Ramadan dalam Sekularisme: Kemaksiatan Tetap Berjalan, Syariat Dikesampingkan


Oleh: Nettyhera


Ramadan seharusnya menjadi bulan penuh berkah, di mana umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Alih-alih menutup total tempat hiburan malam, pemerintah hanya membatasi jam operasionalnya. Bahkan, di beberapa daerah, tempat hiburan tetap beroperasi tanpa larangan khusus selama Ramadan.

Kondisi ini mencerminkan wajah asli sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan hari ini. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan telah melahirkan kebijakan yang lebih mengutamakan keuntungan ekonomi dibandingkan ketaatan kepada syariat Islam. Ramadan yang seharusnya dihormati dengan menjauhkan diri dari maksiat justru dijadikan momen bagi industri hiburan untuk tetap meraup keuntungan, meski dengan sedikit pembatasan operasional.


Kapitalisme Sekuler: Biang Kerok Suburnya Kemaksiatan

Dalam sistem kapitalisme sekuler, segala sesuatu diatur berdasarkan asas manfaat. Jika sebuah kebijakan menguntungkan secara ekonomi, maka akan diterapkan, meskipun bertentangan dengan aturan agama. Tidak heran jika tempat hiburan malam, yang jelas menjadi sarang kemaksiatan, tetap diperbolehkan beroperasi selama Ramadan.

Penguasa yang seharusnya bertanggung jawab menjaga kesucian bulan Ramadan justru tunduk pada kepentingan bisnis hiburan. Mereka tidak memiliki keberanian untuk menutup total tempat-tempat maksiat karena takut kehilangan pemasukan ekonomi atau tekanan dari para pemilik modal. Ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diterapkan bukan berdasarkan ketaatan kepada Allah, melainkan kepentingan duniawi semata.

Selain itu, maraknya tempat hiburan malam juga menunjukkan gagalnya sistem pendidikan sekuler dalam mencetak generasi yang bertakwa. Pendidikan hari ini hanya berfokus pada aspek intelektual dan keterampilan duniawi, tetapi gagal membangun kesadaran agama dan akhlak mulia. Akibatnya, banyak orang yang menganggap hiburan malam sebagai sesuatu yang wajar, bahkan di bulan suci Ramadan.


Islam: Solusi Tuntas Menghapus Kemaksiatan

Berbeda dengan sistem sekuler yang membiarkan kemaksiatan tetap berjalan, Islam memiliki mekanisme tegas dalam memberantas segala bentuk kemungkaran.

1. Penerapan Syariat Islam Secara Kaffah
Dalam Islam, aturan tidak didasarkan pada asas manfaat, tetapi pada hukum syarak. Semua bentuk hiburan yang mengandung kemaksiatan, seperti tempat hiburan malam, minuman keras, dan prostitusi, akan dilarang tanpa kompromi.

2. Sanksi yang Tegas dan Menjerakan
Dalam Islam, kemaksiatan tidak hanya dipandang sebagai perbuatan dosa secara individu, tetapi juga sebagai pelanggaran hukum yang harus mendapat sanksi tegas. Negara akan menerapkan sistem hukum Islam yang adil dan menjerakan, sehingga kemaksiatan tidak akan bisa tumbuh subur seperti dalam sistem sekuler.

3. Pendidikan Islam yang Melahirkan Generasi Bertakwa
Sistem pendidikan Islam tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketakwaan yang kuat. Sejak kecil, individu dibentuk untuk memahami halal-haram, sehingga mereka akan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam dunia usaha.

4. Kontrol Sosial yang Kuat
Dalam Islam, masyarakat juga memiliki peran aktif dalam mencegah kemaksiatan melalui prinsip amar makruf nahi mungkar. Setiap individu merasa bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan dari perilaku maksiat, sehingga tidak ada pembiaran terhadap pelanggaran syariat. 


Saatnya Meninggalkan Sekularisme dan Kembali kepada Islam

Ramadan tanpa junnah (perisai) telah membuktikan bahwa sistem yang diterapkan saat ini tidak mampu melindungi umat dari kemaksiatan. Selama sekularisme dan kapitalisme masih menjadi landasan kebijakan, maka kemaksiatan akan terus berlangsung, bahkan di bulan suci Ramadan.

Sudah saatnya umat Islam sadar bahwa solusi sejati bukanlah dengan sekadar membatasi operasional tempat hiburan, tetapi dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah. Hanya dengan sistem Islam, kemaksiatan bisa diberantas tuntas, dan Ramadan benar-benar menjadi bulan suci yang penuh berkah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak