Genosida Gaza : Darurat Anak Yatim Terbesar di Dunia




Oleh : Wahyuni M 
(Aliansi Penulis Rindu Islam)



Sejak serangan yang dimulai pada 7 Oktober 2023, Jalur Gaza menghadapi tragedi kemanusiaan yang kian memburuk. Lebih dari 50 ribu jiwa telah meregang nyawa dan ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka akibat agresi Israel yang terus berlangsung. Biro Statistik Pusat Palestina mengungkapkan bahwa Gaza kini berada dalam situasi darurat anak yatim terbesar dalam sejarah modern. Kebiadaban zionis tiada tara, menjelang peringatan Hari Anak Palestina pada 5 April, tercatat sebanyak 39.384 anak di wilayah tersebut telah kehilangan salah satu atau bahkan kedua orang tua mereka. Di antara jumlah itu, sekitar 17.000 anak kini hidup tanpa kehadiran orang tua, menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian dan kehilangan.

Israel melanggar gencatan senjata pada 18 Maret 2025, sedikitnya 100 anak Palestina di Jalur Gaza dilaporkan tewas atau terluka setiap harinya. Data tersebut disampaikan oleh Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, berdasarkan laporan UNICEF pada Jumat, 4 April 2025. Lazzarini menggambarkan situasi di Gaza sangat memprihatinkan dengan terus meningkatnya jumlah korban anak-anak akibat genozida yang terus berlanjut.

Selama lebih dari satu bulan terakhir, Jalur Gaza berada dalam kondisi pengepungan total. Otoritas Israel menghentikan akses masuk berbagai kebutuhan penting seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar. Tindakan ini dinilai sebagai bentuk hukuman kolektif terhadap seluruh penduduk wilayah tersebut.

Semua fakta ini terjadi di tengah narasi soal HAM dan tetek bengek aturan internasional dan perangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak.  Nyatanya aturan-aturan tersebut tak mampu menghentikan apalagi mencegah penderitaan anak-anak Palestina. Semua ini semestinya menyadarkan umat bahwa tidak ada yang bisa mereka harapkan dari lembaga-lembaga internasional dan semua aturan yang dilahirkannya. Masa depan Palestina ada pada tangan mereka sendiri, yakni pada kepemimpinan politik Islam atau Khilafah yang semestinya sungguh-sungguh  mereka perjuangkan.

Selama pendudukan di tanah Palestina masih berlangsung, anak-anak Palestina tidak akan pernah benar-benar mendapat rasa aman, sejahtera, maupun bahagia. Kehidupan mereka akan terus berada dalam bayang-bayang ancaman. Ironisnya, kekerasan dilakukan bahkan terhadap anak-anak dengan penggunaan senjata mematikan tanpa menunjukkan rasa belas kasihan. Dalam situasi seperti ini, prinsip-prinsip hak asasi manusia pun hanya omong kosong.

Masa depan Palestina tidak ditentukan oleh negara-negara narat maupun oleh para pemimpin negara-negarauslim yang dinilai tidak mandiri secara politik. Selama ini, mereka terbukti tidak menunjukkan upaya nyata untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina. Meski pun beberapa negara seperti Mesir dan Yordania menolak relokasi warga Gaza, penolakan tersebut lebih didasari pada kepentingan domestik, bukan semata solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Oleh karenanya, harapan kemenangan Palestina hanya ada pada kepemimpinan politik Islam atau Khilafah. Khilafah berfungsi sebagai rain dan junnah, tidak akan pernah membiarkan kezaliman menimpa rakyatnya. Khilafah terbukti selama belasan abad berhasil menjadi benteng pelindung yang aman, dan memberikan _support system_ terbaik bagi tumbuh kembang anak sehingga mereka bisa menjadi generasi cemerlang pembangun peradaban emas dari masa ke masa. 

Selama berabad-abad, sistem Khilafah terbukti mampu menjadi pelindung yang kokoh bagi Palestina. Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab ra., wilayah Palestina berhasil dibebaskan dari kekuasaan Romawi dan dikelola dengan penuh keadilan. Kepemimpinan para khalifah setelahnya juga terus berperan dalam menjaga dan mempertahankan Palestina dari berbagai ancaman luar.

Khilafah memenuhi hak-hak anak Palestina secara riil. Khilafah menjamin keamanan mereka, kebutuhan hidup mereka, serta menyediakan sarana kesehatan dan pendidikan. Khilafah membangun Madrasah Nizhamiyah di Baitulmaqdis, Yerusalem. Madrasah inilah yang melahirkan sosok Hujjatul Islam yang keilmuannya diakui hingga saat ini, yakni Imam Muhammad Abu Hamid al-Ghazali. Beliau bahkan mengkhatamkan penyusunan kitab Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin di salah satu bilik Masjidilaqsa (Al-Waie, 29-4-2024).

Setiap muslim wajib terlibat dalam memperjuangkan kembalinya khilafah agar mereka punya hujjah bahwa mereka tidak diam berpangku tangan melihat anak-anak Gaza dan orang tua mereka dibantai oleh Zionis dan sekutu-sekutunya. Persoalan anak-anak Gaza akan selesai ketika persoalan Palestina juga terselesaikan secara tuntas. Dan solusi tuntas hanya dapat terwujud dengan jihad dan Khilafah.

Anak-anak Palestina akan mempertanyakan kepada kita tentang peran kita dalam perjuangan mereka. Apakah kita memilih untuk berdiam diri, ataukah kita mengambil tindakan nyata untuk membebaskan mereka? Ketika saatnya tiba, apakah kita akan memiliki alasan yang kuat di hadapan Allah Yang Maha Adil?

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak