Ramadan, Maksiat tetap Jalan?



Oleh : Azaera. A (Pelajar Kota Bogor)




Bulan Ramadhan, bulan suci yang tak asing lagi dari kehidupan kaum muslimin di manapun ia berada. Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keistimewaan. Di dalamnya terdapat pahala berkali-kali lipat untuk setiap amal sholih yang dikerjakan. 

Momentum yang hanya bisa dijumpai satu tahun sekali ini, harusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh kaum muslimin untuk memperbanyak amal. Sehingga bisa menjadi tabungan di bulan-bulan setelahnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan Pemerintah biasa menerbitkan surat larangan buka untuk beberapa tempat hiburan. Minimal perubahan jam operasional. Begitupun dengan berbagai peredaran barang-barang yang berbau kemaksiatan semisal miras dan narkoba. Termasuk tindak tegas bagi pihak-pihak yang melanggar pun telah disiapkan.

Hal tersebut nyatanya tidak kita jumpai pada Ramadhan ini. Banyak tempat hiburan maupun restoran besar yang tidak mengubah jam operasionalnya, seakan tidak sedang berada di bulan Ramadhan. Tempat hiburan justru ramai pengunjung, ternyata masih banyak masyarakat yang melakukan kemaksiatan di bulan ini.

Ramadhan tanpa perisai benar-benar terasa saat ini. Berbagai maksiat tidak hilang atau bahkan berkurang sama sekali, meski mayoritas penduduk beragama Islam. Sebab Pemerintahnya enggan untuk bertindak menghargai atau sekedar menjaga kesucian bulan ini. Apalagi bergerak untuk membersamai rakyat dalam menjalankan berbagai ibadah dan kegiatan Ramadhan lainnya. Dengan dalih toleransi, mereka justru merubah aturan yang sudah ada porsinya sedari dulu.

Apa yang salah dari Ramadhan tahun ini? Apakah penentuan tanggalnya terlalu maju sehingga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya? Jawabannya bukan. Minimnya pemahaman warga tentang keistimewaan bulan Ramadhan dan mengakarnya sistem sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan.

Sistem sekuler ini telah membuat umat dan negara lalai menjaga kesucian bulan Ramadhan. Pemerintah saat ini hanya sibuk mencari untung dan validasi, tanpa berpikir untuk menjaga dan membersamai rakyat dalam menjalankan ibadahnya di bulan suci. 

Hal yang miris mengingat negara seharusnya bisa menjadi pelindung umat dalam berbagai kondisinya. Kemaksiatan yang merajalela pun akan sangat memungkinkan untuk diberantaskan secara tuntas oleh pihak negara.

Layaknya Daulah Khilafah pada masa kejayaan Islam, yang secara menyeluruh menerapkan syariat-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, pelaku maksiat akan mendapat sanksi yang membuatnya jera, berdasarkan sumber terpercaya yakni Al-Qur'an dan Sunnah.

Alhasil, adalah hal yang mustahil melihat kemaksiatan di bulan ini. Pasalnya aktivitas-aktivitas tersebut telah diberantas di bulan-bulan sebelumnya bahkan. Dengan kondisi tersebut, bulan Ramadhan pun pasti akan terasa sekali suasana syahdu nan indahnya.

Wallahu A'lam bis Shawwab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak