Palestina Tak Butuh Simpati, Tapi Kepemimpinan Sejati


Oleh: Nettyhera


Gempuran keji terus menghujani bumi para nabi, Palestina. Setiap hari, korban berjatuhan. Namun dunia lebih sibuk merayakan pesta demokrasi atau membahas harga sembako. Simpati mungkin masih terdengar, tapi sejatinya, Palestina tak hanya butuh empati. Palestina butuh aksi nyata. Aksi politik. Aksi militer. Aksi dari institusi yang memiliki kekuasaan untuk menghapus penjajahan dari muka bumi. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh Khilafah Islamiyah.

Dalam sejarah, tak ada satupun perjuangan membebaskan Al-Quds yang berhasil tanpa keterlibatan kekuatan negara. Khalifah Umar bin Khattab masuk ke Baitul Maqdis bukan dengan doa dan diplomasi, tapi dengan kekuatan negara yang dibangunnya atas dasar Islam.

Saat ini, umat Islam tercerai dalam puluhan negara yang hanya bersatu dalam kata, namun lumpuh dalam aksi. Meski negara-negara Muslim memiliki pasukan, senjata, dan sumber daya, tak satu pun yang bergerak. Sebab mereka tidak disatukan dalam satu komando. Di sinilah urgensinya Khilafah.

Khilafah bukan sekadar wacana sejarah. Ia adalah perintah syariat yang wajib diwujudkan, karena hanya dengan Khilafah, umat memiliki perisai untuk membela kehormatan dan nyawa mereka. Tanpa perisai itu, kita hanya akan terus menjadi korban sejarah.

Kini saatnya umat bangkit. Bukan sekadar menangis atau mengutuk, tapi bersatu dalam barisan dakwah yang terorganisir, meneladani perjuangan Rasulullah saw. hingga terwujud kembali institusi agung yang akan membebaskan Palestina dan seluruh negeri Islam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak