, yang akan menjadi rem bagi anak agar tidak terjerumus ke dalam lingkungan dan pergaulan yang salah.

Kedua, memberi pemahaman tentang syariat Islam terkait pergaulan dan batasannya. Harapannya akan terbentuk akhlak yang baik sebagai buah dari menaati aturan Allah Swt. Islam telah mengatur  kehidupan laki-laki yang terpisah dengan wanita.

Ketiga, menyibukkan anak-anak dengan kegiatan positif yang sesuai dengan bakat dan minat mereka dalam bidang-bidang yang menarik—seperti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya—yang dapat menunjang keterampilan dan hobi positif bagi anak.

Keempat, mencari lingkungan yang kondusif atau komunitas yang baik untuk anak-anak dengan pergaulan yang baik. Hal ini penting karena teman akan mempengaruhi pemikiran, pemahaman, dan juga perilaku anak. Apalagi, di usia remaja biasanya rasa ingin tahu sangat besar dan cenderung ikut-ikutan dengan gaya hidup atau lifestyle teman-teman mereka.

Kelima, orang tua perlu melek gadget dan iptek agar bisa memantau pergaulan anak-anak terutama di dunia maya. Dunia maya atau dunia digital sarat dengan konten-konten yang campur aduk, antara yang baik dan buruk, antara yang sopan dan pantas dengan yang porno atau vulgar.


Hal yang tidak boleh kita lupakan, sebaik dan sekuat apapun sebuah keluarga menjaga dan membentengi anak dari pergaulan bebas, tentu tidak bisa merambah pada upaya di ranah masyarakat maupun negara. Ketika masyarakat dan negara masih permisif dengan nilai-nilai liberal, bahkan memfasillitasi berkembangnya pergaulan bebas dengan tetap membuka tempat-tempat prostitusi, dan membiarkan beredarnya konten-konten yang merusak, maka penjagaan keluarga berpeluang akan tergerus nilai liberal ini.


Karenanya, sangat dibutuhkan upaya untuk menjadikan masyarakat dan negara sebagai pengemban nilai-nilai dan aturan Islam agar benteng pertahanan menjaga generasi menjadi optimal. Upaya ini tidak lain dilakukan dengan dakwah Islam, mengajak seluruh lapisan masyarakat termasuk para penguasa agar menerapkan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk juga dalam aturan sosialnya, dengan memberikan sanksi atau hukum yang tegas terhadap semua bentuk pelanggaran pergaulan yang pastinya akan memberikan jawabir dan jawazir bagi pelaku. Sungguh syari'at Islam akan memberikan Rahmat, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat.


Wallahu ’alam bish-shawab[].

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak