Diamnya Dunia Melihat Kisah Pilu Anak Gaza




(Sari Isna_Tulungagung)




Puluhan ribu anak Palestina telah kehilangan orang tua mereka. Anak-anak tersebut menjadi yatim piatu, sejak dimulainya perang Israel di Jalur Gaza yang terkepung, Biro Pusat Statistik Palestina dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (3/4/2025) menjelang Hari Anak Palestina, mengatakan bahwa 39.384 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya setelah 534 hari serangan Israel. Serangan tersebut telah menghancurkan daerah kantong kecil itu dan membuat sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya mengungsi. Biro tersebut mengatakan di antara mereka ada sekitar 17.000 anak yang telah kehilangan kedua orangtuanya sejak Oktober 2023, ketika Israel melancarkan serangan genosida. Jalur Gaza menderita krisis anak yatim piatu terbesar dalam sejarah modern. (katakini.com, 04/04/2025)

Akibat serangan Israel yang membabi buta ini, anak-anak Gaza hidup dalam kondisi yang tragis. Banyak yang terpaksa berlindung di tenda-tenda yang rusak atau rumah-rumah yang hancur, dengan hampir tidak adanya perawatan sosial dan dukungan psikologis, Rumah mereka hancur, keluarga tercerai-berai, dan kini mereka bertahan hidup di tengah reruntuhan, tanpa kepastian akan perlindungan, makanan, atau kehangatan. Penderitaan mereka mengejutkan nurani. Dikutip dari Al-Jazeera, hampir 18.000 anak tewas, termasuk ratusan bayi. Perang ini tidak hanya merenggut orang tua mereka, tapi juga masa kecil, rasa aman, dan masa depan mereka. Tidak sedikit anak mati kedinginan di tenda pengungsian. Lima puluh dua lainnya meninggal karena kelaparan dan gizi buruk yang sistematis. (mediaindonesia.com, 05/04/2025)

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarin. Sedikitnya 100 anak Palestina tewas atau terluka setiap harinya di Jalur Gaza sejak Israel melanggar gencatan senjata pada 18 Maret 2025. Menyebut situasi ini mengerikan, Lazzarini menyayangkan hidup anak-anak yang terputus akibat perang yang bukan mereka yang buat. Lazzarini menyebut Israel menjadikan bantuan kemanusiaan sebagai senjata dalam perang di Jalur Gaza. Dia menyuarakan keprihatinan atas memburuknya kondisi di wilayah kantong Palestina yang terkepung itu, di mana blokade dan aksi militer Israel terus menghancurkan populasi. (liputan6.com, 06/04/2025).

Kisah-kisah pilu anak-anak Gaza adalah bukti nyata kebiadaban zionis. Bahkan di hari raya yang seharusnya diisi dengan suka cita, mereka dipaksa menelan derita kehilangan orang tua dan keluarga di tengah kebisuan dunia. Anak-anak tak berdosa ini menjadi korban pembantaian nyata di depan mata kita. dan sayangnya dunia hanya diam, seolah bisu, tuli, dan buta menyaksikannya. Bukankah sangat menakutkan ketika kelak anak-anak ini akan meminta pertanggung jawaban kita. Apa jawaban kita ketika Allah menanyakannya?

Semua fakta ini terjadi di tengah narasi soal HAM dan tetek bengek aturan internasional serta perangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak.  Nyatanya aturan-aturan tersebut tak mampu menghentikan apalagi mencegah penderitaan anak-anak Palestina. Adanya sekat-sekat nasionalisme yang diberlakukan penguasa juga menjadi tembok penghalang yang kejam. Sungguh sekat-sekat kebangsaan inilah yang memisahkan umat muslim dari saudaranya seiman.

Semua ini semestinya menyadarkan umat bahwa tidak ada yang bisa mereka harapkan dari lembaga-lembaga internasional dan semua aturan yang dilahirkannya. Masa depan Gaza/Palestina ada pada tangan mereka sendiri, yakni pada kepemimpinan politik Islam atau khilafah yang semestinya sungguh-sungguh mereka perjuangkan. Dengan persatuan umat Islam seluruh dunia di bawah naungan khilafah akan mampu membebaskan Palestina. Hanya dengan jihad memerangi zionis, genosida mampu dihentikan.

Khilafah berfungsi sebagai rain dan junnah. Sebagai pelindung, khilafah tidak akan pernah membiarkan kezaliman menimpa rakyatnya. Khilafah terbukti selama belasan abad berhasil menjadi benteng pelindung yang aman, dan memberikan support system terbaik bagi tumbuh kembang anak sehingga mereka bisa menjadi generasi cemerlang pembangun peradaban emas dari masa ke masa. 

Setiap muslim wajib terlibat dalam memperjuangkan kembalinya khilafah agar mereka punya hujjah bahwa mereka tidak diam berpangku tangan melihat anak-anak Gaza dan orang tua mereka dibantai oleh zionis dan sekutu-sekutunya. Persoalan anak-anak Gaza akan selesai ketika persoalan Palestina juga terselesaikan secara tuntas. Dan solusi tuntas hanya dapat terwujud dengan jihad dan khilafah.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak